Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pemanggul Harta Ghulul di Akhirat

Setiap harta yang mereka peroleh dengan cara memanfaatkan jabatan, kekuasaan atau status kepegawaiannya, baik harta itu berasal dari harta negara maupun individu maka harta tersebut dianggap Ghulul (curang), perolehan yang diharamkan dan harta yang bukan miliknya. Karena diperoleh dengan cara yang tidak syar'iy.

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih | Institut Literasi dan Peradaban

Jika kita membaca kitab Sistem Keuangan Negara Khilafah karya Syekh Abdul Qodir Zallum, halaman 134 ( terjemah) dan halaman 106 untuk yang berbahasa Arab, terdapat bab yang berjudul "Harta Tidak Sah Dari Para Penguasa Dan Pegawai Negara, Harta Hasil Usaha Yang Terlarang dan Denda". Sungguh ini sebuah kebetulan yang indah, sebab kita tak perlu lagi susah-susah mencari fakta yang mampu menggambarkan maksud judul itu.

Secara jelas, kita melihat berapa pejabat negara hari ini melakukan tindakan haram sebagaimana judul di atas. Bahkan yang tak tahu malu, kasus korupsi dana bansos untuk korban terdampak Covid-19 yang dilakukan oleh menteri Sosial Juliadi Batubara.

Kasus suap ini diawali adanya pengadaan bansos penanganan Covid-19 berupa paket sembako untuk warga miskin dengan nilai sekitar Rp 5,9 triliun dengan total 272 kontrak dan dilaksanakan dengan dua periode. Perusahaan rekanan yang jadi vendor pengadaan bansos diduga menyuap pejabat Kementerian Sosial lewat skema fee Rp 10.000 dari setiap paket sembako yang nilainya Rp 300.000 (Kompas.com, 7/12/2020).

Kasus korupsi yang menggurita, menyasar semua aspek dan jabatan. Sebegitu buruknya aklak bangsa ini hingga memiliki pejabat yang korup dan tak berhati nurani?

Dalam penjelasan kitab , yang dimaksud dengan harta Ghulul adalah harta yang diperoleh dari para pejabat baik gubernur, walikota, bupati dan para pegawai negara dengan cara yang tidak syar'iy. Baik mereka peroleh dari harta (milik) negara maupun dari harta (milik) masyarakat. Mereka tidak boleh mengambil harta-harta seperti itu, kecuali pengganti santunan dan gaji.

Setiap harta yang mereka peroleh dengan cara memanfaatkan jabatan, kekuasaan atau status kepegawaiannya, baik harta itu berasal dari harta negara maupun individu maka harta tersebut dianggap Ghulul (curang), perolehan yang diharamkan dan harta yang bukan miliknya. Karena diperoleh dengan cara yang tidak syar'iy.

Mereka wajib mengembalikan harta itu kepada pemiliknya, jika diketahui. Dan jika tidak, maka harta itu disita dan diserahkan ke Baitul mal kaum Muslim. Allah berfirman :

"Barang siapa berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya" (QS Ali Imran 3: 161).

Mengapa hari ini sedemikan marak pejabat yang memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri dan mengabaikan rakyat, padahal harta mereka terkatagori Ghulul yang kelak akan mereka bawa diatas pundak mereka ketika berjalan di Padang Masyhar. Padahal tidak membawa dosapun masa itu adalah masa tersulit bagi setiap manusia.

Dari Abi Mas' UD ia berkata bahwa Rasulullah pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat. Beliau bersabda:

"Wahai Abu Mas'ud, berangkatlah, semoga pada hari kiamat kelak aku tidak akan mendapatimu datang dalam keadaan punggungmu memikul seekor unta shadaqah yang meringkik-ringkik yang engkau curangi. Aku menjawab,"Jika demikian aku tidak jadi berangkat!" Beliau menjawab,"Aku tidak memaksamu". (HR. Abu Daud).

Pilihan Abu Mas'ud untuk menolak penugasannya sebagai petugas pengambil zakat menunjukkan betapa pekerjaannya sangat dekat dengan neraka. Meskipun ia belum bisa melihat bagaimana wujud neraka secara real di depan mata, namun mata batinnya telah memastikan dengan penuh keimanan bahwa itu tidak menyenangkan. Dan bukan yang ia mau ketika kelak menikmati kehidupan kedua setelah mati dan seluruh dunia dan alam semesta dimusnahkan.

Macam-macam cara memperoleh harta tidak syar'iy diantaranya suap, hadiah atau hibah, harta kekayaan yang diperoleh dengan sewenang-wenang dan dengan tekanan kekuasaan, hasil makelaran dan komisi, korupsi dan denda.

Maraknya praktik-praktik tidak syar'iy secara pasti akar persoalannya karena Islam sebagai pedoman dan solusi hidup ditiadakan. Diganti dengan hukum hasil modifikasi manusia. Dan secara alamiah menunjukkan kelemahannya. Alih-alih mewujudkan kesejahteraan malah hidup manusia jadi permainan sekelompok orang yang kebetulan diberi rezeki berupa amanah kekuasaan.

Terlebih hukum yang seharusnya menjadikan jera perbuatan korupsi dan lain-lain menjadi permainan aparat dan pejabat. Kita bisa melihat kasus terbaru ketika menghukumi kerumunan manusia pada acara ulama dengan pencoblosan atau kampanye. Polisi dengan tegas dan jelas mengatakan keduanya adalah peristiwa yang berbeda. Mereka yang nyata telah melalukan Ghulul masih bisa menikmati kenyamanan hidup dengan cara membeli hukum, sementara rakyat yang ia khianati masih sengsara.

Keserakahan manusia yang sebetulnya adalah sifat asli diumbar bahkan dijamin undang-undang. Inilah hasil sekularisme yang melahirkan sistem lebih keji lagi yaitu kapitalisme. Tanpa ada pengendali ketakwaan, jelas meniadakan perasaan senantiasa diawasi oleh Allah SWT.

Kebobrokan ini sistemik, kasus Ghulul tak akan pernah berkurang sekalipun KPK atau siapapun secara optimal mengupayakan penghilangannya, kejahatan ketika terstruktur maka akan sulit diberantas. Sebab setiap orang akan saling membantu sebagaimana firman Allah SWT :

"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar". (QS Al Anfal :73).

Dari ayat di atas jelaslah, satu-satunya penghancur kebengisan kapitalisme yang sedang dikerjakan bahkan dipertahankan kaum kafir itu hanyalah Islam. Dengan ukhuwahnya, dengan persatuannya, dengan pemikiran dan perasaannya untuk secara bersama-sama menetapkan satu hukum yaitu syariat Allah yang mulia. Sistem kufur yang hanya menghasilkan kesenggsaraan dan kehinaan dunia akhirat ini akan benar-benar sirna dengan munculnya kesadaran kaum Muslim betapa Islam sajalah yang layak dia pegang erat.

Allah SWT berfirman :

''Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'' (QS Al-Israa’ [17] :88).

Maka, masihkah ada keraguan di dalamnya. Konspirasi busuk ini harus segera diakhir. Membuat satu surat yang sama saja tak mampu apatah lagi hendak membuat hukum menggantikan apa yang telah ditetapkan Allah kemudian mengharap keadilan terwujud begitu saja adalah hal yang sia-sia. Wallahu a' lam bish showab.

Post a Comment for "Pemanggul Harta Ghulul di Akhirat"