Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengakhiri Derita Perempuan, Dengan Terapkan Syariat Islam

Fenomena perempuan bekerja bukanlah hal yang asing. Mereka yang memilih bekerja umumnya dikarenakan kebutuhan. Pada fitrahnya, perempuan lebih senang di rumah, menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu. Namun dikarenakan kondisi ekonomi yang sulit, akhirnya terpaksa harus bekerja.

Oleh: N. Vera Khairunnisa

Fenomena perempuan bekerja bukanlah hal yang asing. Mereka yang memilih bekerja umumnya dikarenakan kebutuhan. Pada fitrahnya, perempuan lebih senang di rumah, menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu. Namun dikarenakan kondisi ekonomi yang sulit, akhirnya terpaksa harus bekerja.

Pada kenyataannya, dunia pekerjaan tidaklah mudah. Banyak dari perempuan yang menjadi korban ketidakadilah. Salah satunya yang menimpa kaum pekerja wanita di sebuah perusahaan di Indonesia.

Perusahaan tersebut dituding telah membiarkan para pekerja perempuan yang hamil tetap melakukan lembur atau kerja malam. Hingga mengakibatkan mereka keguguran.

Ada juga yang tetap diharuskan melakukan pekerjaan berat, padahal dia sudah memberikan keterangan memiliki riwayat penyakit endometriosis . Akibatnya, dia pun mengalami pendarahan hebat dan terpaksa melakukan operasi kuret yang berarti jaringan dari dalam rahimnya diangkat.

Astaghfirullah... sungguh miris nasib perempuan kini. Padahal, dari rahim merekalah lahir generasi penerus. Namun, mengapa begitu berat penderitaannya? Tidak cukupkah para perempuan itu hanya menahan lelahnya hamil, melahirkan, merawat dan mendidik anak-anak?Mengapa harus ditambah dengan lelahnya menderita di saat bekerja?

Menurut pengamat buruh dan gender, praktik penindasan hak buruh perempuan merupakan akibat dari pelanggengan budaya patriarki di sektor ketenagakerjaan di Indonesia

Data Organisasi Buruh Internasional atau ILO pada 2018 menunjukkan bahwa hanya setengah dari populasi perempuan Indonesia yang memiliki pekerjaan dan jumlahnya tidak pernah bertambah. Sedangkan pada laki-laki, tingkat ketenagakerjaan mencapai hampir 80% populasi. (theconversation. com, 18/03/20)

Itulah pandangam dari para pengusung kesetaraan gender. Mereka menilai bahwa untuk memperbaiki permasalahan perempuan, harus dengan menyamakan hak antara laki-laki dan perempuan. Benarkah hal demikian?

Mengurai Masalah

Menyelesaikan masalah dengan perspektif kesetaraan gender tidaklah tepat. Alih-alih selesai, justru malah akan menjerumuskan para perempuan ke dalam penderitaan yang semakin tak ada ujung.

Untuk mencari solusi, maka yang harus dicari terlebih dahulu adalah yang menjadi penyebab. Namun, tentu penyebabnya harus yang paling mendasar. Agar ditemukan solusi mendasar pula.

Jika kita cermati kondisi perempuan hari ini, memang miris. Mereka diposisikan seperti mesin penggerak ekonomi. Untuk meraih kesejahteraan, mereka harus memperjuangkannya sendiri.

Gelar perempuan sukses dan berprestasi pun akan diberikan pada mereka yang mampu menjalankan dua tugas sekaligus. Sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita karir. Padahal, ini hanyalah tipuan.

Menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga tidaklah mudah. Pekerjaan mereka sangat banyak dan berat. Ditambah harus bekerja di luar dengan beban yang tidak kalah berat. Belum lagi jika di tempat kerja mereka harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi, bahkan hingga pelecehan seksual pun tidak jarang terjadi. Inilah derita perempuan kini.

Penderitaan perempuan yang berlarut-larut ini bukan hanya terjadi di satu tempat atau di satu perusahaan saja. Namun merata ada di seluruh negeri. Maka seharusnya kita menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan aturan atau sistem di negeri ini.

Sistem demokrasi yang diagung-agungkan sebagai sistem pilihan terbaik telah begitu jelas menampakkan kebobrokannya. Kesombongan manusia yang nekad membuat aturan dengan akalnya yang terbatas telah melahirkan kesengsaraan demi kesengsaraan.

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi dalam demokrasi tidak mampu menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi para ibu. Keserakahan para pemilik modal justru menjadi penyebab lahirnya berbagai derita ibu.

Para pemegang kekuasaan hari ini pun seolah menutup mata dari berbagai fakta. Sebab dalam sistem demokrasi, keberadaan penguasa hanyalah sebagai regulator. Seringkali, mereka membuat aturan yang lebih menguntungkan para pengusaha dari pada rakyat.

Mencari Solusi Hakiki

Setelah kita tahu bahwa penderitaan perempuan atau para ibu hari ini disebabkan penerapan sistem yang salah, yakni demokrasi kapitalisme. Maka tentu kita bertanya, sistem apa yang layak untuk menggantikan sistem tersebut?

Marilah kita tengok sebuah sistem yang diturukan oleh Zat yang telah menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Sebuah sistem sempurna dan telah terbukti mampu menjamim kemuliaan dan kesejahteraan bagi para ibu. Itulah sistem Islam.

Dalam Islam, perempuan ditempatkan dalam kedudukan yang sangat mulia. Mereka bukanlah penggerak ekonomi, namun sebagai pencetak generasi. Perempuan tidak didorong untuk bekerja di sektor publik. Sebab agar mereka mampu mengoptimalkan peran dan fungsi utamanya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga (ummun wa rabbatul bait).

Hukum perempuan bekerja dalam Islam bukan sunah, apalagi wajib. Namun mubah, artinya boleh. Dengan catatan; pertama, pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan yang dibolehkan oleh syariah. Kedua, tidak melalaikan kewajiban utamanya sebagai ummun wa rabbatul bait.

Meski tidak bekerja, bukan berarti para perempuan tidak mampu sejahtera. Sebab dalam Islam, para perempuan wajib diberikan nafkah oleh laki-laki. Baik ayahnya, suaminya, ataupun anaknya. Atau siapa saja laki-laki dari keluarganya yang wajib menanggung nafkahnya.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” [TQS. al-Baqarah:233].

Jika tidak memiliki keluarga, atau ada namun keluarga tersebut tidak mampu menanggung nafkahnya, maka Islam pun memiliki solusi yang rinci. Sehingga perempuan tetap dijamin sejahtera, tanpa harus bekerja. Rinciannya sebagai berikut:

Pertama, kewajiban nafkah beralih ke kerabat atau tetangga. Rasulullah saw. bersabda: "Tidak beriman kepada-Ku seorang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangga sebelahnya lapar dan dia mengetahui” (HR. al Bazzar dan Thabarani)

Kedua, jika tidak ada kerabat atau tetangga yang mampu menanggung pula, maka kewajiban itu beralih pada negara. Harta tersebut diambil dari kas baitulmal. Sabda Rasulullah saw.:

"Barang siapa meninggalkan harta (kekayaan), maka (harta itu) untuk ahli warisnya, dan barang siapa meninggalkan keluarga (miskin yg tak mampu), maka itu menjadi tanggunganku kepadaku” (H.R. Bukhari).

Ketiga, jika negara tidak mempunyai kas lagi untuk menanggung, maka kewajiban ini kembali beralih ke umat Islam yang mempunyai kelebihan harta. Berkata Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya, Al-Muhalla (4/281)

“Orang-orang kaya di tempatnya masing-masing mempunyai kewajiban menolong orang-orang fakir dan miskin, dan pemerintah pada saat itu berhak memaksa orang-orang kaya (untuk menolong fakir-miskin)."

Teladan Kepemimpinan

Semua konsep di atas terbukti pernah diterapkan dalam kekhilafahan Islam yang pernah berjaya selama berabad-abad lamanya. Sebagai contoh, perhatian dan tanggung jawab pemimpin dalam menjamin kebutuhan para ibu bisa kita saksikan pada masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab.

Kisah ini cukup populer. Yakni ketika suatu malam Umar mengajak asistenya Aslam melakukan ronda keliling kota. Memastikan kondisi rakyatnya. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan Umar. Pada malam itu, Umar mendengar suara anak-anak yang menangis dari sebuah pondok.

Singkat cerita, Umar mengetahui bahwa anak-anak tersebut menangis dikarenakan kelaparan. Sedangkan sang ibu memasak air dan batu, agar anak mereka tenang dan tertidur. Teriris hati Umar menyaksikan kondisi tersebut.

Tanpa menunda lagi, Umar bin Khattab kemudian segera ke Baitul Mal dan mengambil bahan makanan yang diperlukan ibu dan anak-anaknya. Ketika Aslam meminta agar Umar menunda agar melakukan pekerjaan tersebut. Umar berkata, "apakah kamu menjamin bahwa besok aku masih hidup?"

Ketika Aslam menawarkan bantuan agar ia yang membawa gandum itu, dengan nada keras, Umar menjawab, “Aslam, jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau bisa menggantikanku mengangkat karung gandum ini, tetapi apakah kau mau memikul beban di pundakku ini kelak di Hari Pembalasan?”

Luar biasa teladan kepemimpinan dalam negara yang menerapkan sistem Islam. Mereka tidak rela membiarkan rakyatnya menderita, termasuk para ibu. Sebab mereka yakin bahwa kepemimpinan mereka akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka."

Tidakkah kita merindukan sebuah sistem Islam diterapkan? Mari terus menambah ilmu tentang Islam. Kita pun mendakwahkan apa yang sudah kita pahami kepada yang lainnya. Semoga kerinduan terhadap tegaknya sistem Islam bukan hanya milik kita, namun menjadi milik semua.

Wallahua'lam

Post a Comment for "Mengakhiri Derita Perempuan, Dengan Terapkan Syariat Islam"