Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kedustaan Demokrasi Dulu, Kini, dan Nanti

Perlu kita ketahui! Bahwa data-data biaya Pasangan Calon Pilkada hari ini terindikasi dibiayai oleh para Cukong. Sebagaimana informasi tersebut bisa kita akses di CNN Indonesia. Saya kutip bahwa, Mahfud MD sebut 92 persen Calon Kepala Daerah dibiayai Cukong. “Dimana-mana Calon-calon itu 92 persen dibiayai oleh Cukong dan sesudah terpilih, itu melahirkan korupsi kebijakan.” Kata Mahfud MD saat menjadi pembicara dalam diskusi bertemakan Memastikan Pilkada Sehat (11/09/20). Diinformasi lain juga bisa kita akses dalam websitenya detiknews.com, diwebsite tersebut mengunggah artikul berjudul “KPK Ungkap Kajian 82% Calon Pilkada Dibiayai Sponsor, Mahfud Singgung Cukong”. Sebagaimana dikutipkan dalam website tersebut bahwa, “Sampai laporan Pak Ryas Rasyid, kalau bercerita itu sebagai penggagas otonomi daerah diera Reformasi, didaerah Dia itu, di Sumatra selatan itu, katanya, kalau menjelang Pilkada, rakyat itu ndak tidur sampai pagi, lampunya hidup, apa? Tunggu serangan fajar, tunggu amplop, sehingga itu (Pilkada langsung) dianggap merusak rakyat, belum lagi permainan Percukong. Seperti yang dikatakan mas Nurul Gufron, dimana Calon-calon itu 92 persen (82 persen, red) dibiayai oleh Cukong” papar Mahfud MD.

Oleh : Adam Ghazi (Mujahid pena yang merindukan kehidupan Islam)

صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡیࣱ فَهُمۡ لَا یَرۡجِعُونَ

Islam adalah agama yang sempurna sekaligus menjadi ideologi dalam hidup dan kehidupan pemeluknya. Tak terkecuali terutama dalam hal kepemerintahan, Islam juga memiliki sistem aturan sendiri yang khas dan baku. Oleh karenanya izinkan Al-Faqir sharing sedikit melalui tulisan ini, semoga mampu memberi kontribusi kebermanfaatan kepada Ummat mulia Muhammad. Tentu tidak menutup kemungkinan adanya salah dan khilaf dalam tulisan ini, dan denganya jikalaupun Pembaca menemukan hal itu, Al-Faqir mohon nasihat dan keberkenaan Pembaca untuk mau dengan ikhlas meluruskan Al-Faqir, baik melalui dengan tulisan ataupun langsung dengan tindakan.

Rasa syukur tak bosan-bosanya Al-Faqir ekpresikan melalui susunan aksara yang indah nun berkah, alhamdulillah. Tak lupa pula shalawat bertangkaikan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan Mulia dari Ummat Mulia pula, Beliaulah Sang Revolusioner dunia, Al-Musthafa Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallama. Doa-doa kebaikan pun Al-Faqir hamburkan dari bibir yang masih banyak berlumur dosa ini untuk Para Sahabat Mulia Al-Musthafa Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallama yang senantiasa bersedia dan setia menuruskan estafet perjuangan Sang Revolusioner dunia dalam membebaskan penghambaan manusia terhadap Thaghut-thaghut berjubah manusia menuju penghambaan kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala semata. Dan semoga Kita sebagai pecintanya mau dan mampu meneruskan estafet mulia itu, yang nantinya kita harapkan wasilah denganya mampu mendapatkan syafa’at dari Sang Revolusioner Mulia, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallama di yaumul akhir nantinya.

Perlu kita ketahui! Bahwa data-data biaya Pasangan Calon Pilkada hari ini terindikasi dibiayai oleh para Cukong. Sebagaimana informasi tersebut bisa kita akses di CNN Indonesia. Saya kutip bahwa, Mahfud MD sebut 92 persen Calon Kepala Daerah dibiayai Cukong. “Dimana-mana Calon-calon itu 92 persen dibiayai oleh Cukong dan sesudah terpilih, itu melahirkan korupsi kebijakan.” Kata Mahfud MD saat menjadi pembicara dalam diskusi bertemakan Memastikan Pilkada Sehat (11/09/20). Diinformasi lain juga bisa kita akses dalam websitenya detiknews.com, diwebsite tersebut mengunggah artikul berjudul “KPK Ungkap Kajian 82% Calon Pilkada Dibiayai Sponsor, Mahfud Singgung Cukong”. Sebagaimana dikutipkan dalam website tersebut bahwa, “Sampai laporan Pak Ryas Rasyid, kalau bercerita itu sebagai penggagas otonomi daerah diera Reformasi, didaerah Dia itu, di Sumatra selatan itu, katanya, kalau menjelang Pilkada, rakyat itu ndak tidur sampai pagi, lampunya hidup, apa? Tunggu serangan fajar, tunggu amplop, sehingga itu (Pilkada langsung) dianggap merusak rakyat, belum lagi permainan Percukong. Seperti yang dikatakan mas Nurul Gufron, dimana Calon-calon itu 92 persen (82 persen, red) dibiayai oleh Cukong” papar Mahfud MD.

Selain itu, sepatutnya kita juga perlu mengetahui seberapa besar nominal yang dianggarkan untuk Pilkada tahun ini. Dalam Konferensi Pers APBN, menurut Sri Mulyani, anggaran Pilkada tahun ini mencapai 20.46 T. Dan kenaikan anggaran Pilkada tahun ini sebagai tambahan anggaran protokol kesehatan Covid-19 (22/9/20).

Belum juga kita melihat kebijakan Pilkada tahun ini terkesan ada unsur paksaan dalam penyelenggaraanya. Kita telah mengetahui bersama, bahwa Pilkada tahun ini bertepatan dengan musibah Pandemi Covid-19. Tentu hal ini secara otomatis telah melukai hati para rakyat. Dimana, sebelumnya Pemerintah telah memberikan peringatan keras untuk ikuti anjuran protokol kesehatan Covid-19. Tetapi nyata-nyatanya Pemerintah sendiri melanggarnya, dan indikatornya adalah ngototnya Pemerintah hari ini untuk tetap melaksanakan Pilkada ditengah Pandemi dengan alibi patuhi protokol kesehatan, tetapi seperti apa dan bagaimana pelaksananya Saya kira kita semua mampu menilainya. Padahal sebagian besar rakyat Indonesia bahkan hampir seluruhnya sepakat menolak untuk ditundanya Pilkada tahun ini. Secara bersamaan kelamin Demokrasi saat ini telah dan sedang dikebiri. Dan wajar saja, bilamana rakyat akan beranggapan bahwa Demokrasi hanyalah ilusi. Dulu, kini, hingga nanti Demokrasi akan tetap sama. Sama-sama alat pengingkar janji, pupuk subur tanaman korupsi, dan menjadi sarang para Elit Politik Ologarki.

Kekhawatiran rakyat hari ini sudah sewajarnya terjadi, sebab dengan data-data yang ada pada hari ini menunjukan bahwa ancaman virus Covid-19 terus melunjak diberbagai daerah. Hingga data yang ada pada saat ini, jumlah yang terinveksi virus Covid-19 mencapai 333.716 dengan jumlah kesembuhan 258.519 orang, sedangkan dengan pasien meninggal menembus angka 11.932 orang (merdeka.com). Dengan fakta atas ketidakbecusan Pemerintah hari ini dalam menghadapi wabah virus Covid-19 sejatinya telah menunjukan kepada kita, secara riil sistem Demokrasi telah gagal dalam mengatur hidup dan kehidupan manusia. Begitu juga Kita sebagai warga negara yang baik dan tuduk serta patuh total dengan agama dan ajaran Al-Musthafa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallama patut bertanya, sebenarnya untuk siapa Pilkada yang terkesan dipaksakan ini?

Sejenak coba kita rehat dari fakta-fakta dan data-data memprihatinkan diatas, mari kita flashback sebentar, menengok spion belakang. Fakta-fakta dan data-data sejarah mengindikatorkan bahwa sistem Demokrasi adalah pupuk yang sangat bagus dalam kesuburan korupsi. Berapa banyak kali korupsi yang telah terjadi dan sedang beraksi dibumi Pertiwi? Akankah Demokrasi sudah memberi solusi untuk mengatasi badai korupsi ini?

Memang fakta-fakta manisnya janji Demokrasi tak bisa kita pungkiri. Janji ini itu, begini dan begitu, ujung-ujungnya diingkari. Dan itu semua memahamkan kepada kita sebuah arti Demokrasi, bahwa sesungguhnya Demokrasi tidak pernah dan tidak akan pernah terealisasi. Ia hanyalah ilusi!

Sebenarnya kalau saja kita mau jujur dengan diri dan hati kita, sesungguhnya Demokrasi sangat jelas bertentangan dengan Islam dan akidah keyakinan orang Islam itu sendiri, yakni tauhid. Coba kita renungkan baik-baik kalimat “Laa ILLaaha ILLa Allaah”, tiada Tuhan selain Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, menunjukan makna bahwa dimanapun dan kapanpun kita berada, sepenuhnya hanya tunduk dan patuh terhadap Allah. Termasuk dalam pembuatan hukum. Tetapi nyata-nyata dalam Demokrasi Allah dicampakan, alias disekutukan. Disekutukan dengan apa? Tentu dengan pembuatan hukum manusia dan dengan manusia yang membuat hukum itu sendiri. Padahal jelas Allah lah yang satu-satunya berhak membuat hukum, dan itu hanyalah hak Allah bukan hak manusia. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat ke 40 berikut ini.

مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦۤ إِلَّاۤ أَسۡمَاۤءࣰ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَـٰنٍۚ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُۚ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلدِّینُ ٱلۡقَیِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ

“Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Jelas dalam ayat diatas telah disebutkan bahwa keputusan itu hanyalah milik Allah. Yang dimana dapat kita pahami bahwa dalam sistem Demokrasi manusia dituntut untuk menjadikan Allah sebagai Tuhan dilangit tapi tidak untuk Tuhan dibumi, naudzubillah. Oleh sebab itu mari kita renungi dan hayati beberapa ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini.

وَلۡیَحۡكُمۡ أَهۡلُ ٱلۡإِنجِیلِ بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فِیهِۚ وَمَن لَّمۡ یَحۡكُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ

“Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik.”

وَأَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَمُهَیۡمِنًا عَلَیۡهِۖ فَٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ لِكُلࣲّ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةࣰ وَمِنۡهَاجࣰاۚ وَلَوۡ شَاۤءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ وَلَـٰكِن لِّیَبۡلُوَكُمۡ فِی مَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُوا۟ ٱلۡخَیۡرَ ٰ⁠تِۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِیعࣰا فَیُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِیهِ تَخۡتَلِفُونَ

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan,” [Surat Al-Ma'idah 48]

وَأَنِ ٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن یَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَیۡكَۖ فَإِن تَوَلَّوۡا۟ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا یُرِیدُ ٱللَّهُ أَن یُصِیبَهُم بِبَعۡضِ ذُنُوبِهِمۡۗ وَإِنَّ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَـٰسِقُونَ

“dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” [Surat Al-Ma'idah 49]

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَـٰهِلِیَّةِ یَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمࣰا لِّقَوۡمࣲ یُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” [Surat Al-Ma'idah 50]

Sangat jelas dan lugas, bahwa Allah telah menyuruh manusia dalam firman-Nya untuk selalu memutuskan perkara apa saja dengan apa yang telah Allah turunkan, yakni Al-Qur’an Al-Karim. Pertanyaan selanjutnya apakah saat ini negeri-negeri Muslim diseluruh dunia, terkhusus di Indonesia, telah memutuskan segala perkara dengan apa yang Allah turunkan? Apakah hukum-hukum hari ini mereka pakai hukum Allah?. Kemudian dalam surah Al-Ma’idah ayat 50 itu, Saya memahami seolah-olah Allah mengajarkan kita untuk berpikir. Dan tentunya, bukan tanpa sebab Allah mengatakan seperti itu.

Kengerian lainya lagi bisa kita jumpai dalam beberapa hadis-hadis Nabi, seperti salah satu contohnya ada dalam hadis shahih ini. Sebagaimana yang telah imam Muslim riwayatkan dalam shahihnya no:4899, Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro (8/156), Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubro no:144, dan Abu ‘Uwanah no:7153 berikut ini.

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah, dan barang siapa mati sedang dipundaknya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti mati jahiliyyah."

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan kalimat مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَة لَقِيَ اللَّه تَعَالَى يَوْم الْقِيَامة لَا حُجَّة لَهُ “Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah.” Beliau menuliskan, يْ : لَا حُجَّة لَهُ فِي فِعْله ، وَلَا عُذْر لَهُ يَنْفَعهُ . “Yakni: tidak ada alasan baginya dalam perbuatannya (melepaskan ketaatan dari penguasa), dan tidak ada ‘udzur (dalih) yang memberi manfaat kepadanya (yakni dalih untuk menyelamatkan dia pada hari kiamat).”

Kemudian dipenggalan hadis berikutnya yang berbunyi, وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “dan barang siapa mati sedang dipundaknya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti mati jahiliyyah”. Berkaitan dengan hadits bunyi hadist itu al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany (wafat 852 H) dalam Fathul Bary mengatakan:

وَالْمُرَاد بِالْمِيتَةِ الْجَاهِلِيَّة وَهِيَ بِكَسْرِ الْمِيم حَالَة الْمَوْت كَمَوْتِ أَهْل الْجَاهِلِيَّة عَلَى ضَلَال وَلَيْسَ لَهُ إِمَام مُطَاع ، لِأَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَعْرِفُونَ ذَلِكَ ، وَلَيْسَ الْمُرَاد أَنَّهُ يَمُوت كَافِرًا بَلْ يَمُوت عَاصِيًا

Yang dimaksud dengan al mîtah al jâhiliyyah – dengan mim dikasroh – (mati dalam keadaan jahiliyyah) adalah keadaan mati seperti matinya orang jahiliyyah yakni diatas kesesatan tidak punya imam yang ditaati karena sesungguhnya mereka dulu tidak tahu yang demikian. Bukanlah yang dimaksud ia mati kafir, bahkan (maksudnya) ia mati dalam keadaan maksiat…

Al-Hafidz kemudian melanjutkan:

وَيَحْتَمِل أَنْ يَكُون التَّشْبِيه عَلَى ظَاهِره وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يَمُوت مِثْل مَوْت الْجَاهِلِيّ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ هُوَ جَاهِلِيًّا

(Ungkapan al mîtah al jâhiliyyah) mengandung makna tasybîh (penyerupaan) atas dlohirnya, yang maknanya dia mati seperti mati jahiliyyah walaupun dia bukan orang jahiliyyah.

Semakna dengan penjelasan diatas adalah penjelasan tentang al mîtah al jâhiliyyah (mati dalam keadaan jahiliyyah) oleh al Hafidz As Suyuthi (wafat 911 H) dalam Syarh As Suyuthi ‘ala Muslim (4/459), dan As Sindi (wafat 1138 H) dalam Hâsyiyah As Sindi ‘ala an Nasa’i (7/123), juga Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (6/322).

Bayangkan saja bagaimana kondisi Kita jikalau mati dalam keadaan jahiliyah? Padahal nyata-nyata Kita adalah seorang Muslim, naudzubillah tsumma naudzubillah. Tasybih atau penyerupaan itu menunjukan kepada Kita, selaku Ummat Muhammad, bahwa sangat penting sekali adanya seorang Imam atau Khalifah ditengah-tengah kaum Muslimin saat ini, dan itu adalah merupakan kewajibang yang sangat agung. Keagungan diatas keagungan, dan wajib hukumnya Ummat Islam mengadakan seorang Imam ditengah-tengahnya tatkala Imam itu tidak ada, dengan catatan fikrah dan thariqahnya sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad. Dan faktanya hari ini Ummat Islam tidak memiliki Imam atau Khalifah.

Yang ada saat ini hanyalah Pemimpin yang bodoh. Pemimpin yang tidak mau mengikuti apa yang telah Rasulullah ajarkan, alias enggan untuk menerapkan Al-Qur’an. Sebagaimana Rasulullah sudah kabarkan jauh-jauh hari.

عَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

“Semoga Allah SWT melindungi kamu dari pemimpin bodoh. Kaab bertanya, “Siapa pemimpin bodoh itu.” Nabi saw. menjawab, “Para pemimpin yang datang setelah aku. Ia tidak memberi petunjuk dengan petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku. Siapa saja yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, mereka tidak termasuk golonganku dan aku bukan golongan mereka, dan mereka tidak bisa mencapai telagaku.” (HR Ahmad).

Subhannallah, begitu dahsyatnya fitnah diakhir zaman ini. Saya berdoa semoga Allah jaga Kita, jaga seluruh kaum Muslimin dimanapun mereka berada, dan kapanpun waktunya. Semoga Allah segera mewujudkan bisyaroh Sang Nabi, bahwa telah dikabarkan akan tegak kembali Khilafah Islamiyah yang murni mengikuti metode Nabi. Seperti yang tertulis dalam Hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, dan yang termaktub dalam Qur’an surah An-Nur ayat 55. Semoga Kita sebagai Ummat terbaik, Ummat mulia Rasulullah Muhammad, semakin lantang menyuarakan kebenaran den menyerukan syiar Islam, serta dimampukan oleh Allah untuk berislam secara kaaffah.

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad terbaik adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. (HR Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud dan an-Nasa’i).

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱدۡخُلُوا۟ فِی ٱلسِّلۡمِ كَاۤفَّةࣰ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” [Surat Al-Baqarah 208]

Allahu Ta’ala A’lam...[].

(Yogyakarta, Selasa 08 Desember 2020, dalam kegelapan malam Pilkada)

Post a Comment for "Kedustaan Demokrasi Dulu, Kini, dan Nanti"