Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Inilah 7 Alasan Ulama Wajib Melakukan Muhasabah Pada Penguasa

"Kedudukan para ulama bak bintang yang cahayanya mampu menunjuki para penguasa dan rakyatnya yang terkungkung kegelapan hidup. Para ulama berhasil memperlihatkan kepada dunia betapa besar pengaruh dari keteguhan iman terhadap syariat Islam di dalam berbagai peristiwa. Mereka memikul tanggung jawab dengan penuh kesabaran dan keberanian dalam menyuarakan kalimat hak di hadapan penguasa yang zalim. Tanpa rasa takut terhadap penguasa, kekuatan negara, dan para prajuritnya." (Syeikh Abdul Aziz Al Badri)

Oleh : Nay Beiskara (Kontributor Media)

"Kedudukan para ulama bak bintang yang cahayanya mampu menunjuki para penguasa dan rakyatnya yang terkungkung kegelapan hidup. Para ulama berhasil memperlihatkan kepada dunia betapa besar pengaruh dari keteguhan iman terhadap syariat Islam di dalam berbagai peristiwa. Mereka memikul tanggung jawab dengan penuh kesabaran dan keberanian dalam menyuarakan kalimat hak di hadapan penguasa yang zalim. Tanpa rasa takut terhadap penguasa, kekuatan negara, dan para prajuritnya." (Syeikh Abdul Aziz Al Badri)

Hari ini publik menyaksikan dengan terang benderang bagaimana sikap rezim saat ini kepada para ulama. Terutama kepada ulama-ulama yang lantang menyuarakan keadilan dan kebenaran, serta bersebrangan jalan dengan mereka. Sanksipun akhirnya dirasakan oleh para ulama. Mulai dari propaganda, fitnah, persekusi, hingga harus mendekam di balik jeruji besi.

Orang-orang yang dianggap mengancam eksistensi dan kritis terhadap penguasa beserta kebijakan yang diadopsinya secara perlahan-lahan disingkirkan. Sebagaimana yang terjadi MUI saat ini. Wajah baru mewarnai lembaga ini, sedang wajah lama yang identik dengan 212 didepak dari pengurusan seiring Miftachul Akhyar terpilih sebagai Ketua MUI periode 2020 - 2025 (cnnindonesia.com, 27/11/2020).

Sederet nama yang 'dibersihkan' dari pengurusan antara lain mantan Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsudin, manta Bendahara Yusuf Muhammad Martak, mantan Wasekjen Tengku Zulkarnain, dan mantan Sekretaris Wantim Bachtiar Nasir. Keempatnya merupakan tokoh yang kerap mengritisi pemerintah.

Beberapa pengamat politik menganalisis bahwa adanya campur tangan pemerintah melalui wapres Ma'ruf Amin sebagai langkah mengendalikan pihak yang 'over kritis' terhadap pemerintah. Hal ini disampaikan oleh Ujang Komarudin, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia pada cnnindonesia (27/11). Tak jauh berbeda, Siti Zuhro, peneliti politik LIPI berkomentar ada upaya penyeragaman suara di MUI. Ia menyebutnya sebagai 'State Coorporatism' yang di zaman reformasi seperti sekarang tak selayaknya dilakukan.

Menarik yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzil mengenai raibnya nama-nama ulama yang vokal di pengurusan. Ia menyebut Majelis Ulama Indonesia (MUI) bukan merupakan organisasi politik yang bertugas mengritisi pemerintah. MUI adalah organisasi yang menghimpun seluruh ormas Islam yang tujuannya bukan politik, tapi tuk kemaslahatan umat (tribunnews.com, 27/11/2020). Ia juga menyebut MUI memiliki karakteristik sebagai organisasi keulamaan yang sejuk dan damai.

Ace berharap dengan kepengurusan yang baru ini, MUI menjadi wadah bagi para ulama, Kyai, cendikiawan muslim, dan tokoh agama Islam untuk berkiprah sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dalam bidang keagamaan. Memang sedikit ganjal. Di satu sisi ia berharap ulama yang tergabung dalam MUI mampu berkiprah sebagai pelayan umat. Namun, di sisi lain ia menyatakan bahwa MUI bukanlah bertujuan untuk politik.

Padahal, Islam mendorong para ulama tuk terjun berpolitik. Tentu bukan politik ala sistem sekular yang diterapkan saat ini. Tapi, berpolitik dengan politik Islam. Dimana makna politik di sini adalah riayah su'unil ummah, yakni mengurusi urusan umat. Tak dibatasi hanya dalam masalah keagamaan saja, tapi di seluruh aspek kehidupan. Berharap para ulama menjadi khadimul ummah, itu kata lain menginginkan para ulama terjun ke ranah politik sesuai yang ditetapkan Islam. Inilah kiprah sejati ulama yang dicoba untuk dikebiri.

Ulama Menyikapi Ujian

Jalan dakwah itu memang terjal. Penuh onak dan duri. Hanya orang-orang yang kuat, terpilih, dan istiqomahlah yang mampu bertahan. Adanya hambatan, rintangan, dan halangan di jalan ini telah menjadi sunnatullah. Sesuatu yang wajar akan dialami oleh setiap para pengemban risalah-Nya. Terutama bagi mereka yang lantang dan berani melayangkan kritik pedasnya pada penguasa zalim.

Di negeri ini, tak sedikit ulama yang dicintai umat, namun dibenci aparat. Ada saja alasan untuk mengkriminalisasi para ulama ini. Tak hanya propaganda dan fitnah, tapi juga persekusi hingga kriminalisasi yang berujung jeruji besi. Semua itu dilakukan penguasa tuk membungkam para pewaris Nabi yang kritis ini agar tak menentang setiap kebijakan yang dikeluarkan penguasa. Bila ada yang menentang, biasanya para penguasa zalim tak segan tuk menjatuhkan hukuman yang menghinakan.

Namun, para ulama yang sholeh tentu telah mempersiapkan diri tuk menghadapi ujian semacam ini dengan penuh kesabaran. Mereka adalah pelopor bagi siapa saja yang menghadapi kerasnya siksaan karena penentangan mereka terhadap kebijakan penguasa. Mereka meyakini, banyaknya ujian itu berarti kemenangan kan segera datang. Mereka menyerahkan sepenuhnya urusan mereka kepada Sang Empunya Segala Urusan, yakni Allah Swt. Karena yang dilakukan para ulama itu semata hanya untuk Allah Azza wa Jalla.

7 Alasan tuk Muhasabah

Ulama adalah pewaris para Nabi. Maka, sudah menjadi tugasnya tuk berupaya keras agar risalah yang diemban oleh Nabi Saw. dapat tersebar ke seluruh alam. Hingga tak satupun tanah di bumi Allah ini yang tak tersentuh syariat-Nya.

Syeikh Abdul Aziz Al Badri dalam kitabnya Al Islam baina al Ulama wa al Hukkam menyatakan bahwa ulama merupakan pemimpin riil umat. Mereka memiliki kesadaran terhadap utusan umat, pengelola urusan agama, serta pihak yang mampu menerangkan hukum-hukum agama dan mendakwahkannya. Ulama juga memahami benar bahwa Allah Swt dan Rasul-Nya Saw., telah memerintahkan tuk menjalankan misi yang dahulu diberikan kepada para Nabi, yakni menyeru kepada kebaikan dan melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Al Imran ayat 104.

Memberi nasihat dan memuhasabahi (mengritik) pemimpin yang bertindak zalim, merupakan kewajiban ulama. Kewajiban ini ditunjukkan dengan banyaknya ayat dan hadits Nabi Saw. yang menyampaikan perkara ini. Salah satunya adalah hadits yang melontarkan ancaman bagi ulama yang berdiam diri dari mengritisi, memuhasabahi serta menasihati penguasa zalim.

Nabi Saw. pernah bersabda, "Barang siapa yang melihat penguasa yang zalim, menghalalkan apa yang Allah haramkan, melanggar janji Allah, menyelisihi Sunnah Rasulullah Saw., memperlakukan hamba-hamba Allah dengan perbuatan dosa dan melampaui batas, lalu ia tidak mengubahnya dengan ucapan ataupun tindakan, maka pasti Allah akan memasukkannya ke tempat (penguasa itu) masuk."

Dalam hadits lain Nabi Saw. bersabda, "Hendaknya kamu sungguh-sungguh melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Lakukan keduanya di hadapan penguasa zalim, konsisten di atas kebenaran dengan sebaik-baiknya. Jika hal itu tidak dilakukan, maka Allah akan menimpakan permusuhan di antara kamu satu dengan yang lain, dan Allah pasti akan melaknat mau sebagaimana telah melaknat mereka (Bani Israil)." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Satu sisi Allah Swt. dan Rasul-Nya memang memberi ancaman yang tegas bagi siapapun yang tak menjalankan kewajiban memuhasabahi penguasa dan menunaikan amar ma'ruf atas tidak kezaliman yang dilakukannya. Namun di sisi lain, Allah Swt. dan Rasul Saw. memberikan kabar gembira bagi mereka (para ulama) yang berupaya sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah dalam melaksanakan misi ini.

Rasulullah Saw. dalam hadits riwayat al Hakim menjanjikan status syahid kepada mereka yang berani mengoreksi penguasa dan terbunuh. "Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasan yang zalim, kemudian dia memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar, lalu dia dibunuh."

Selain itu, Allah Swt. sendiri telah menyampaikan dalam Al Quran (al A'raf : 165) yang artinya, "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat, dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik."

Berkenaan dengan aktivitas amar ma'ruf ini, Allah Swt. telah memberikan titel yang agung bagi umat yang mau menunaikannya. Titel ini secara gamblang disebutkan Allah Swt dalam Al Quran Surat Al Imran ayat 110. "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, dan beriman kepada Allah."

Dari beberapa dalil di atas, setidaknya dapat kita simpulkan bahwa terdapat 7 alasan mengapa ulama wajib memuhasabahi (mengoreksi) dan menjalankan amar ma'ruf nahi munkar. Pertama, Allah Swt. mengancam akan memasukkan para ulama yang berdiam diri dari kejahatan dan tindak zalim penguasa bersama penguasa zalim itu ke neraka. Sedang, telah jamak diketahui dari berbagai hadits bahwa neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Kedua, diamnya ulama atas perbuatan zalim penguasa akan menyebabkan Allah Swt. menimpakan permusuhan di antara kaum muslim sendiri. Sehingga umat tercerai-berai, sulit disatukan. Ketiga, Allah Swt. juga akan melaknat siapapun yang berdiam diri dari aktivitas amar ma'ruf ini, sebagaimana Allah Swt. melaknat Bani Israil.

Keempat, ulama yang berani berhadapan dengan penguasa zalim akan menyandang titel sebagai syuhada. Orang yang syahid di jalan Allah dan ganjarannya tentu surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Adapun yang kelima, Allah Swt., akan menyelamatkan para ulama yang mau mengoreksi dan menasihati dari azab yang pedih. Keenam, aktivitas amar ma'ruf nahi munkar menjadi sebab kaum muslimin layak menduduki posisi sebagai khoiru ummah, umat yang terbaik.

Terakhir yang ketujuh, Khulafaur Rasyidin dan para ulama salafus sholeh terdahulu telah memberikan teladannya bagaimana penguasa mampu berlapang dada dalam menerima kritik, saran, dan masukan dari ulama. Meski dengan kritikan yang keras dan penggunaan bahasa yang lugas. Sedang ulama tak segan-segan tuk mengoreksi penguasa pabila ada kezaliman dan pelanggaran hukum syara yang dilakukan. Takkan tunduk pada keinginan penguasa, walau moncong senjata tepat berada di lehernya.

Inilah kiprah utama para ulama di belantara Sistem Kapitalisme saat ini. Mereka tetap berpegang teguh pada risalah kenabian, yakni Al Quran dan as Sunnah. Lantang bersuara saat kezaliman dan ketidakadilan merajai kehidupan. Terus-menerus melakukan aktivitas muhasabah dan amar ma'ruf nahi munkar pada penguasa. Walaupun harta, kebebasan, dan jiwa menjadi taruhan. Karena mereka meyakini, selalu ada perbaikan dalam setiap muhasabah yang dilakukan. Semoga ulama-ulama kita yang senantiasa berjuang tuk Islam dan umat ini selalu mendapat pertolongan Allah Swt. hingga junnah umat kembali tegak di muka bumi. Wallahua'lam bishshowwab.

Post a Comment for "Inilah 7 Alasan Ulama Wajib Melakukan Muhasabah Pada Penguasa"