Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

EKSTREMISME AGAMA: DIKSI BARU MARKETING MODERASI BERAGAMA

Gaduh di waktu yang tepat, itulah kemampuan si Menag. Coba sebutkan masalah-masalah yang menimpa negeri ini, adakah hubungannya dengan ekstremisme agama?

Oleh: Mahrita Julia Hapsari (Komunitas Muslimah untuk Peradaban)

Lama tak terdengar kabarnya, Menag kembali muncul ke permukaan. Dulu gaduh berbuih-buih mulutnya dengan mantra radikal radikul. Ratusan buku pelajaran dan kurikulum madrasah pun tak luput dari revisinya.

Entah sudah tak mempan atau jenuh dengan mantra radikal radikul. Kini Menag hadir membawa diksi "ekstremisme agama". Woi, ini tu kayak makan gorengan basi dengan topping baru. Sama aja kamsudnya, eh maksudnya, ujung-ujungnya radikalisme juga. Dan diksi baru jualan moderasi beragama. Sama saja seperti tahun-tahun lalu.

Diksi ektremisme agama dilontarkan Menag pada siaran persnya Jum'at, 4 Desember 2020 (cnnindonesia.com). Fachrul Razi menyampaikan bahwa ekstremisme agama bisa masuk ke sekolah lewat tiga jalur, yakni guru, ekstrakurikuler keagamaan dan kurikulum atau mata pelajaran.

Fachrul berharap para guru agama bisa secara optimal memainkan peranannya. Peran strategis guru PAI yaitu membina aktivitas keagamaan dan monguatkan moderasi beragama.

Sebelumnya, Kemenag berencana menghapus materi khilafah dan jihad dari kurikulum madrasah. Terlanjur gaduh dan mendapat protes dari berbagai kalangan, rencana itupun diubah dengan memindahkan kedua materi itu dari pelajaran fikih ke sejarah.

Kemenag juga telah merevisi kurikulum pendidikan madrasah. Mengganti KMA 165 tahun 2014 dengan KMA 183 tahun 2019 tentang Kurikulum 2013. Yaitu dengan memoderasi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah.

Moderasi Beragama untuk Si[apa]?

Gaduh di waktu yang tepat, itulah kemampuan si Menag. Coba sebutkan masalah-masalah yang menimpa negeri ini, adakah hubungannya dengan ekstremisme agama?

Kasus-kasus nyata di hadapan mata. Gagalnya penanganan pandemi covid. Korupsi di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tak lama berselang, korupsi Menteri Sosial, dana bansos Covid-19 disunat, 17 milyar masuk kantong pribadi.

Papua Barat, mengumumkan kemerdekaannya. Utang negara semakin mengkhawatirkan. Pengangguran semakin nyata, kriminalitas semakin meningkat, jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) juga bertambah.

Bicara generasi, seks bebas merajalela, latah dan sakit teracuni budaya Barat dan K-Pop. Narkoba, tawuran, geng motor. Krisis akhlak yang semakin memiriskan hati orang tua juga pendidik. Mental instan dan sulit diajak berjuang.

Sementara, stereotip radikalisme, ekstremisme agama selalu ditempelkan pada umat muslim. Dituduh anti Pancasila dan anti NKRI. Paling ngeri, tuduhan akan menghancurkan negeri dengan ide khilafah dan jihad. Padahal keduanya adalah ajaran islam.

Khilafah adalah suatu bentuk pemerintahan islam. Kepemimpinan umum bagi seluruh umat muslim di dunia. Untuk menerapkan hukum-hukum islam dan mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia.

Adapun jihad yang dilakukan oleh khilafah, ia adalah suatu jalan agar islam bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia. Khilafah dan jihad merupakan kekuatan umat muslim. Kolaborasi keduanya telah menghantarkan islam ke puncak kejayaan dunia hingga 14 abad lamanya. Inilah Islam politik, yang dianggap radikalis atau ekstremisme agama oleh musuh-musuh islam.

Islam politik merupakan musuh bagi ideologi yang lain. Terutama kapitalisme yang saat ini berkuasa. Amerika Serikat menggawangi ideologi kapitalisme dan membuat strategi untuk menghalangi tumbuh suburnya islam politik di tengah umat muslim.

Rand Corporation, lembaga think thank Amerika, telah membagi umat muslim menjadi 4 kelompok, lengkap dengan cara menanganinya. Empat kelompok tersebut: fundamentalis/radikalis, moderat, tradisional, dan liberal. Barat gunakan politik devide et impera antar kelompok islam.

Dana yang tak sedikit telah dikucurkan oleh barat dalam rangka memerangi radikalisme. Agar tak terlihat betapa bernafsunya barat membunuh benih kebangkitan islam, digunakanlah kelompok islam yang pro pada nilai-nilai barat untuk memukul saudara semuslim. Dan tanpa sadar telah diadu domba dan menjegal kebangkitan islam yang hakiki.

Menuju Islam Kaffah

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 208: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam islam secara kaffah. Dan jangan ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu."

Kata kaffah dalam tafsir Ibnu Katsir bermakna bahwa mereka (orang muslim) diperintahkan untuk mengamalkan semua cabang iman dan syariat islam yang banyak sekali dengan segenap kemampuan yang mereka miliki.

Syariat islam mengatur hablumminallah, hablum binafsi dan hablumminannas. Ada syariat masalah ibadah, makanan, sanksi, muamalah juga politik. Mengatur keseluruhan hidup manusia mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Terikat pada keseluruhan hukum islam merupakan konsekuensi syahadat.

Khilafah adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang mampu menerapkan syariat islam secara kaffah. Tak sempurna keimanan tanpa berislam kaffah, jelas keberadaan khilafah menjadi urgen.

Urgensitas khilafah bukan hanya berdasar akal atau perasaan. Ada banyak dalil Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma' sahabat dan ijtihad ulama yang mewajibkan keberadaan khilafah.

Khilafah pula yang akan mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia. Dakwah dan jihad adalah metode khas dalam menyebarkan islam. Hingga terasa islam rahmatan lil 'aalamiin, sebagaimana janji Allah dalam surah Al-A'raf ayat 96.

Saatnya umat muslim bersatu dalam ikatan aqidah. Jangan mau jadi antek barat dan memusuhi saudara seaqidah. Bukankah Rasulullah Saw. bersabda: "Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain." (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari bersama songsong fajar khilafah. Khilafah ala minhajin nubuwah, yang kehadirannya telah dijanjikan Allah SWT. dan dikabarkan oleh Rasulullah Saw. Wallahu a'lam []