Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TIGA LEVEL MELAWAN PENGHINAAN PADA NABI ﷺ, DIMANA KITA?

Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Oleh: Wahyudi al Maroky (Dir. Pamong Institute)

Kesekian kalinya Charlie Hebdo menghina Nabi Muhammad ﷺ yang amat kita cintai. Penghinaan itu “dicentengi” oleh negara hina dan dibela oleh orang hina seperti Presiden Prancis Immanuel Macron. Juga didukung sebagian manusia hina dan para cecunguk lainnya yang menjijikan.

Lalu dimana posisi kita dalam menyikapi penghinaan Nabi Muhammad ﷺ itu? Apakah ada dikordinat dan barisan kaum muslimin yang marah atas penginaan itu? Ataukah ada dikordinat yang sama dengan para penghina yang menjijikan itu.

Sebagai manusia waras, ketika anda ditanya apakah akan marah jika ibu atau bapak yang dihormati itu dihina oleh orang? Dengan cepat kita bisa jawab, tentu sangat marah. Lalu bagaimana jika Nabi ﷺ yang kita muliakan dan hormati itu dihina oleh orang-orang hina seperti Macron? Tentu kita pun akan menjawab, sangatlah marah besar.

Menghina manusia adalah perbuatan Hina. Hanya sanggup dilakukan oleh orang-orang hina. Apalagi menghina atau menista (istihza’) kemuliaan Nabi ﷺ tentu itu perbuatan hina dan makasiat (kemungkaran) yang haram hukumnya. Pelakunya mendapat dosa besar dan dilaknat Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan” (TQS al-Ahzab: 57).

Penghinaan itu perbuatan maksiat dan bentuk kemungkaran yang harus dicegah dan dihentikan. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Lalu, bagaimana kita menyikapi penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang hina yang “dicentengi” negara itu? Apa yang dapat kita lakukan agar bisa mencegah, menghentikan dan mengubahnya?

Setidaknya ada tiga level dalam menyikapi penghinaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut.

PERTAMA, sikap level-1; Menggunakan tangan-tangan kekuasaan. Kemungkaran dapat dengan cepat dihentikan dan diubah menggunakan kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki. Siapa pun kita yang menemukan kemungkaran maka harus diupayakan maksimal untuk mengubahnya dengan segenap kemampuan kita. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ “…Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya…” (HR. Muslim).

Level-1 ini bisa dilakukan oleh para penguasa yang memiliki tangan-tangan kekuasaan, mulai dari kepala negara, perdana menteri dan para pejabat, penguasa lainnya sesuai level masing-masing. Mereka punya kewajiban untuk mencegah segala bentuk kemungkaran. Mereka juga punya kewajiban terdepan dalam mencegah terjadinya penghinaan kepada Manusia lain apalagi penghinan pada Nabi ﷺ.

Hal ini pernah dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II (1876-1918) yang mencegah Perancis dan Inggris ketika hendak menggelar drama yang berisi penghinaan terhadap Nabi ﷺ. Kala itu Sang Khalifah memanggil Dubes Perancis dan memerintahkan agar tak melakukan penghinaan pada Nabi ﷺ. Jika dilanggar maka akan mengirim pasukan dan menyerukan Jihad kepada Perancis. Maka Prancis dan Inggris membatalkan pentas drama itu. Inilah contoh nyata penggunaan tangan kekuasaan dalam hadapi kemungkaran.

Nampaknya kini sejarah kembali berulang. Perancis kembali menghina Nabi ﷺ dan Islam. Melalui Charlie Hebdo dan mulut hina Immanuel Macron. Saat ini memang ada banyak Raja dan Presiden namun tak ada satu pun yang mau dan bisa menghentikan penghinaan Nabi ﷺ yang dilakukan Perancis. Kita tentu merindukan sosok pemimpin seperti Khalifah Abdul Hamid II yang menggunakan kekuasaannya untuk cegah kemungkaran dan Kejahatan Perancis kala itu.

KEDUA, sikap level-2; Menggunakan lisan (ucapan). Bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan maka dapat menyikapi kemungkaran dengan menggunakan lisan (ucapan). Mengubah sebuah kemungkaran dengan menggunakan lisan (ucapan) dapat dilakukan dengan cara; 1) menasehati pelaku kejahatan, 2) menasihati Penguasa agar menghentikan kejahatan dengan kekuasaannya, 3) menasihati publik agar paham dan tak melakukan kemungkaran.

Ucapan seseorang dapat saja menyadarkan pelaku kejahatan untuk menghentikan kejahatannya. Bisa juga dengan lisannya itu menasihati para penguasa yang memiliki kekuasaan untuk mengirim pasukan dan menghentikan kemungkaran itu. Atau setidaknya menggunakan jalur diplomatik untuk menekan negara yang melakukan penghinaan pada Nabi ﷺ itu.

KETIGA, sikap Level-3. Menolak kemungkaran dalam hati. Level ini sesungguhnya bukanlah pilihan yang baik. Ini adalah pilihan terakhir bagi mereka yang tak punya kekuasaan dan tak punya keberanian menggunakan lisannya untuk bicara.

Mereka yang masih diberikan lisan yang bisa bicara mestinya tidak memilih posisi di level-3 tersebut. Ini hanya bagi mereka yang benar-benar lemah dan tak bisa menggunakan lisannya untuk bicara. Bahkan ini pilihan bagi mereka yang terkategori selemah-lemahnya iman. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, … Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Kini pilihan level dalam melawan penghinaan Nabi ﷺ terserah pada masing-masing kita. Tentu pilihan terbaik adalah level-1 atau minimal level-2. Sedapat mungkin menghindari diri pada level-3 karena itu tergolong selemah-lemah iman.

Sebagaimana kita pahami, Hukuman Bagi Penghina Nabi ﷺ, sangatlah keras dan tegas, yakni hukuman mati. Para ulama dan para imam ahli fatwa (Imam Malik, Imam al-Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam as-Syafii), mayoritas sepakat tentang sanksi bagi orang yang menghina Nabi ﷺ adalah hukuman mati.

Namun yang punya kewenangan melakukan eksekusi hukuman Mati adalah negara. Dalam Islam, hukuman mati atas penghina Baginda Nabi ﷺ, dilakukan oleh Imam/Khalifah atau yang mewakilinya (Lihat: Al-Kasani, Bada’i as-Shana’i’, 9/249).

Jika pelaku penghinaan itu individu maka bisa segera ditegakkan hukum dengan hukuman mati oleh kepala negara. Namun jika pelakunya negara, seperti Prancis saat ini, maka penguasa menghentikannya dengan jalan diplomatik dan jika tak mau menghentikan maka menggunakan kekuatan militer dan mengobarkan jihad seluruh rakyat untuk menghentikan penghinaan itu. Sebagaimana pernah dilakukan Khalifah Abdul Hamid II.

Walhasil, siapa pun kita mestinya tak melakukan perbuatan hina dengan menghina orang lain, apalagi menghina Baginda Nabi ﷺ. Adalah Wajar, sebagai umat Islam wajib marah atas penghinaan agama dan Nabinya. Ulama besar Buya Hamka rahimahulLâh mengingatkan kita “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.”

Jika pribadi kita saja wajib menegah kemungkaran dan penghinaan atas Nabi ﷺ apalagi sebagai Seorang penguasa yang punya kewenangan sekaligus punya kewajiban untuk menegakkan hukum. Ia berada pada level-1 dalam mencegah dan mengubah kemungkaran atau kejahatan itu. Termasuk jika ada yang menghina Rasulullah Muhammad ﷺ.

Siapa pun kita, kelak kita akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban. Apalagi jika punya kekuasaan dan kewenangan yang sekaligus melekat kewajiban untuk menjaga kemuliaan Allah SWT, Nabi Muhammad ﷺ serta ajaran Islam dan simbol-simbolnya.

Kiranya penguasa negeri ini segera menggunakan kekuasaannya sesuai amanah dan levelnya. Semoga tak terjadi lagi penghinaan pada Nabi ﷺ. Dan negeri ini dijauhkan dari bencana dan dilimpahkan keberkahan dari langit dan bumi. Aamiin.

NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

#CintaNabiBuktiKeimanan

#CintaNabiPerjuangkanIslam

#CintaNabiTerapkanIslam

#boycottfrance

#ShameonyouFrance

#boycottfranceproducts

#StopIslamophobia

#IslamophobiainFrance

#BycottFrance

#BycoottFranceProduct

Post a Comment for "TIGA LEVEL MELAWAN PENGHINAAN PADA NABI ﷺ, DIMANA KITA?"