Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

The Power of Tiny Gains

Dalam Atomic Habits ini, James Clear membongkar mitos-mitos dalam memperoleh hasil yang besar. Di antaranya ia menjelaskan bahwa hasil besar tidak semata-mata ditentukan oleh sebuah tujuan yang besar. Sebab faktanya, akumulasi hal-hal kecil bisa menghantarkan pada sebuah hasil besar. Rahasianya? Ada pada prinsip dasar "One Percent Rule: 1% Better Everyday (Aturan Satu Persen; 1% Kebaikan Setiap Hari)".

Oleh: Februastuti

Jangan menyepelekan hal sepele. Setidaknya itulah sebagian kecil dari pesan yang bisa diambil kala mempelajari buku Atomic Habits karya James Clear.

Pada bagian pertama, "The Fundamentals", dijelaskan tentang mengapa perubahan-perubahan kecil bisa membuat sebuah perbedaan yang besar (why tiny changes makes big defference). Dalam hal ini, diterangkan tentang sebuah konsep penting untuk meraih sebuah hasil yang besar.

Dalam Atomic Habits ini, James Clear membongkar mitos-mitos dalam memperoleh hasil yang besar. Di antaranya ia menjelaskan bahwa hasil besar tidak semata-mata ditentukan oleh sebuah tujuan yang besar. Sebab faktanya, akumulasi hal-hal kecil bisa menghantarkan pada sebuah hasil besar. Rahasianya? Ada pada prinsip dasar "One Percent Rule: 1% Better Everyday (Aturan Satu Persen; 1% Kebaikan Setiap Hari)".

Dalam sebuah grafik The Power of Tiny Gains, James Clear menunjukkan capaian akumulasi kebaikan yang dilakukan harian dalam setahun. Bila dikalkulasi menggunakan matematika, dengan menambah kebaikan 1% saja tiap harinya, maka akumulasi kebaikannya bisa mencapai 1,01 pangkat 365 atau 37,78 kebaikan. Sebaliknya, bila bertambah keburukan tiap harinya sebesar 1% saja, maka akumulasi keburukannya dalam setahun sebesar 0,99 pangkat 365.

James Clear lantas menyajikan British Cycling Story sebagai salah satu bukti The Power of Tiny Gains ini. Yakni kisah sebuah tim pesepeda underdog di Inggris. Di bawah besutan pelatih Sir Dave Brailsford (2003-2014), seorang yang mengaplikasikan prinsip 1% Better Everyday, tim pesepeda ini pun berhasil meraih perubahan besar. Sebuah capaian yang belum pernah diraih sebelumnya. Mereka bisa menjuarai olimpic games dan memperoleh banyak medali emas.

Padahal, kebiasaan baik yang dibentuk sang pelatih atas pemain tersebut tergolong sepele. Hal-hal kecil yang ada kalanya tidak berhubungan langsung dengan sepeda seperti mencuci tangan, misalnya. Namun, dengan membangun kebiasaan baik, mulai dari yang sekecil itu, ternyata mampu mengubah tim. Pesan sang pelatih, "Forgot about perfection: Focus on progression, and compound the improvement," menjadi kunci sukses mereka.

Bila ditilik lagi, prinsip luar biasa ini tidak bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw 14 abad lalu. Syariat Islam pun memberikan peringatan agar tidak menyepelekan hal yang sepele. Sebab, seorang muslim mesti memegang prinsip "segala perbuatan, baik ataupun buruk, walau sebesar bijih atom (dzarrah) pun akan dihitung oleh Allah". Karenanya, seorang muslim patut membangun kebaikan tiap saat demi sebuah tujuan besar, yang melebihi dunia, yakni ridho Allah.

Tentang amal kecil nan terus menerus ini, Rasulullah saw. bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya." (HR. Muslim)

Karena itu, bagi seorang muslim membangun kebiasaan baik dan istiqomah ini penting. Bukan semata-mata karena akan menghantarkan pada sebuah capaian yang besar di dunia, melainkan karena merupakan perintah dari Allah dan rasulullah.

Namun demikian, bagi muslimin membangun pola 1% Better Everyday haruslah pada ranah amalan sunnah. Sebab, dalam tataran aktivitas yang hukumnya wajib seperti sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, zakat, dakwah, dll, seorang muslim mutlak, pastinya tidak boleh menyediakan pilihan lain bagi dirinya kecuali harus membangun kebiasaan itu.

Sementara itu, untuk amalan buruk yang mendatangkan dosa, muslimin telah diberi peringatan agar tidak melakukannya, apatah lagi menjadikannya kebiasaan. Rasullulah saw bersabda,

"Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah di bumi kalian ini, akan tetapi ia senang dengan hal kecil yang kalian remehkan.” (HR. Ahmad).

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari).

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosanya yang kecil bagaikan gunung yang akan menimpa dirinya. Sedangkan orang munafik melihat dosa yang besar bagaikan lalat yang lewat tidak di hadapan hidungnya.”

Hal ini menunjukkan, bagi muslimin wajib memperhatikan amalan yang ia bangun. Tidak boleh lupa bahwa amalan sekecil apapun akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Menyepelekan dosa kecil, bisa menghantarkan kepada siksa. Orang yang menganggap remeh maksiat, ia akan terus jatuh pada maksiat. Orang yang menganggap remeh amal shalih, dia akan tinggalkan perbuatan amal shalih tersebut. Seorang mukmin tak akan pernah menganggap remeh dosa, sekecil apa pun. Wallahua'lam.

Post a Comment for "The Power of Tiny Gains"