Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

IMAM AL-BUKHARI TELADAN ULAMA DAN PENGEMBAN DAKWAH

tulisan ini menjelaskan secara ringkas dua hal berikut: Pertama, mengenai ilmu yang dikuasai al-Bukhari, yakni: upaya serius al-Bukhari dalam memperoleh serta menyampaikan ilmunya; Kedua: mengenai prinsip hidup al-Bukhari yang realitasnya ada, namun belum dijelaskan, serta kecintaanya pada kebenaran dan agama.
Peran penting ulama yang lurus tidak bisa diabaikan, karena ulama adalah pewaris para nabi sebagaimana hadits yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama laksana bintang-bintang yang menerangi sebagian umat mencari solusi menghadapi berbagai problem, ujian dan kesulitan. Di sisi lain, ada pula oknum ulama yang menikmati kelezatan dunia, suka popularitas, kedudukan tinggi dan ingin diakui. Mereka tidak malu apalagi merasa berdosa, bahkan malah merasa bangga ketika diperlihatkan pintu-pintu penguasa korup yang mereka datangi. Fatwanya pun tidak dikeluarkan demi mencapai kebenaran, tetapi digunakan demi menghasilkan banyak keuntungan dan kepentingan bagi penguasa yang melampaui batas.

Ulama sejati yang mampu mencapai posisi pewaris para nabi, adalah ulama yang berjuang di tengah kehidupan yang berhasil mencapai dua hal penting: Pertama, selalu berusaha serius dalam mencari, menguasai dan menyebarkan ilmu-ilmu agama; Kedua, konsisten dalam kebenaran dan hanya berharap ridha’ Allah dengan ilmu yang dimilikinya.

Imam al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H/870 M) adalah salah satu ulama sejati itu, yang tidak sebatas menguasai ilmu agama dengan luar biasa, ilmunya tidak sekedar teoritis; namun dengan karunia Allah, ilmu yang dikuasai dan disampaikannya tidak hanya bermanfaat bagi generasinya saja, tetapi bermanfaat juga bagi seluruh umat Islam hingga hari kiamat.

Imam al-Bukhari pun merupakan teladan nyata dalam keikhlasan; fokusnya di dalam kehidupan dunia ini bukan ambisi sesaat, apalagi demi disenangi penguasa. Baginya hanya satu fokus yakni mencari ridha’ Allah semata melalui dakwah dan berjuang menjaga agama-Nya, hingga agama Islam satu-satunya yang dimenangkan di atas ajaran yang lainya.

Maka dari itu, tulisan ini menjelaskan secara ringkas dua hal berikut: Pertama, mengenai ilmu yang dikuasai al-Bukhari, yakni: upaya serius al-Bukhari dalam memperoleh serta menyampaikan ilmunya; Kedua: mengenai prinsip hidup al-Bukhari yang realitasnya ada, namun belum dijelaskan, serta kecintaanya pada kebenaran dan agama.

Profil singkat kehidupan imam al-Bukhari berikut, tidak akan bisa memberikan gambaran rinci serta lengkap mengenai kepribadian, perjuangan dan berbagai pelajaran berharga yang dimiliki beliau. Namun meskipun begitu, kami berharap dengan izin Allah, semoga beberapa poinnya bisa bermanfaat bagi pengemban dakwah dan pencari ilmu yang membacanya.

Kecintaan dan Semangat Terhadap Ilmu

Imam al-Bukhari alias Muhammad, lahir di kota Bukhara yang kini dikenal Uzbekistan pada tahun 194 H. Ayahnya bernama Ismail bin Ibrahim rahimahullah, seorang ulama yang merupakan murid Imam Malik rahimahullah (w. 174 H/795 M). Sayangnya, al-Bukhari belum sempat bertemu dan menimba ilmu kepada ayahnya, karena wafat saat al-Bukhari masih bayi.

Kondisi sebagai anak yatim, tidak menghalanginya mencari ilmu. Beliau hapal al-Quran dan memulai menghapal hadits pada usia yang relatif muda. Meski masih belia, minatnya menyeleksi hadits yang shahih dari yang dhaif sudah mulai tumbuh. Menginjak usia sekitar 15 tahun saat masih tinggal di Khurasan, al-Bukhari diyakini menguasai hampir semua ilmu hadits, sampai-sampai hapal banyak kitab para ulama, seperti kitab karya Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah (w. 181 H/797 M).

Saat usia 16 tahun al-Bukhari menempuh perjalanan panjang, dari Bukhara menuju Makkah al-Mukarramah, menunaikan kewajiban haji bersama Ibu dan saudaranya yang bernama Ahmad. Setelah selesai ibadah haji, al-Bukhari tidak pulang ke Bukhara bersama keluarganya, tetapi menetap di Hijaz yang diyakininya lebih penting, agar bisa belajar bersama para ulama dan menguasai ilmu yang tidak tersedia di Bukhara.

Keputusan meninggalkan keluarga, demi mencari ilmu dan berkontribusi bagi umat, merupakan tanda awal yang utama, keikhlasan serta rasa tanggung-jawab al-Bukhari terhadap umat, terlebih beliau hidup di zaman yang belum tersedia teknologi internet dan mesin cetak. Bagi al-Bukhari kiprahnya di bidang penelitian hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas sangat penting, sebab pada masa tersebut belum ada upaya komprehensif menghimpun hadits-hadits paling shahih.

Setelah dua tahun menetap, ketika genap berusia 18 tahun, karya pertamanya di Madinah Munawwarah rampung. Kitab ini bernama at-Tarikh al-Kabir, bukan sebuah kitab biasa, namun kitab yang terdiri dari 9 jilid, yang menjadi rujukan primer para ulama hadits, sebab isinya berhasil menyelesaikan banyak masalah rumit di bidang ilmu hadits: seperti persoalan ilmu ar-rijal dan al-jarh wa at-ta’dil. At-Tarikh al-Kabir langsung menjadi kitab rujukan saat itu juga bagi ulama hadits hingga hari ini, karena memuat sekitar 40.000 biografi para perawi hadits baik perawi laki-laki maupun wanita.

Semenjak saat itu, al-Bukhari bangkit dan turun gunung, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di dunia Islam, mencari dan menyebarkan ilmu, tidak begitu lama beliau akhirnya dikenal sebagai ulama paling otoritatif di bidang dirayah al-hadits.

Buah karya paling populer dan banyak mendapat pujian adalah al-Jami’ al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanih wa Ayyamih, dikenal sebagai Shahih al-Bukhari, yang memuat 7.200 hadits –tanpa pengulangan jumlahnya 2.600– dimana jalur riwayat diseleksi hanya yang shahih dan tidak melalui perawi lemah. Kitab tersebut merupakan ringkasan dari 600.000 hadits –tanpa pengulangan jumlahnya 23.000– yang dikumpulkan sepanjang hidup al-Bukhari. Karya ini adalah rujukan paling penting hingga masa kini, berkenaan dengan Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.

Walaupun pengetahuan haditsnya begitu luas, sang imam tidak hanya membatasi diri menulis di bidang ilmu hadits saja, beliau pun menulis karya lain di bidang fikih dan persoalan akidah, sungguh beliau adalah seorang ahli fikih yang ilmunya terbit dari keimanan. Ini merupakan bukti kesadaran tinggi terhadap tanggung-jawabnya sebagai seorang muslim dan juga bukti kerja kerasnya yang begitu luar biasa dalam pencarian ilmu.

Antara Kredibilitas dan Harta

Salah satu peristiwa menarik yang menunjukkan keistimewaan kepribadian al-Bukhari, adalah kisah populer mengenai hilangnya banyak dinar yang nyaris dituduhkan kepadanya. Syaikh Abdussalam al-Mubarakfuri dalam Sirah al-Imam al-Bukhari Sayyid al-Fuqaha’ wa Imam al-Muhadditsin, menulis cuplikan kisahnya, yang cukup membuktikan kredibilitas dan rasa tanggung-jawab mendalam sang imam kepada agama dan umat Islam. Begini kisahnya:

Ketika berkelana mencari ilmu, al-Bukhari menumpang sebuah kapal sambil membawa 1000 dinar –pada masanya itu jumlah yang fantastis. Saat di kapal ada seorang penumpang menemuinya, yang nampak mencintai dan menghormati al-Bukhari, hingga akhirnya saling bersahabat. Melihat kecintaan dan persahabatan ini sang imam tersentuh dan setelah berbincang akrab diberitahukanlah 1000 dinar miliknya (yang setara 4 milyar lebih).

Suatu hari penumpang tadi bangun tidur sambil menangis sejadi-jadinya, merobek pakaian dan memukul-mukul wajah dan kepalanya seolah panik dan sedih. Penumpang kapal yang lain dibuat heran dan bingung dengan perilaku tersebut, lalu ditanyakan apa sebabnya sambil meminta agar dijawab. Penumpang itu berkata: “Aku kehilangan kantong berisi 1000 dinar!” Maka orang-orang pun memeriksa seluruh penumpang kapal, saat itulah tanpa ada yang tahu, sang imam mengeluarkan kantong berisi 1000 dinar miliknya lalu dibuang ke laut. Pemeriksaan pun sampai pada giliran al-Bukhari hingga penumpang terakhir, namun pemeriksa tidak menemukan 1000 dinar tersebut. Orang-orang kembali mendatangi penumpang tadi, lalu mengecam dan mencelanya habis-habisan.

Setelah seluruh penumpang turun dari kapal, penumpang yang berpura-pura kehilangan dinar itu menghampiri al-Bukhari: “Apa yang anda lakukan dengan kantong berisi 1000 dinar itu?” tanyanya, “Saya buang ke laut!” jawab al-Bukhari. “Bagaimana bisa anda rela kehilangan harta sebanyak itu?” tanya si penipu tadi. “Wahai orang bodoh, tahukah kamu aku habiskan seluruh hidup demi mengumpulkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga seluruh dunia mengakui kredibilitasku. Lalu bagaimana mungkin aku biarkan diriku menjadi seorang tertuduh pencuri? Apakah mutiara yang sangat berharga –yakni kredibilitas dan keadilan– yang dicapai sepanjang hidupku dibiarkan hilang begitu saja, hanya karena harta tak seberapa!!” tutup sang imam.

Demikianlah dedikasi, kesungguhan dan keikhlasan paripurna dalam mengumpulkan sunnah nabawiyyah merupakan bukti bahwa beliau adalah salah satu ulama pilihan Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjaga agama ini. Allah berfirman:

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami.” (QS. Fathir: 32)

Beliau menyampaikan ilmu kepada lebih dari 90.000 murid sepanjang hidupnya, diantara muridnya adalah imam Muslim dan at-Tirmidzi. Bagaimana kiranya nasib umat Islam hari ini, seandainya tidak ada kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan Sunan at-Tirmidzi?

Menolak Kepentingan Penguasa

Peristiwa ini terjadi di penghujung usia al-Bukhari, termasuk perstiwa yang sangat penting. Sang imam sebagai seorang yang sudah berusia senja, pulang ke kampung halamannya untuk kali yang pertama, semenjak ditinggalkan saat mudanya, di sana tersedia peluang berharga hidup sebagai kelas atas. Peluang ini sangat besar terwujud, jika sang imam bersedia menerima keinginan Amir Bukhara, Khalid bin Ahmad adz-Dzuhli. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dalam kitab Tarikh Baghdad:

Khalid bin Ahmad adz-Dzuhli, seorang Amir Khalifah ath-Thahiriyyah di Bukhara, mengundang sang imam datang ke istananya, agar mengajarkan kitab Jami’ al-Bukhari dan at-Tarikh al-Kabir kepada anak-anak amir tersebut. Tapi sang imam menolak menghadiri udangan itu. Lalu sang amir mengirim utusan, menyampaikan bahwa anak-anaknya siap datang ke majelis sang imam, asal majelis tersebut hanya khusus buat anak-anaknya. Hal ini pun tetap ditolak sang imam, sambil berkata: “Janganlah memintaku membuat majelis yang hanya didengar kalangan tertentu dan melarang yang lainnya.”

Sikap luar biasa imam al-Bukhari ini, menghasilkan sebuah kesimpulan, bahwa beliau adalah seorang ulama sejati pewaris para nabi. Dalam benak orang biasa yang diundang, kemungkinan apa yang paling menonjol, saat mendatangi istana dan duduk ekslusif bersama penguasa dan kroninya? Tentu pastinya memperoleh banyak harta sebagai kompensasi mengajar, apalagi mengajar anak-anaknya amir tersebut.

Ulama hari ini seandainya mendapat undangan mendatangi penguasa, sekejap saja tidak berpikir betapa rusaknya kemewahan di istana-istana mereka. Terlebih para penguasa itu memerintah dengan selain hukum Islam dan meminta kepada ulama justifkasi syara’ berbagai kebijakan yang tidak sesuai syariah.

Maka bandingkan dengan penolakan al-Bukhari terhadap permintaan sang amir, padahal penguasa kala itu berhukum dengan syariah dan tidak memerintah dengan hukum kufur seperti penguasa masa kini, juga tidak meminta fatwa di luar syariah. Bahkan hanya meminta mengajari anak-anaknya yang jelas-jelas ingin memiliki pengetahuan mengenai as-sunnah, sebuah perkara yang mulia dan bukan perkara yang hina!

Respon sang imam sebelumnya yang berkata: “Janganlah memintaku membuat majelis yang hanya didengar kalangan tertentu dan melarang yang lainnya”, memperlihatkan rasa tanggung-jawab sebagai ulama terhadap agama dan umat. Beliau tidak ingin pengetahuan Islam dibatasi alias hanya dipelajari kalangan tertentu saja, tapi menghendaki disampaikan kepada seluruh umat dan semua kaum muslimin.

Dengan kata lain, sang imam seolah berkata kepada sang amir: “Apakah kamu ingin anak-anakmu mendapat pengajaran? Jika begitu ajak mereka menghadiri kajian-kajian di masjid seperti anak-anak yang lainnya.” Keberanian luar biasa macam apa ini?! Keikhlasan macam apa pula yang dimiliki beliau ini?! Semua itu tentu sejatinya berasal dari ajaran Islam! Pada akhirnya sikap ini berakibat fatal pada kehidupan dunianya; sebab masa selanjutnya beliau diusir dari kota asalnya, dan saat itu wafat tanpa mendapat menghormatan dan penghargaan yang layak. Memang beliau adalah ulama akhirat, tempatnya di akhirat. Tidak ada yang mengetahui kedudukannya di akhirat kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga beliau ditempatkan pada derajat tertinggi.

Refleksi Masa Kini

Meski beliau hidup berdekatan zaman dengan para ulama besar lainnya, seperti imam Ahmad (w. 241 H/855 M) dan imam asy-Syafi’i (w. 205/820 H) rahimahumullah, hal ini tidak menghalanginya serius berkarya dan memanfaatkan masa keemasan peradaban dan pengetahuan demi Islam.

Semua itu tidak membuat motivasi dan rasa tanggung-jawabnya sebagai ulama mengendur, padahal masa itu Islam sudah mendominasi hampir seluruh dunia. Umat Islam pun mencapai level tertingginya sebagai umat terbaik bagi seluruh manusia. Dulu Khilafah masih berdiri dan syariah Islam satu-satunya undang-undang di negeri Islam.

Di tengah masa kejayaan Islam itu, beliau tetap mempersembahkan seluruh hidupnya berjuang demi agama Islam. Selamanya tidak pernah rela gagal, kontribusi minimal, apalagi menyia-nyiakan waktunya demi mencari atau mengejar urusan dunia.

Karena itu, bagaimana mungkin seorang muslim hari ini, menelantarkan tanggung-jawab dakwah dan mengabaikan perjuangan menghidupkan agama Allah, sedangkan kita hidup di masa tidak adanya Khilafah? Masa dimana undang-undang buatan manusia diterapkan di seluruh dunia Islam, serta setiap hari terjadi pelanggaran terhadap kemuliaan dan kehidupan kaum muslimin?

Jadi, marilah berjuang sekuat tenaga, menjadi hamba pilihan Allah yang mengemban ajaran agama (QS. Fathir: 32). Pada zaman al-Bukhari, ajaran Islam tidaklah asing seperti hari ini. Maka, marilah hidup berjuang menjadi seolah ‘orang terasing’ dengan memperbaiki dunia yang dirusak manusia, berjuang demi kemuliaan ajaran Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim).

Oleh: Taimullah Abu Laban

(Hada’iq Dzat Bahjah: al-Imam al-Bukhari Namudzaj Yuhtadza Bih Lil ‘Ulama’ wa Hamlah ad-Da’wah. Al-Wa’ie edisi 408, tahun XXXV, Muharram 1442 H/ September 2020 M. Alih bahasa: Yan S. Prasetiadi).

Post a Comment for "IMAM AL-BUKHARI TELADAN ULAMA DAN PENGEMBAN DAKWAH"