Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Krisis Identitas, Penderitaan Akut Sekulerisme

Dalam peringatan 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia , 20 September 2020 lalu, Ma' Ruf Amin juga berharap bisa menjadi momen penting untuk semakin meningkatkan hubungan dan kerja sama yang baik antara kedua negara. Sebab selain lewat industri hiburan, lanjut Wapres, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea juga bisa untuk semakin memperkuat pada sektor ekonomi, sosial dan budaya.
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih | Institut Literasi dan Peradaban

Siapa tak kenal BTS, EXO, Astro dan sederet boyband Korea lainnya? Penampilan keren, modis, trendi dan sempurna. Belum lagi kalau disebut drama Korea, selalu manis menggigit, romantis habis dan mengharu biru. Sederetan judulnya menjadi tontonan favorit . Tak ayal gelombang Korea atau Korean wave juga membawa pengaruh budaya Korea di Indonesia, selain melalui musik pop, juga lewat makanan, drama, film dan mode.

Terbukti, pencarian dengan kata kunci drama Korea Selatan meningkat 130% selama pandemi corona, mengalahkan video pendidikan yang lonjakannya hanya 80 %. Menurut Head of Large Customer Marketing Google Indonesia Muriel Makarim menilai, peningkatan itu karena banyak pengguna yang beraktivitas di rumah selama pandemi Covid-19. Mereka mencari hiburan melalui YouTube.

Google Indonesia mencatat, 91% orang Indonesia yang mengakses internet menggunakan YouTube. Setidaknya ada 93 juta penonton YouTube di Tanah Air (katadata.co.id, 15/09/2020).

Sungguh angka yang luar biasa bukan? Pantas saja jika Wakil Presiden Ma' Ruf Amin berharap, tren Korean Pop (K-Pop) dapat mendorong munculnya kreatifitas anak muda Indonesia untuk lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia internasional (TEMPO.CO, 20/09/2020).

Dalam peringatan 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia , 20 September 2020 lalu, Ma' Ruf Amin juga berharap bisa menjadi momen penting untuk semakin meningkatkan hubungan dan kerja sama yang baik antara kedua negara. Sebab selain lewat industri hiburan, lanjut Wapres, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea juga bisa untuk semakin memperkuat pada sektor ekonomi, sosial dan budaya.

Satu kalimat yang menurut penulis menjadi landasan bagi pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan ini, yaitu "Hubungan baik ini semakin memberi manfaat bagi warga kedua negara". Ya, manfaat dan hanya manfaat, tak peduli dampaknya negatif atau positif.

Bagaimana bisa tren K-Pop yang penuh dengan gaya hedonis liberal dan membawa paham sekuler dijadikan rujukan untuk lebih kreatif? dan apakah menjadi keharusan kiblat kita sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam beralih ke Korea yang tidak beragama?

Tidakkah menjadi pertimbangan, wajah kelam kehidupan artis Korea dengan seringnya kasus bunuh diri, galau tingkat tinggi ketika penampilan tak sempurna hingga praktik operasi plastik menjamur, berikut dengan budaya mabok Sojunya, senang sedih selalu dirayakan dengan minum Soju. Dimana letak kebanggaannya?

Jika kita mau lebih dalam menelaah, justru tren K-Pop inilah yang berpotensi merusak generasi muda dan menjerumuskan mereka pada kehidupan serba bebas. Jika dibiarkan maka bencana yang lebih besar akan terjadi, yaitu krisis identitas. Apalagi wacana Mendikbud dengan menghapus pelajaran sejarah, makin menggiring generasi muda kita terjun bebas kearah kebinasaan.

Maka benarlah pendapat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD , yang beliau lontarkan di tahun 2013, bahwa malaikat masuk ke dalam sistem di Indonesia akan berubah menjadi iblis. Mengapa? Sebab kita memang menggunakan sistem politik demokrasi, dimana didalamnya ada penjaminan atas empat kebebasan, yaitu berpendapat, berprilaku, beragama dan kepemilikan.

Inilah yang kemudian menimbulkan kekacauan. Sebab secara fitrah manusia tidak diberi kebebasan mutlak oleh Allah SWT, manusia diciptakan selalu merasa kurang dan butuh akan yang lain. Kita sebagai kaum muslim memiliki sejarah yang luar biasa. Yaitu sebagai pemimpin peradaban, bukan pengekor peradaban bangsa lain.

Mungkin generasi Muslim hari ini tak kenal siapa Muhammad Al Fatih, Thariq bin Ziyad, Khalid bin Walid, Zaid bin Tsabit dan lain-lain, karena sejarah mereka berusaha dikubur oleh penjajah kafir sekaligus pembenci Islam. Merekalah tokoh Muslim berpengaruh, sebab sepak terjang mereka sepanjang hidup adalah senatiasa meninggikan kalimat Allah, berkat merekalah kita hari ini mengenal Islam.

Belum lagi jika kita berbicara tentang Ibnu Firnas, Al Kindi, Abu Al Haitsami dan lain-lain, mereka adalah para Ilmuwan yang mengawal penemuan-penemuan femonenal yang hingga hari ini masih digunakan bahkan hingga taraf memudahkan kehidupan manusia modern. Miris! Fakta ini tak bisa dibandingkan Apple to Apple dengan kondisi hari ini, seorang anak gadis tak tabu lagi menyerahkan kesuciannya kepada boyband Korea yang belum tentu mengenal mereka, atau yang rela bolos sekolah hanya demi menonton konser idola Korea mereka.

Jika halu begitu, peradaban yang bagaimana yang dijanjikan kelak akan dipegang oleh mereka? Padahal dalam Islam, jika seorang anak Adam telah meninggal dunia maka akan terputus amalnya di dunia kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan doa anak yang shalih. Bagaimana kita berharap dari doa mereka jika semasa kita masih hidup saja mereka sudah rela menukar dengan kebohongan dan interest mereka kepada budaya asing.

Tak ada jalan lain, selain kembali kepada pengaturan Islam Kaffah, yang benar-benar menempatkan segala sesuatu secara adil. Tak akan ditemui praktik-praktik menghalalkan segala cara hanya agar satu tujuan teraih. Sebab, segala amal baik dan buruk akan dihisab oleh Allah SWT Sang Pemilik Hidup dan Kehidupan.

Krisis indentitas ini harus diakhiri dengan mengubah sejumlah aturan bermasyarakat dan bernegara. Tak boleh lagi berlandaskan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Namun menyandarkan kepada syari'at disetiap lini kehidupan. Wallahu a'lam bish showab.

Post a Comment for "Krisis Identitas, Penderitaan Akut Sekulerisme"