Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Generasi Halu, Layakkah Ditiru?

Jika memang dengan "belajar" semua tentang Korea, sehingga menghabiskan banyak waktu mereka untuk melihat maupun mendengarkan dari produk-produk Korea, apakah lantas membuat mereka semakin kreatif atau justru semakin "bucin" dengan Korea?, Apakah dari hal itu juga akan mampu membuat orang-orang Korea berduyun-duyun datang ke negeri ini?, Atau justru memicu generasi negeri ini datang ke Korea?
Oleh: Nila Indarwati (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Pernyataan mengejutkan datang dari orang nomor dua negeri ini. Dalam kesempatannya, Pak Wakil Presiden menyatakan bahwa, "Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri" (Tempo.co, 20/09/2020).

Tentu ini menggelitik untuk disikapi bersama. Benarkah budaya Korea mampu meningkatkan kreativitas anak bangsa atau justru semakin menjerumuskan mereka ke dalam budaya kebebasan?

Jika memang dengan "belajar" semua tentang Korea, sehingga menghabiskan banyak waktu mereka untuk melihat maupun mendengarkan dari produk-produk Korea, apakah lantas membuat mereka semakin kreatif atau justru semakin "bucin" dengan Korea?, Apakah dari hal itu juga akan mampu membuat orang-orang Korea berduyun-duyun datang ke negeri ini?, Atau justru memicu generasi negeri ini datang ke Korea?

Selanjutnya, mari kita lihat bagaimana Korea bisa mengekspansi budayanya hingga ke manca negara hingga digandrungi pemuda-pemudi dunia. Usut punya usut negeri ginseng tersebut bisa dikenal sebagaimana hari ini ternyata justru menutup diri mereka dari budaya luar agar tidak masuk ke negara mereka. Lalu mereka fokus di dalam negerinya untuk melahirkan budaya selayaknya budaya Barat, semisal hollywood.

Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang, mereka dicap sukses untuk itu. Namun, jika kita meneliti lebih dalam tentunya kita akan menjumpai bahwasanya hal ini tentu dipengaruhi dari satu pemikiran khas yang membuat para petinggi Korea, khususnya, yang melahirkan budaya tersebut dan karenanya mereka juga meraup keuntungan tak sedikit.

Itulah hasil pemikiran yang bersumber dari pemisahan agama dengan kehidupan (sekularisme) di mana materi menjadi tujuan utama. Kita bisa melihat dan mengakui bahwa Korea termasuk negara maju dengan kecanggihan teknologinya. Dari pemikiran sekularisme itu pula melahirkan budaya seperti K-Pop dan K-Drama. Sebab keduanya memberikan pemasukan besar bagi Korea. Inilah khas peradaban kapitalisme yang sarat dengan keuntungan materi.

Lalu, saat kita melihat generasi negeri ini. Negeri dengan mayoritas muslim ini, apakah layak membebek pada budaya yang berasal dari luar Islam?, Terlebih budaya itu justru semakin menjauhkannya dari Allah SWT, dari Islam. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana kehidupan serba bebas di Korea yang justru membuat generasinya banyak dirundung penyakit mental hingga berujung meninggal dengan cara bunuh diri.

Inikah hal yang dibanggakan sehingga patut ditiru oleh generasi kita?

Padahal, generasi negeri ini adalah aset yang harus dipersiapkan dan dilindungi dari penyakit sipilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme). Lalu bagaimana seharusnya agar generasi negeri ini menjadi generasi unggul?

Sejenak mari kita renungi bersama hadis Rasulullah ﷺ berikut ini, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669). Maka, layak kah generasi muslik negeri ini justru mengadopsi bahkan mengikuti apa-apa yang dihasilkan Korea dengan dalih meningkatkan kreativitas maupun menarik warga Korea agar datang ke negeri ini?

Hadist tersebut tentunya mampu menampar umat Islam, dan berupaya agar tidak terjerumus pada tipu daya kafir atau mengikuti budaya mereka. Dengan begitu sudah menjadi keharusan bagi negeri ini memahami bahwa yang mampu membuat negeri ini bangkit adalah akidah yang benar, yang datangnya dari Pencipta manusia, Allah ta'ala. Tak hanya sebatas itu, Allah juga telah memberikan seperangkat aturan yang rinci agar umat Islam selamat menjalani kehidupan. Maka, hanya dengan menerapkan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah saja lah yang mampu membuat generasi negeri ini unggul dan mulia.

Sejarah telah membuktikan bagaimana Khilafah berhasil mencetak generasi. Tengok saja panglima sang pembebas Konstantinopel, Muhammad al-Fatih, di usia belia mampu menaklukkan benteng kokoh Konstantinopel saat generasi sebelumnya tak berhasil. Lalu, sosok Salahudin al-Ayyubi yang dengan gagahnya melawan pasukan yahudi membebaskan Palestina. Juga sederet nama-nama yang tak lekang oleh waktu. Mereka dengan usia muda namun bervisi luar biasa. Itulah yang seharusnya juga ditanamkan ke generasi negeri ini, khususnya. Agar generasi negeri ini tak tersibukkan pada perkara sia-sia, seperti “bucin” dan halu, dan bersegera untuk mengambil bagian dalam perjuangan penegakan Islam. Menjadi garda terdepan lokomotif perubahan.

Post a Comment for "Generasi Halu, Layakkah Ditiru?"