Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

𝗖𝗿𝗲𝗮𝘁𝗼𝗿 𝘃𝘀 𝗛𝗮𝘁𝗲𝗿

Create or Hate. Penulisnya Dan Norris, seorang blogger,

By : 𝘠𝘶𝘥𝘩𝘢 𝘗𝘦𝘥𝘺𝘢𝘯𝘵𝘰

Pagi ini saya membaca sebuah buku yang tergeletak di pojok aplikasi iBooks saya. Sampul covernya lucu. Judulnya bikin penasaran: Create or Hate. Penulisnya Dan Norris, seorang blogger, technopreneur dan tentu saja creative writer. Ia menjadi milyuner di usia 36 tahun dengan membuat WordPress support business bernama WP Curve.

Yang saya suka dari buku ini adalah pandangannya tentang sukses. Cocok sekali dengan apa yang saya yakini. Kata anak sekarang; gue banget. Menurutnya sukses adalah peristiwa acak dan tak bisa diprediksi. Maka sangat naif kalo kita percaya mantra-mantra ala motivator; 7 langkah menuju sukses, 3 tahap dijamin bebas finansial, dan kata-kata bombastis lainnya.

Menurut Dan Norris, yang sudah jatuh bangun berkali-kali, bahkan orang-orang sukses tidak tahu bagaimana mereka bisa sukses. Dalam dunia rekayasa, jika sukses adalah hasil, maka dia tidak bisa di-reverse engineering, atau tidak bisa dibalik prosesnya dan diulang agar bisa mencapai hasil yang sama. Success is random and unpredictable, kata Dan Norris.

Dalam terma agama, sukses yang random dan unpredictable tadi disebut rezeki. Dan rezeki adalah qadha. Dan qadha adalah bagian dari takdir. Dan takdir tidak bisa kita kendalikan dan prediksi. Istilah Syaikh Taqiyudin An-Nabhani musayyar (menguasai manusia). Dia bagian dari rukun iman. Kita cukup diminta mengimani saja, baik atau buruknya dari Allah SWT. Selesai.

Dan Norris menyarankan, alih-alih fokus kepada yang tidak bisa kita kendalikan, fokuslah kepada aktivitas yang sepenuhnya bisa kita kendalikan. Aktivitas apakah itu? Aktivitas berkarya dan menciptakan sesuatu. Apakah menciptakan tulisan, buku, software, hardware, microblogs, podcast, Instargam post atau kanal YouTube yang bermanfaat.

Menurutnya inilah satu-satunya kesamaan orang-orang sukses. Mereka “menciptakan” sesuatu. Steve Jobs membuat computers. Henry Ford membuat mobil. Walt Disney membuat kartun. Richard Branson membuat pesawat. Elon Musk membuat roket. Oprah membuat TV shows. J.K. Rowling membuat buku. Bill Gates membuat software. List-nya bisa terus bertambah dan bertambah.

Menurut Dan Norris, mencipta dan berkarya merupakan hasrat dan kekuatan terdalam manusia. Namun kekuatan ini mendapatkan perlawanan yang sengit, yang berusaha menggagalkan dan menghancurkan upaya-upaya melahirkan maha karya. Kekuatan yang melawan “create” tadi adalah “hate”. Hate adalah representasi dari status quo, mendorong kita untuk diam di zona nyaman, meski kita berada di kubangan lumpur.

Ketika Anda ingin berkarya; lalu mendengar suara-suara; Anda tidak layak berkarya, orang akan mencemooh karya Anda, Anda tidak punya cukup waktu dan keahlian, karya Anda sudah banyak di pasaran, karya Anda tidak akan bisa bersaing, karya Anda melawan status quo, atau suara-suara serupa, semuanya adalah manifestasi dari kekuatan gelap “hate” untuk menghancurkan karya Anda jauh sebelum ia dilahirkan.

Hanya para creator yang “keras kepala”, berjiwa pemberontak, ikhlas dan jujur saja yang bisa mengalahkan perlawanan para haters tadi. Para creator ini berhasil berkarya karena mereka digerakkan oleh “the greater cause” dan bukan oleh motif-motif rendahan seperti ketenaran atau materi. Dan mereka terus berkarya dan berkarya.

“Create so much they can’t ignore you.” Ciptakan karya sebanyak-banyaknya sampai akhirnya mereka tak mampu lagi mengabaikanmu, kata Dan Norris. Dia mencontohkan, untuk mendapatkan sepuluh share saja, dari harus menulis 300 tulisan. Anda bisa melihat timeline sosial media saya, ada ratusan tulisan dan hanya puluhan (hanya beberapa yang ratusan) like dan share saja. And that's okay. Teruslah berkarya.

Tapi karya tidak hanya berwujud benda-benda seperti buku atau software saja. Peradaban kita adalah sebuah karya panjang kolektif manusia. Peradaban kita tidak jatuh dari langit, tapi diciptakan oleh para creator peradaban. Jika ada creator personal seperti Steve Jobs dan Bill Gates, ada pula creator peradaban seperti Adam Smith dan Karl Marx. Jika Steve Jobs dan Bill gates punya Apple dan Microsoft. Adam Smith dan Karl Marx punya kapitalisme dan komunisme.

Nah disamping berkarya secara personal, sebagai muslim kita punya tanggung jawab untuk berkarya secara komunal membangun peradaban mulia, berdasarkan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun sebagaimana upaya menciptakan karya personal mendapatkan perlawanan sengit para haters, demikian pula upaya menciptakan karya peradaban mendapatkan perlawanan sengit para haters peradaban. Mereka tidak rela status quo dan zona nyaman mereka diusik. Sekalipun mereka sebenarnya berada di kubangan lumpur peradaban.

Sebagai contoh, para haters di berbagai pelosok dunia saat ini sedang memviralkan tren membakar dan merobek Al-Quran. Di sini para juniornya dengan dosis sedikit lebih rendah tidak kalah semangat melecehkan ajaran agamanya sendiri. Misalnya dengan mengkriminalisasi dan mempersekusi para creator yang ingin mewujudkan bisyarah Rasulullah SAW; tsumma takunu khilafatan ‘ala minhajin nubuwwah.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Hanya para creator peradaban yang “keras kepala”, berjiwa pemberontak, ikhlas dan jujur saja yang bisa mengalahkan perlawanan para haters tadi. Terakhir tulisan ini saya tutup dengan memodif sedikit statement Dan Norris tadi: “Dakwah so much they can’t stop you.”

Selamat menciptakan maha karya pribadi dan peradaban!

Join Pedy's book club:

http://bit.ly/KluBuku

Post a Comment for "𝗖𝗿𝗲𝗮𝘁𝗼𝗿 𝘃𝘀 𝗛𝗮𝘁𝗲𝗿"