Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MUI Wadah Pemersatu dan Perjuangan Kaum Muslimin Menuju Kebangkitan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai saat ini usianya sudah 45 tahun, lembaga ini selalu dinisbatkan sebagai rumah besar umat Islam dengan segala perbedaanya. Ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang bersama berkumpul di bawah naungannya. Sampai usianya yang ke-45 ini MUI harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa Indonesia sampai dunia.

Oleh : Taofik Andi Rachman, M.Pd.

Semenjak berdirinya Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai saat ini usianya sudah 45 tahun, lembaga ini selalu dinisbatkan sebagai rumah besar umat Islam dengan segala perbedaanya. Ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang bersama berkumpul di bawah naungannya. Sampai usianya yang ke-45 ini MUI harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa Indonesia sampai dunia.

Perbedaan pandangan antara ormas Islam satu dengan yang lainnya sudah bisa dijembatani oleh MUI. Tugas MUI menjahit benang-benang kusur perbedaan itu menjadi kekuatan yang menyatukan. MUI diharapkan terus istiqamah dalam merangkul perbedaan di tengah umat, mencari titik temu atas perbedaan pandangan yang bisa disatukan, dan menghargai perbedaan pandangan yang tidak bisa disatukan.

MUI eksis dari hasil musyawarah para ulama yang tertuang dalam sebuah ‘Piagam Berdirinya MUI’, kesepakatan dari cendekiawan dan zuama yang datang dari berbagai penjuru nusantara, ada ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia, 10 orang ulama dari ormas-ormas Islam yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang cendekiawan sebagai tokoh perorangan.

Sampai usinya yang sudah matang ini MUI sudah berhasil menjalankan peran sesuai dengan masanya. MUI sudah menjadi pelita saat gelap gelap, menjadi pemersatu di tengah perbedaan, istiqamah dan sabar membimbing umat, amanah dalam tugas dakwah dengan dakwah penuh hikmah dan tugas lainnya. Dan pada zaman ini ada beberapa peran MUI yang harus dikuatkan untuk lebih bermanfaat bagi umat Islam keseluruhan.

A. Peran Pemersatuan Umat Islam Indonesia dan Dunia

MUI mempunyai peran penting yang bisa mempersatukan umat Islam tidak hanya di Indonesia namun juga dunia. Umat Islam Indonesia merupakan negeri muslim terbesar di dunia, kejadian yang terkait Islam di Indonesia akan terdengar di dunia. Sehingga peran persatuan umat dari MUI bisa ditingkatkan pada level ini.

MUI memiliki peran sangat penting dalam menjalankan perannya sebagai titik temu umat Islam yang terdiri dari banyak unsur namun disatukan dengan ikatan ukhuwah Islamiyah. Lembaga ini merupakan wadah ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim yang memahami perbedaan yang harus dihargai dalam sebuah pandangan.

Ada tiga Jenis perbedaan pada pandangan umat Islam yang harus dipahami sehingga umat bisa bersatu di bawah ukhuwah Islamiah. Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan. Hal ini bisa muncul baik karena nash yang menunjukan perbedaan makna dan juga perbedaan kemampuan mujtahid yang memahami nash tersebut.

Pertama, perbedaan karena penafsiran berbeda terhadap suatu masalah, yang masih mungkin disatukan. Upaya menyatukan perbedaan ini menjadi suatu hal yang amat mulia sesuai dengan kaidah “al-khuruj minal khilaf mustahabb”. Apalagi jika perbedaan itu dihapus oleh pemimpin umat, Amrul Imam Yarfa’ul Khilaf.

Kedua, Perbedaan berdasar pada ijtihadi dengan argumen shahih pada wilayah majalul ikhtilaf. Perbedaan di titik ini tidak mungkin disatukan. Maka perlu komitmen saling menghargai atau saling memahami perbedaan sehingga terwujud toleransi antar pandangan.

Ketiga, perbedaan yang harus diluruskan karena sudah masuk kategori menyimpang. Artinya tidak beleh ada perbedaan dalam jenis ini. Seperti jika ada yang berijtihad bahwa hukum shalat 5 waktu adalah makruh, maka perbedaan ini sudah perbedaan yang menyimpang. Perbedaan jenis ini ada pada masalah yang masuk kategori ma’lum mind din bi al-dlarurah, seperti tentang otentisitas Al-Qur’an, soal kewajiban salat, maka pada hakikatnya, ini bukan wilayah perbedaan yang bisa dimaklumi.

Selain merajut kesatuan dalam Islam di Indonesia, MUI harus memainkan peran strategis menjadi aktor utama dalam mewujudkan Ukhuwah Islam Global, komitmen persaudaraan Islam dunia untuk mewujudkan persatuan umat Islam lebih besar lagi. Sehingga ini merupakan modal utama dalam mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Dengan persatuan umat ini akan menjadi solusi dalam gerakan menyelamatkan kaum muslimin yang tertindas di negerinya. Jika umat Islam bersatu dalam memandang Palestina maka akan selesai masalah ini sudah lama.

Opini pesan persatuan umat Islam ini harus digelorakan agar Indonesia semakin diperhitungkan di kancah dunia. Dengannya, Indonesia bisa menjadi penentu ritme gerak global dan tidak hanya menjadi negara pengikut.

B. Peran Lokomotif Perjuangan Umat Islam

MUI merupakan salah satu lembaga mitra pemerintah tentu harus siap bekerja sama dengan pemerintah dalam membangun peradaban Indonesia. Umat Islam ingin menjadikan negara Indonesia menjadi negara maju tidak hanya pada materialnya saja, tapi juga spiritualitasnya, oleh karena itu kita menginginkan supaya negara kita tetap menjaga jati dirinya sebagai bangsa yang beragama.

Namun saat ini, perjuangan pembangunan peradaban Indonesia menjadi peradaban yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur tidak lah mudah dan MUI harus menjadi lokomotif utama dalam perjuangan ini.

Hal ini bisa dilaksanakan karena Umat Islam Indonesia memiliki komitmen tinggi terhadap pembelaan agama, kemanusiaan, maupun tentang persatuan, kesatuan, dan keadilan sebagai landasan peradaban.

Peran perjuangan Islam yang dilokomotifi oleh MUI sudah beberapa kali terjadi seperti dalam kasus penistaan agama terkait surat Al-Maidah 51. Terakhir, Penolakan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Bahkan MUI meminta dilakukan pengusutan kepada para inisiator RUU yang bercorak menghidupkan kembali faham komunisme.

MUI juga mendorong adanya “masirah kubro” dari umat Islam, jika Maklumat Penolakan RUU ini tidak diindahkan oleh DPR atau Pemerintah. Dengan maklumat ini umat Islam mengadakan aksi penolakam. Sikap umat Islam ini hampir terjadi di pelosok Indonesia yang merupakan tindak lanjut dari Maklumat MUI. Ditambah isu kebangkitan neo PKI dan komunisme melalui RUU ini juga yang menggerakkan penolakan umat.

Kalau kita lihat pada saat ini umat umat Islam diperlakukan tidak adil oleh rezim sekarang. Ada kebijakan untuk marginisasi umat Islam atau sekularisasi Ajaran Islam. Umat ditekan dengan isu intoleransi, radikalisme, bahkan terorisme yang memang selalu mengarah pada umat Islam. Kata Khilafah, jihad, dan kafir menjadi termin yang direduksi maknanya dan menjadi alat kambing hitam. Buku agama pun dirubah sana-sini. Kurikulum pendidikan sesuai KMA 183, dari Sekolah Dasar sampa dengan  Menengah Atas dimoderasi atau diliberalisasi.

Sudah zamannya bagi MUI untuk memposisikan diri sebagai lokomotif perjuangan umat Islam. Islam dan umat Islam harus dikembalikan dengan kewibawaannya sehingga tidak bisa diperlakukan seenaknya.

C. Peran Motivator Kebangkitan dari Keterpurukan Umat

Sebagai Lembaga berkumpulnya ulama, konsekuensinya MUI mengemban risalah kenabian sebagaimana para ulama merupakan pewaris nabi. Risalah kenabian paling utama adalah Islam. Sedangkan Islam merupakan anti tesis dari kezhaliman, kebodohan dan keterbelakangan. Namun, realitas umat Islam sekarang ada dalam anti tesis ini. Inilah tugas paling berat yang harus dijalankan oleh lembaga para Ulama ini dalam mewujudkan kebangkitan umat Islam sehingga terhindar dari keterpurukan.

Buya Anwar Abbas, di Ciputat, Tangerang Selatan, saat memberikan sambutan Milad MUI ke-45 berkata, “Oleh karena itu, kita sangat mengharapkan sekali dalam memomentum Milad MUI ini, mari kita tingkatkan persatuan kita, tidak hanya di dalam organisasi saja saja, tapi yang kita ingin majukan dan gerakkan ini adalah bagaimana supaya rakyat dan umat bisa bangkit.”

MUI merupakan lembaga yang mewadahi para ulama, para cendikiawan Muslim dalam rangka memberikan bimbingan kepada umat. Pembimbingan berbasis kebutuhan masyarakat atau berbasis masalah yang dihadapi umat Islam saat ini sangat dibutuhkan dan paling utama.

Sehingga MUI harus memberikan dorongan atau pesan sesuai dengan kondisi atau kebutuhan masyarakat yang ingin keluar dari keterpurukannya. Bisa dengan mendorong pembangunan kekuatan ekonomi umat sebagaimana dulu pernah menggagas bank Muamalat sebagai bank Syariah pertama.

Pesan-pesan kebangkitan ini lah yang diperlukan pada saat ini baik dalam pembangunan kekuatan ekonomi ataupun politik.

Politik Indonesia sekarang sangat pragmatis, setelah calon atau partai bersangkutan menjadi penguasa, umat Islam diacuhkan dan kebijakan untuk umat tidak ada, hilang oleh kepentingan para pemodal yang memiliki kekuatan ekonomi dan media.

Sehingga kita mengharapkan ada lembaga yang memberikan dorongan dan pesan kuat untuk umat Islam agar bisa segera bangkit dari keterpurukan untuk memperkuat diri, terutama di bidang ekonomi, ideologi atau pun politik. Semoga para orang tua kami dan para imam kami di MUI bisa menggambil peran ini lebih kuat lagi seperti yang pernah dilakukan. []

Selesai, Wa Allahu A’lam.

Dari Berbagai Sumber.

Post a Comment for "MUI Wadah Pemersatu dan Perjuangan Kaum Muslimin Menuju Kebangkitan"