Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menuju Resesi, Pertumbuhan Minus Ekonomi RI Dan Solusi Ekonomi Islam

Resesi adalah kata yang sering dibicarakan akhir-akhir ini terkait kondisi pertumbuhan ekonomi global yang minus di tengah pandemi Corona.


Oleh : W.Irvandi | Lembaga Kajian Analisis Dan Strategis Pemikiran Islam (ANSPI)

Resesi adalah kata yang sering dibicarakan akhir-akhir ini terkait kondisi pertumbuhan ekonomi global yang minus di tengah pandemi Corona. Sebanyak sembilan negara telah mengalami resesi akibat pandemi virus ini. Negara-negara itu adalah Amerika Serikat (AS), Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Filipina. Secara dua kali berturut-turut atau lebih, pertumbuhan ekonomi di kesembilan negara tersebut mencatatkan minus.

Sedangkan, di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 minus 5,32 persen. Artinya, jika tren minus tersebut berlangsung hingga kuartal III tahun 2020, Indonesia juga bisa masuk ke jurang resesi ekonomi sebagaimana dikutip dari Kompas. (kompas.com, 7/8/2020)

Pertumbuhan Ekonomi RI Minus

Ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 mengalami kontraksi alias tumbuh negatif 5,32% secara year on year. Dibandingkan kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 juga terkontraksi alias minus 4,19%. Pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia masih berhasil tumbuh positif 2,97% yoy.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I 2020 terkontraksi 1,26% year on year. "ini karena dampak Covid-19 yang begitu dahsyatnya sehingga ekonomi Indonesia terkontraksi pada kuartal II-2020," kata Kepala BPS Suhariyanto (kontan.co.id, 5/8/2020).

Julius Shiskin (1974) seorang ekonom telah mendefinisikan arti resesi adalah penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut. Artinya resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami PDB negatif, adanya kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan terjadinya kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang. Ada juga yang mendefenisikan penurunan signifikan yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Sebagaimana dirangkum dari Kontan yang mengutip dari Forbes, sebab-sebab terjadinya resesi diantaranya adalah (1) Guncangan ekonomi yang tiba-tiba, (2) Utang yang berlebihan (3) Gelembung aset, (4) Terlalu banyak inflasi dan (5) Terlalu banyak deflasi, dan (6) Perubahan teknologi. (kontan.co.id, 12/08/2020)

Utang Berbasis Riba Salah satu Penyebab Resesi

Resesi juga dianggap sebagai bagian yang tak terhindarkan dari siklus perekonomian suatu negara saat ini. Sedangkan Negara-negara di dunia saat ini telah mengadopsi konsep ekonomi Kapitalisme yang berasaskan pada utang riba, ekonomi non-riil dan penerapan uang kertas. Akhirnya, resesi akan terus terjadi dan berulang. Indonesia sendiri pernah mengalami resesi, tepatnya pada tahun 1998 bahkan dapat menuju kepada krisis ekonomi.

Faktor dominan penyebab minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1998 adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah kala itu terdepresiasi hingga lebih dari 80 persen sejak awal Juli terhadap dolar AS. Sedangkan tahun ini, pengamat banyak menyatakan resesi akibat dari wabah virus Corona yang berdasarkan Worldometers pada Jumat (7/8/2020) yang telah menjangkiti 19.261.406 orang.

Apabila dibandingkan dengan sudut pandang ekonomi Islam, maka penyebab resesi kali ini selain karena ada wabah pandemi namun juga disebabkan konsep kebebasan kepemilikan harta dan pengelolaannya, termasuk didalamnya adalah hutang yang mengandung riba. Riba sudah sangat jelas sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT berdasarkan firman-Nya dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 275 :

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Dalam ayat tersebut, orang-orang yang mengambil riba tidak akan dapat berdiri tegak. Konteks hari ini berdiri tegak dapat dimaksudkan kepada sesuatu yang tidak akan pernah stabil. Oleh karenanya menurut para pengamat politik ekonomi Islam, ketimpangan ekonomi hingga terjadinya resesi dikarenakan penerapan sistem ekonomi Kapitalisme yang berbasis riba.

Kerusakan sistem ekonomi Kapitalisme lainnya karna berdasarkan pada pola dan sistem untuk menopang kebebasan kepemilikan harta dan pengelolaan yaitu: (1) Sistem perbankan dengan suku bunga (2) Berkembangnya sektor non-riil dalam perekonomian sehingga melahirkan institusi pasar modal dan perseroan terbatas; (3) Utang luar negeri yang menjadi tumpuan dalam pembiayaan pembangunan; (4) Penggunaan sistem moneter yang diterapkan diseluruh dunia yang tidak disandarkan pada emas dan perak; dan (5) Privatisasi pengelolaan sumberdaya alam yang merupakan barang milik dan kebutuhan publik.

Pakar ekonomi Islam Dwi Condro Triono, Ph.D (2012) di dalam bukunya Ekonomi Islam Madzhab Hamfara juga menyatakan bahwa problem mendasar sistem ekonomi Kapitalis adalah terbatasnya sarana pemenuhan kebutuhan manusia atau disebut dengan istilah kelangkaan (scarcity). Dari problem ini, didukung dengan konsep bahwa kebutuhan manusia bersifat tidak terbatas.

Sedangkan, problem mendasar ekonomi menurut sudut pandang ekonomi Islam bukanlah pada kelangkaan tetapi ada pada distribusi barang dan jasa di tengah-tengah manusia. Sehingga seharusnya bagaimana memastikan setiap individu dapat menikmati kebutuhan pokok. Termasuk juga problem terkait dengan interaksi ekonomi, yaitu memastikan tidak ada riba, dan perekonomian hanya terjadi pada sektor riil.

Wallahu’alam

Post a Comment for "Menuju Resesi, Pertumbuhan Minus Ekonomi RI Dan Solusi Ekonomi Islam"