Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Komite Khilafah: Pembela Kekhilafahan Islam dari Bumi Nusantara





Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Masalah Khilafah adalah masalah global kaum Muslimin. Ketika Khilafah diruntuhkan pada 3 Maret 1924 banyak usaha dilakukan oleh kaum Muslimin sedunia wa bil khusus Bumi Nusantara.

Khilafah merupakan intisari pemerintahan Kaum Muslimin. Warisan Rasulullah SAW yang dilanjutkan oleh para Khalifah hingga 14 abad lamanya.

Maka ketika Khilafah ajaran Islam diruntuhkan, Muslim Nusantara kaget pelindung Kaum Muslimin telah 'dibunuh' dengan keji oleh Negara Bangsa Penjajah Barat dan para penguasa anteknya.

Hilangnya Khilafah berarti hilangnya penerapan Syariat Islam secara Kaffah. Oleh karena itu, dibentuklah Komite Khilafah yang didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924.

Komite Khilafah menggunakan kata Khilafah sebagai tujuannya. Komite ini diketuai oleh Wondosudirdjo (terkenal dengan nama Wondoamiseno) dari Sarekat Islam dan wakil ketua KHA Wahab Hasbullah. Komite Khilafah ingin segera mengembalikan Khilafah ke posisi semulanya sebagai kekuatan politis pelindung dunia Islam.

Komite ini diperkuat dengan mengadakan kongres Al-Islam ketiga di Surabaya bulan Desember 1924, yang antara lain memutuskan untuk mengirim delegasi ke Kongres Kairo, terdiri dari Surjopranoto (Sarekat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah) serta KHA Wahab dari kalangan tradisi (lihat pula artikel dalam Al-Wa'ie edisi Mei 2012).

Para Ulama ini sebenarnya mewakili aspirasi Kaum Muslimin di bumi Nusantara. Sebagai kaum yang dilebihkan Allah SWT ilmu agama dan pembina Umat di Nusantara, keprihatinan mereka akan runtuhnya Khilafah sangat mendalam.

Kekhilafahan bagi semua Kaum Muslimin adalah lambang politis ideologi Islam. Lewat Khilafah, dakwah Islam bisa tersebar ke seluruh dunia.

Islam bisa tersebar ke Nusantara berkat dikirimnya para utusan negara Khilafah yang kemudian dikenal sebagai Wali Songo di Nusantara. Wali Songo berhasil mendakwahkan Islam karena melaksanakan strategi dakwah yang mereka bawa dari negara asalnya Khilafah.

Wali Songo berhasil mendakwahkan Islam ke para Raja dan Sultan yang kemudian menurun kepada rakyatnya. Dalam waktu singkat Islam tersebar di wilayah Nusantara dan menjadikan negeri ini negeri terbesar penduduk Muslimnya.

Semangat Islam menjadi semangat anti penjajahan. Jihad dijadikan ruh melawan penjajah Barat seperti Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang.

Bahkan pada pertempuran 10 November 1945 melawan tentara sekutu NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutunya, Bung Tomo mendapatkan resolusi jihad dari Ulama Karismatik Hasyim Asy'ari. Hari itu kemudian disebut sebagai hari Pahlawan.

Maka ketika Khilafah runtuh, Kaum Muslimin di Nusantara merasa bahwa Pahlawan mereka telah tiada. Dan masih ada peluang untuk mengembalikan Kekhilafahan Islam ke pucuk kekuasaannya.

Komite Khilafah berharap mampu menemukan Khilafah baru setelah Turki Usmani menjadi republik karena disekulerkan oleh Mustafa Kemal Atturk (binaan Kolonial Inggris).

Memang Komite Khilafah belum berhasil menegakkan Khilafah. Namun, usaha mereka sudah tercatat sebagai amal jariyah. Berjuang di saat Khilafah 'diiris-iris' menjadi 53 negara bangsa oleh Kafir Imperialis Inggris dan para sekutunya.

Memang keadaan saat itu sangat tidak ideal dan kondusif karena Nusantara sendiri merupakan jatah jajahan kolonial Belanda. Namun, Usaha Komite Khilafah merupakan bukti sejarah bahwa Nusantara menganggap Khilafah sistem Pemerintahan Islam yang sangat urgen.

Sebuah Sistem yang ada dalam ajaran Islam. Semoga Komite Khilafah bisa ada lagi di zaman sekarang. Hadir dengan kondisi yang lebih ideal dimana Kaum Muslimin yang didukung oleh Ahlul Quwwah mampu menegakkan Khilafah dan mengusir dominasi penjajahan Kapitalisme Barat atas dunia. []

Bumi Allah SWT, 10 Agustus 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Komite Khilafah: Pembela Kekhilafahan Islam dari Bumi Nusantara"