Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Film “Jejak Khilafah di Nusantara” Upaya Mengembalikan Kebenaran Sejarah Indonesia

Salah satu tujuan dibuatnya film bertajuk “Jejak Khilafah di Nusantara” atau disingkat JKDN, menurut Nicko Pandawa, writer sekaligus director film JKDN adalah untuk membongkar konsep batil “Islam Nusantara”.

By Kanti Rahmillah

Salah satu tujuan dibuatnya film bertajuk “Jejak Khilafah di Nusantara” atau disingkat JKDN, menurut Nicko Pandawa, writer sekaligus director film JKDN adalah untuk membongkar konsep batil “Islam Nusantara”. Sebuah istilah yang digaungkan rezim anti islam untuk mengubur ajaran Islam politik, yang dilabeli dengan sebutan “Islam radikal”.

Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fiqih. Padahal, dalam menjalankan syariat tidak boleh mendasari selain dari dalil-dalil syariat.

Maka keberadaan fiqih yang mempertimbangakan adat adalah konsep batil yang tidak dikenal oleh ajaran islam. Adapun adat yang tidak bertentangan dengan syariat, boleh dilakukan. Namun keberadaanya tidak boleh menjadi salah satu unsur dalam mengeluarkan sebuah fiqh.

Selain gagasannya yang batil, islam nusantara pun oleh Nicko dianggap gagasan yang mampu mengotak-ngotakan Islam. Sehingga dari konsep demikian akan terlahir pemahaman bahwa Islam di nusantara berbeda dengan Islam di negara lain. Tak ada hubungannya Islam di Nusantara dan Islam di pusat kejayaanya.

Padahal jauh sebelum negara ini merdeka nusantara telah terhubung dengan pusat Islam di Turki Utsmani. Bahkan film ini telah menyodorkan fakta sejarah hubungan Nusantara dengan Pusat kekhilafahan di masa Khulafa Rasydidin.

Membongkar Kebohongan Sejarah

Selain itu, film ini pun bertujuan untuk membongkar kebohongan sejarah yang dilakukan para penjajah. Karena menurut Syeikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab ad Daulah al Islamiyah menyampaikan bahwa “sejarah adalah tafsir terhadap realitas kehidupan (masa lalu)”. Sehingga sejarah yang dituliskan pastilah terhubung dengan kekuasaan politik di masa itu.

Misalnya sejarah negeri ini yang menyematkan pelopor organisasi nasional pada organisasi Budi Utomo bukan Serikat Dagang Islam. Padahal organisasi yang didirikan oleh Dr Soetomo dan para mahasiswa STOVIA pada tahun 1908 adalah organisasi elitis. Karena hanya diperuntukan bagi golongan yang berpendidikan di Jawa saja.

Berbeda dengan organisasi Serikat Dagang Islam yang berubah namanya menjadi Serikat Islam, didirikan oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan pada tahun 1905. Anggotaya terdiri dari pedagang dari berbagai golongan. Bahkan di Kongres pertamanya tahun 1913 di Solo, SI mampu menghadirkan ribuan peserta.

Lantas mengapa sejarah Indonesia tidak mengambil hari kebangkitan Nasional dari tanggal lahirnya organisasi SDI, malah mengambil dari hari lahir Budi Utomo? Hal demikian terjadi karena tujuan dibentuknya organisasi SDI semata untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan belanda. Tentu hal demikian tidak disukai Penjajah.

Atau mengapa bapak pendidikan nasional disematkan pada Ki Hajar Dewantara bukannya Haji Ahmad Dahlan? Padahal Haji Ahmad Dahlan mendirikan Madrosah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada tahun 1911. Yaitu 11 tahun lebih awal dari Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di tahun 1922. Mengapa seolah ada pengaburan sejarah?

Menurut penjelasan Ismail Yusanto, hal demikian wajar terjadi. Karena jika semua sejarah nusantara terkuak, akan nampak sekali seluruhnya adalah spirit Islam. Sedangkan Belanda yang berkuasa saat itu, termasuk berkuasa atas apa saja yang dikeluarkan pers media kala itu, tidak menghendaki bibit-bibit perjuangan Islam menjadi semakin popular di tengah masyarakat nusantara.

Maka dari itu adalah sebuah urgensitas untuk rewriting dan retelling atas apa yang terjadi dalam sejarah kita. Pun dengan ajaran islam mengenai Khilafah yang kini sedang dimonsterisasi dan dianggap ajaran yang di import dari arab, juga tak sesuai dengan budaya kita. Maka kita harus mampu menjelaskan bahwa negeri ini mempunyai ikatan yang kuat dengan Khilafah.

Urgensitas Kebenaran Sejarah, Demi Ibroh yang Benar

Menggali kebenaran sejarah bukan hanya berbicara romantisme dan sentimentil terhadap sebuah peristiwa. Namun seperti halnya Al quran yang mengungkap banyak kisah beserta ibroh di dalamnya. Sejarah pun demikian. Sehingga ibroh itu bergantung dari kisahnya. Akan di dapat ibroh yang benar jika sebelumnya ada kisah yang benar.

Begitupun jika sejarah yang tercatat dan yang diingat itu keliru, ibrohnya pun akan keliru. Misalnya wali songo yang tertulis dalam sejarah kita mengatakan bahwa, mereka adalah pendakwah atas nama spirit individunya saja. Menyebarkan Islam melalui adat setempat. Begitupun islamisasi yang terjadi di nusantara adalah wujud interaksi para pedagang Gujarat dan masyarakat setempat.

Dari cerita sejarah diatas, ibroh yang terselip disana bahwa proses masuknya islam ke nusantara adalah alami lewat perdagangan. Dan tak ada hubungannya nusantara dan pusat kekhilafahan saat itu. Sehingga Khilafah bukanlah bagian dari sejarah umat islam Indonesia. Akhirnya mereka para pembenci islam bisa dengan lantang menarasikan bahwa perjuangan khilfah di Indonesia itu ahistoris. Benarkah demikian?

Wali Songo Utusan Khalifah Turki Utsmani

Menurut kitab Kanzul ‘Hum yang tertulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad 1. Awalnya, pada tahun 1404 M sultan mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke Pulau Jawa.

Dari kitab ini bisa kita lihat bahwa sesungguhnya walisongo adalah para ulama yang diutus Khalifah di masa Kekhilafahan Utsmanai untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Begitupun jumlah nya yang 9, sebenarnya jumlah wali dalam kitab tersebut dijelaskan lebih dari 9. Yaitu ada 7 angkatan yang maasing-masing angkatan tersebut berjumlah sekitar 9. Artinya disini, ulama yang menjadi utusan dari Khilafah saat itu cukup banyak jumlahnya.

Hj. Irena Handono mensyarah kitab tersebut dengan menjabarkan secara detil bahwa wali pertama angkatan pertama adalah Maulana Malik Ibrahim, asal Turki pada sekitar tahun 1400. Karena keahliannya dibidang politik dan irigasi, Syeikh Maulana pun menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusatara.

Seangkatannya ada Maulana Hasanudin yang mendirikan Kesultana Banten, dan sultan Aliudin. Keduanya datang dari Palestina. Setelahnya ada syeikh Ja’fah Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang sering kita sebut dengan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Sunan Kudus ini mendirikan sebuah kota kecil di jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus, nama ini berasal dari kata al quds (Jarusalem).

Dari para wali itulah kemudian islam menyebar kemana-mana hingga saat ini. Oleh karena itu, sungguh aneh jika ada yang mengatakan bahwa Khilafah tak memiliki akar sejarah di nusantara. Padahal jika kita menelisik fakta sejarah dengan benar, kita akan temukan hubungan yang harmonis antara khilafah dan nusantara. Dan seluruhnya semata untuk tersebarnya islam dan bentuk peri’ayahan (pengurusan) seorang Khalifah pada rakyatnya. Inilah pentingnya kebenaran sejarah agar tercipta ibroh yang benar.

Upaya Mengembalikan Khilafah Adalah Kewajiban

Runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmani pada 3 maret 1924 adalah peristiwa terburuk yang dihadapi umat muslim seluruh dunia. Banyak kalangan aktivis termasuk aktivis pergerakan nusantara, kala itu bernama Hindia Belanda, berupaya untuk mengembalikan kembali Daulah Khilafah Islamiyah.

Berbagai Kongres dilakukan, seperti kongres di Mekah dan Kairo. Di nusantara sendiri telah terselenggara KUII (Kongres Ulama Islam Indonesia) di Garut pada bulan Mei 1924. Pembahasan yang menjadi fokus adalah nasib umat pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani.

Saat itu, sistem khilafah resmi dihapus dan digantikan oleh sistem sekuler oleh Mustafa Kemal Ataturk, yang dalam buku sejarah sekolah disebut sebagai bapak pembangunan Turki. Padahal, dialah yang meruntuhkan Islam secara biadab. Bahkan, haji Agus Salim kala itu mengatakan bahwa kesatuan umat islam ikut rusak dengan runtuhnya khilafah islam.

Begitupun aksi-aksi dan tulisan di media masa, membahas topik sama yaitu runtuhnya kekhilafahan. Namun, sejarah mengubur dan mengaburkan semua itu. Sejarah yang dijejali kepada generasi adalah sejarah yang jauh dari spirit islam. Padahal, tak akan ada motivasi tertinggi untuk melawan penjajah dengan gagah berani, selain ruh jihad. Yang terus bergerumuh di dada-dada para pejuang bangsa.

Hanya butuh kekuatan politik untuk membungkam suatu kebenaran. Lihat saja fakta kematian 800 orang lebih saat terjadinya pemilu tahun 2019. Kematian yang tiba-tiba dan serentak, menguap begitu saja. Apalagi sejarah yang telah berpuluh-puluh tahun dan bahkan beratus-ratus tahun telah terjadi, sangat mungkin untuk dikubur dan dikaburkan.

Rezim represif anti islam yang terus mengkriminalisasi ajaran islam Khilafah. Mengkambing hitamkan Khilafah atas buruknya kinerja mereka. Padahal, seluruh problematika negara ini tercipta di bawah kerakusan syahwat mereka. Sistem demokrasi yang absurd telah melahirkan para pemimpin bodoh dan tak berhati nurani. Akhrnya tata kelola negara ini dikangkangi korporasi.

Maka dari itu, jika kita menginginkan negeri ini terbebas dari para pemimpin bodoh yang tak mengerti cara mengelola negara. Dan juga terbebas dari para korporasi yang terus saja dilindungi oleh rezim boneka. Maka mari lihat sejarah dengan benar, mengapa para ulama terdahulu menginginkan nusantara terbebas dari penjajahan. Dan mengapa mereka begitu giat untuk mengembalikan Khilafah Islam. Semua itu karean para pendahulu bangsa telah paham bahwa hanya Khilafah Islam lah yang akan memberikan kemaslahatan pada umat manusia.

Di bulan muharom ini. Bulan mulia penuh keberkahan. Mari kita teguhkan kembali perjuangan kita dalam mewujudkan Daulah Khilafah ala min haji nubuwah. Film ini adalah ikhtiar dalam mengajak seluruh kaum muslim untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan islam yang rahmatan lil alamin.

Post a Comment for "Film “Jejak Khilafah di Nusantara” Upaya Mengembalikan Kebenaran Sejarah Indonesia"