Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menakar Peran Negara dalam Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan

Negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap maraknya kekerasan pada anak. Minimnya pemahaman agama pada orang tua adalah juga diakibatkan oleh sistem negara ini yang sekuler. Sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada akademik, namun minus nilai-nilai kehidupan yang berasaskan agama. Nilai-nilai yang dibangun dan diadobsi oleh negara ini, malah mengimpor dari barat. Wajar budaya liberal semakin membelukar.

By Kanti Rahmillah, M.Si

Era Pandemi telah juga memberikan ruang terhadap problematika kekerasan terhadap anak perempuan. Ekonomi yang tidak stabil disertai dengan aktivitas yang full di rumah, membuat problematika keluarga semakin pelik. Perceraian, KDRT termasuk kekerasan terhadap anak pun meningkat.

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengatakan dua dari tiga anak dan remaja di Indonesia mengalami kekerasan. Menurut data yang diambil dari Simfoni-PPA, mulai Januari hingga 17 Juni 2020, tercatat kekerasan terhadap anak sebanyak 3.928. Artinya hanya dalam waktu kurang lebih 5 bulan telah terjadi ribuan kasus kekerasan terhadap anak.

Kekerasan pada anak meliputi kekerasan seksual, fisik maupun emosional. Dan sebagian besarnya, yaitu 55 persen adalah kekerasan seksual. Ini adalah data yang tercatat, artinya jumlah kasus yang terjadi secara real pastinya lebih banyak. (gesuri.id 22/07/2020)

Sumatera Selatan mencatat selama 5 bulan ini telah terjadi 127 kekerasan terhadap anak dan 80 persennya adalah anak perempuan. Begitupun kasus tertinggi di Jawa Timur, telah tercatat sebanyak 699 kekerasan pada anak, lokasi terbanyaknya dilaporakan terjadi di rumah tangga, disusul fasilitas umum dan sekolah.

Begitupun Komnas Perempuan mencatat bahwa inses atau hubungan seksual satu darah merupakan kasus kekerasan seksual terbanyak yang dialami oleh anak perempuan. Pelaku terbesar adalah pacar, disusul ayah kandung dan ayah tiri. (cnnindonesia.com 07/03/2020)

Kekerasan pada anak bukan hanya terjadi di Indonesia, seluruh dunia terutama negara barat memiliki problem yang sama. Bahkan angkanya cukup fantastic, menurut data terbaru WHO, UNESCO, UNICEF separuh dari total populasi anak di dunia atau satu miliar anak mengalami kekerasan. Alasan tingginya kekerasan pada anak diakibatkan oleh kegagalan kebijakan dalam perlindungan anak.

Akar Masalah Budaya Liberal dan Minim Pemahaman Agama

Kekerasan terhadap anak khususnya pada anak perempuan bukan kasus baru. Angkanya setiap tahun semakin bertambah. Apalagi di era pandemi ini, ketidakstabilan ekonomi telah ikut memperunyam konfik keluarga. Seringnya ayah di rumah pun seolah menjadi pembenaran perlakuan bejat mereka.

Padahal, ayah adalah kepala keluarga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi anak-anaknya. Namun sungguh sayang, ketidakpahaman mereka terhadap agama dan juga budaya liberal yang terlanjur melekat dalam perilaku masyarakat, malah menjadikan seorang ayah sebagai predator utama bagi anak-anaknya.

Carut marutnya perekonomian bangsa juga, telah melahirkan ibu yang harus ikut membantu ekonomi keluarga. Sehingga melalaikan kewajiban utamanya dalam mengurus rumah tangga. Kekerasan seksual yang terjadi oleh ayah kandung atau ayah tiri pada anak-anaknya, seharusnya tidak akan terjadi jika sang ibu benar-benar fokus mengurus keluarga. Melayani kebutuhan sang ayah dengan optimal dan menjadi penyejuk seluruh anggota keluarganya.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat teraman dalam perlindungan pada anak, nyatanya rumah lah yang menjadi tempat tertinggi terjadinya tindakan kekerasan. Posisi orang tua yang lebih kuat di dalam rumah, telah memicu tindakan sewenang-wenang mereka terhadap anak yang posisinya lemah. Mengapa orang tua malah menjadi monster bagi anak-anaknya?

Pertama, kurangnya pemahaman orang tua terhadap agama. Mereka tak memahami dengan benar bahwa seorang anak adalah amanah yang seharusnya menjadi ladang pahala bagi mereka. Allah Swt. telah jelas menyampaikannya dalam ayat-ayatnya.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras; mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]:6)

Artinya anak adalah amanah bagi orang tuanya. Jika orang tua lalai dalam menjaga anak-anak mereka, apalagi menjadi penyebab kemudhorotan pada mereka. Maka yang demikian itu adalah pelanggaran atas perintahNya. Dan mengundang laknat Allah Swt. bagi orang tua yang mencelakai anaknya.

Padahal, anak adalah aset akhirat buat kedua orang tuanya. Karena jika orang tua mendidiknya dengan serius. Menjadikannya insan yang solih solihah, maka doa anak akan terus mengalir walaupun kedua orang tuanya sudah meninggal.

“Jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR Muslim)

Kedua, Budaya liberal atau kebebasan bertingkah laku yang diimpor dari peradaban barat telah menjadikan manusia bebas berbuat sesuka hati. Tak peduli apakah perilakunya memberikan kemudorotan pada sekitar, bahkan menghancurkan masa depan anak-anak mereka.

Budaya liberal lahir dari peradaban yang tak melibatkan penciptanya dalam mengatur kehidupan umat manusia, yaitu sekulerisme. Peradaban yang sangat mendewakan syahwat dan kepuasan jasadiah semata. Yang penting terpuaskan keinginannya, tak peduli akibatnya, yang penting bahagia versi mereka.

Budaya inilah yang mengubah sosok ayah sebagai pelindung keluarga menjadi monster yang merusak masa depan anak-anak mereka. Karena budaya liberal tak mengenal sosok ayah sebagai tauladan bagi anggota keluarganya. Ayah menjadi individu yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Mengejar kepuasan jasadiyahnya sendiri.

Begitupun sosok ibu yang seharusnya hadir membersamai tumbuh kembang anak-anak mereka, nyatanya budaya liberal telah juga membuat ibu tak paham tugas utamanya. Mereka mencari eksistensi diri diluar rumah. Sibuk dengan relasi dan kesenangan hidupnya. Pengurusan anak disubkontrakan pada sekolah dan pembantu.

Padahal, tugas utama ibu adalah ummun wa robbatul baiti. Seorang ibu dan manajer rumah tangga. Seharusnya sososk ibu adalah dia yang mejaga dan menyayangi anak-anak mereka dengan sepenuh hati. Mengajarkan islam dan bagaimana caranya agar anak-anak hidup mulia di mata sang pencipta. Rumah pun akan menjadi tempat yang nyaman jika sang ibu fokus pada tata kelola rumah tangga. Yang pada gilirannya kekerasan pada anak tak akan terjadi.

Ketiga, negara adalah institusi yang menjadi garda utama dalam perlindungan pada warganya. Kebijakan-kebijakan yang lahir dari sistem sekuler barat, telah nyata tak menyelesaikan masalah. Undang-undang perlindungan anak pun tak menyentuh permasalahan mendasar anak. Misalnya UU mengenai batas usia pernikahan yang mengharuskan anak menikah diatas 18 tahun. Padahal, islam sendiri tidak membatasi kapan seseorang bisa menikah. Undang-undang ini pun menjadi kontroversi di tengah maraknya perzinahan pada anak.

Negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap maraknya kekerasan pada anak. Minimnya pemahaman agama pada orang tua adalah juga diakibatkan oleh sistem negara ini yang sekuler. Sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada akademik, namun minus nilai-nilai kehidupan yang berasaskan agama. Nilai-nilai yang dibangun dan diadobsi oleh negara ini, malah mengimpor dari barat. Wajar budaya liberal semakin membelukar.

Negara sekuler kapitalis pun telah mensuport teciptanya kebebasan bertingkah laku. Media porno bertebaran di mana-mana dan bisa diakses oleh semua kalangan. Pakaian minim tak menutup aurat dibiarkan. Bahkan keberadaanya dieksploitasi oleh media. Bisnis berbau syahwat terus menjamur beriringan dengan semakin liberal nya kelakuan masyarakat Indonesia.

Padahal, fungsi negara dalam islam adalah sebagai perisai dan pengurus urusan umatnya. Negara seharusnya mengusir nilai-nilai yang bertentangan dengan agama, apalagi telah jelas kemudorotannya. Negara pun seharusnya mempunyai kuasa atas media yang ada. Bisnis yang hanya mementingkan keuntungan namun merusak generasi tentu harus ditindak, jangan dibiarkan.

Oleh karena itu, penyelesaian atas permasalahan kekerasan pada anak jangan hanya dilihat dari satu aspek. Harus dibangun sistem yang mendukung terlahirnya kehidupan yang ramah pada anak. Baik di rumah ataupun di luar rumah. Ayah ibu nya memahami agama, sehingga menjalankan bahtera rumah tangga dengan panduan Islam. Begitupun negaranya hadir menjadi penjamin rasa aman bagi seluruh warganya.

Post a Comment for "Menakar Peran Negara dalam Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan"