Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KHILAFAH TIDAK COCOK DITERAPKAN PADA ZAMAN SEKARANG ?

kalimat dalam redaksi baliho itu justru yang memecah belah persatuan umat. Semestinya, saat ini umat didorong untuk bersatu menerapkan syariat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah. Bukan malah ditakut-takuti dengan narasi jahat yang ingin menjauhkan Umat dari Khilafah

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Beredar foto dari sebuah Baliho yang tertulis dikeluarkan PC NU Kota Cirebon. Infonya, baliho tersebut dipasang di depan Masjid Raya at-Taqwa Kota Cirebon.

Ada Foto Habib Luthfi Bin Yahya, kemudian terdapat tulisan yang dinisbatkan kepadanya dengan redaksi : "Khilafah tidak cocok diterapkan pada zaman sekarang, sebab Indonesia Negara plural. Saya menjaga Umat Islam agar tidak pecah".

Terlepas, masih dipertanyakan apakah benar quote tersebut dari sosok yang ada dalam baliho, namun redaksi baliho ini sangat bermasalah. Lebih bermasalah lagi, jika benar ada Ormas Islam yang justru sependapat dan mengiklankan redaksi baliho tersebut.

Pertama, bagaimana mungkin menyatakan Khilafah tidak cocok diterapkan pada era now, sementara penegasan ketidakcocokan dinisbatkan pada tempat (locus). Semestinya, jika yang dipersoalkan waktu tentu rujukannya juga waktu (tempus), bukan pada tempat.

Misalnya saja, jika kalimatnya dikatakan : "Khilafah tidak cocok diterapkan pada zaman sekarang, Khilafah hanya cocok diterapkan di era Kulafaur Rasyidin". Redaksi yang seperti ini masih bisa nyambung dari aspek tata bahasa, meskipun secara substansi jelas keliru total.

Sebab, Syariah Islam yang diterapkan oleh para Khalifah terdahulu, itu juga berlaku bagi generasi selanjutnya hingga hari kiamat. Karenanya, tidak bisa menegasikan apalagi menolak memberlakukan syariah Islam hanya dengan anggapan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Karena itu, redaksi : "Khilafah tidak cocok diterapkan pada zaman sekarang, sebab Indonesia Negara plural" selain salah dari aspek tata bahasa, juga keliru total secara substansi. Penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah, adalah kewajiban bagi segenap Umat Islam yang berlaku hingga akhir zaman.

Adapun, kondisi Khilafah telah dihancurkan oleh orang kafir melalui antek Yahudi Mustafa Kamal La'natullah, bukanlah alasan untuk menolak Khilafah. Bahkan, keadaan ini yakni ketiadaan Khilafah sejak tahun 1924 hingga hari ini, semestinya menjadi pemicu segenap kaum muslimin untuk segera mengembalikan Daulah Khilafah.

Rasulullah ﷺ telah bersabda:

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796)).

Kedua, semestinya menolak atau menerima suatu urusan itu berdasarkan dalil, baik Al Qur'an, as Sunnah, ijma' Sahabat dan Qiyas Syar'i. Bagaimana mungkin menolak Khilafah yang diwajibkan berdasarkan Al Qur'an, as Sunnah dan Ijma' Sahabat hanya berdalih pluralisme ?

Kalau yang dimaksud plural adalah keberagaman, kebhinekaan, bukankah Islam itu Rahmat bagi semesta alam ? Bukankah, saat Rasulullah SAW memimpin Daulah Islam Madinah, rakyat Madinah juga plural ? Disana, ada suku Aus, suku Khazraj, ada kaum Anshar dan Muhajirin, ada Yahudi Bani Nadir, Qoinuqo dan Quraidhoh. Bahkan, ada juga kaum musyrikin dari suku Majusi.

Daulah Khilafah yang dipimpin oleh Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, Ali RA, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, hingga KhilafahTurki Utsmani juga menguasai wilayah yang luas dan sangat plural. Namun dengan menerapkan Islam, Daulah Khilafah mampu menyatukan wilayah yang terdiri dari banyak suku bangsa dan Agama.

Ketiga, apa maksud redaksi : Saya menjaga Umat Islam agar tidak pecah ? Bukankah kalimat ini merupakan tuduhan terhadap Khilafah ? Seolah-olah, umat Islam akan terpecah belah jika diterapkan Khilafah.

Padahal, justru sejak Khilafah terakhir di runtuhkan di Turki, sejak saat itulah kaum muslimin terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara, dengan bentuk Negara yang menyelisihi Al Qur'an dan as Sunnah. Sejak Khilafah runtuh, kaum muslimin terpecah belah dengan membentuk sejumlah kerajaan, Negara Republik, dan bentuk Negara lainnya yang tidak syar'i.

Problem keterpecahan Umat Islam karena Umat Islam kehilangan Negara Khilafah, kehilangan khalifah untuk didengar dan ditaati, kehilangan kehidupan yang menerapkan Al Qur'an dan as Sunnah. Jadi, solusi bagi perpecahan umat Islam justru dengan mengembalikan kehidupan Islam dengan kembali menegakkan Khilafah.

Saya meyakini, kalimat dalam redaksi baliho itu justru yang memecah belah persatuan umat. Semestinya, saat ini umat didorong untuk bersatu menerapkan syariat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah. Bukan malah ditakut-takuti dengan narasi jahat yang ingin menjauhkan Umat dari Khilafah. [].

Post a Comment for "KHILAFAH TIDAK COCOK DITERAPKAN PADA ZAMAN SEKARANG ?"