Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam Pudarkan Pelangi di Logo Unilever

Islam Pudarkan Pelangi di Logo Unilever

Penulis : Vinci Pamungkas

18 Juni lalu PT unilever global menyatakan dukungannya bagi gerakan L3sb14n, G4y, B1seksu4l, Tr4nsg3nder, Qu33r, dan 1nters3x (L68TQI+) di akun Instagram resminya. “Kami berkomitmen untuk membuat kalangan L68TQ1+ bangga dengan Unilever, karena perusahan merupakan bagian dari mereka”. Begitu kira-kira arti dari postingannya. Postingan itu juga disertai logo Unilever dengan warna pelangi. Warna yang identik sebagai simbol kalangan L68T. (www.kumparan.com)

Postingan ini sontak dihujani komentar oleh para netizen. Netizen Indonesia mendominasi kolom komentar. Beragam reaksi yang mereka sampaikan namun mayoritas menyatakan penolakan keras. Hingga berujung pada ajakan boikot produk-produk unilever. Bahkan #boikotunilever sempat trending di twitter. (www.hops.id)

Unilever bukan yang pertama dan bukan pula satu-satunya multinational corporation (MNC) yang merestui aksi kaum terlaknat itu. Tercatat lebih dari 20 MNC yang secara terbuka memberikan dukungan pada pelaku L68T. Diantaranya: apple inc, microsoft corp, google inc, nike inc, walt disney.co, visa, mastercard, yahoo! Inc, dll. (www.hops.id) Daftar MNC yang melakukan aksi seperti dapat terus bertambah jika tidak ada undang-undang yang mencegahnya.

Hanya Boikot, Tidak Cukup!

Unilever adalah perusahaan consumer goods yang telah memiliki 400 merek dagang. Dinobatkan sebagai produsen barang rumah tangga terbesar ketiga di dunia. Berpusat di Belanda dan Inggris. Perusahaannya tersebar di lebih dari 180 negara termasuk Indonesia. PT. Unilever Indonesia sendiri telah berdiri sejak 1933. Sudah 86 tahun merajai produk rumah tangga Indonesia. Dengan kualitas nomor wahid dan harga yang terjangkau. Siapa yang tak kenal dengan pepsodent, sunsilk, lux, rinso, dll. Merek-merek itu begitu lekat di setiap keluarga Indonesia. (id.wikipedia.org)

Ajakan untuk memboikot produk unilever masih menggema hingga detik ini. Sependuduk Indonesia mungkin mampu melakukannya. Banyak merek lain yang bisa menggantikan produk unilever. Namun, pemboikotan ini hanya akan berpengaruh kecil bagi salah satu perusahaan tertua di dunia ini. Dan aksi dukungan terhadap L68T dapat Kembali dilakukan oleh MNC manapun, perusahaan apapun, bahkan oleh siapapun. Tak akan berhenti selama kebebasan bertingkahlaku dan kebebasan berpendapat dijamin oleh negara.

Sebagaimana kita ketahui, negara yang menganut sistem liberalisme menetapkan empat jaminan kebebasan bagi rakyatnya, antara lain: kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, kebebasan bertingkahlaku, dan kebebasan berpendapat. Tak terkecuali Indonesia. Maka saat kejadian ini viral, tidak ada yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia selain membiarkannya. Padahal jelas-jelas L68T bertentangan dengan islam yang menjadi agama mayoritas penduduknya. Oleh karena itu, cara yang paling tepat dan efektif untuk menghentikan aksi dukungan terhadap kaum L68T adalah dengan mengganti sistem liberalisme. Ideologi penggantinya tentu bukan sistem sosialisme. Karena sosialisme tidak mempedulikan orientasi seksual individu. Sistem Islamlah yang pantas menggantikannya. Serta mampu menyelesaikan permasalahan aksi dukung mendukung kemaksiatan.

Islam Membungkam Aksi Dukung Kemaksiatan

Perilaku L68T merupakan kemaksiatan. Tidak ada satupun ulama yang berbeda pendapat tentang hal ini. Terpampang jelas di dalam alquran surat Al A’raf;80-81.

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ 

80. Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?"

81. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.


Rasulullah ﷺ bersabda :
مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْم
َلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ 

Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” [HR Tirmidzi dan yang lainnya, dishahihkan Syaikh Al-Albani]

Jika ada orang atau sekelompok orang yang mendukung aksi maksiat maka Allah tak segan memberi siksaan kepada mereka. Sebagaimana firmanNya:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al Maidah: 2)

Jangankan mendukung, membiarkan kemaksiatan saja merupakan dosa bagi kaum muslimin. Sabda Rasulullah ﷺ:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’ “ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya)

Berdasarkan dalil di atas, dalam sistem khilafah, para pelaku L68T dan pendukungnya akan diberikan sanksi sesuai dengan syariat islam. Pelaku L68T diberikan hukuman mati. Pendukungnya dihadiahi sanksi ta’zir sesuai keputusan khalifah. Sanksi ini akan membuat jera pelakunya. Pun mereka yang melihat niscaya akan segera mengurungkan niatnya. Dijamin tidak akan ada lagi yang berani mendukung perilaku bejat L68T.

Selain tindakan penanganan, ada pula upaya pencegahan. Negara khilafah akan mencegah masuknya ide-ide liberal masuk ke benak warga negara khiilafah. Menjaga akidah mereka kuat hanya dengan islam. Karena ide liberal ini yang melahirkan ide kebebasan yang kebablasan.
Wallahua’lam

Post a Comment for "Islam Pudarkan Pelangi di Logo Unilever"