Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ULAR TUKANG SIHIR FIR’AUN vs KHILAFAH-ISME

Wahyudi al Maroky (Dir. Pamong Institute)

Oleh: Wahyudi al Maroky (Dir. Pamong Institute)

Ketika tukang sihir Raja Fir’aun melemparkan tali temali, maka tali itu berubah menjadi ular. Namun ini hanya dalam pandangan mereka yang sudah terpengaruh mantra tukang sihir itu. Wajar jika kemudian mereka takut dengan ular-ular itu. Tentu berbeda bagi Nabi Musa AS yang tidak merasa takut karena tidak sedang dalam pengaruh mantra para tukang sihir itu.

Pertanyaannya, benarkah tali temali yang dilemparkan oleh para tukang sihir itu berubah menjadi ular? Jauh sebelum Ipin dan Upin (bocah kartun melayu) menjawab itu dengan istilah Silap Mata, 14 abad yang lalu islam telah menjawabnya. Allah telah memberitahu kita bahwa itu hanya tipuan para tukang sihir saja. "…Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang". (QS. Thaha : 69).

Para Tukang sihir itu sangat Paham bahwa tali mereka tetaplah tali yang tak berubah jadi Ular. Sementara tongkat nabi Musa benar-benar berubah jadi Ular. Mereka sangat memahami hal itu, sehingga mereka pun bertobat dan beriman.

Para tukang sihir Fir’aun dengan mantranya berhasil mempengaruhi pandangan publik. Sesuatu yang sejatinya hanya tali temali, mereka buat seolah-olah tali itu terlihat sebagai ular yang begitu menakutkan. Lain dulu lain sekarang. Jika dulu rakyat Fir’aun ditakut-takuti dengan tali “ular”, saat ini kita ditakut-takuti dengan istilah Khilafah.

Dulu tali yang sangat bermanfaat untuk mengikat dan menyatukan justru “dimantrai” sehingga nampak seperti ular yang menakutkan. Ular yang membahayakan, ular yang akan membunuh dan memakan mereka. Meski kini tukang sihir Fir’aun tak ada lagi. Namun kini ada yang mencoba “memantrai” Khilafah dengan istilah Khilafahisme, sehingga tampak begitu menakutkan.

Di zaman “now” Mereka mencoba membuat makar dengan “memantrai” khilafah dengan istilah “Khilafah-isme”. Kemudian dengan lancang memosisikan khilafah itu sejajar dengan ajaran buatan manusia yang buruk, yang sudah dikesankan negatif seperti; komunisme, leninisme, radikalisme, dll. Padahal khilafah adalah sistem pemerintahan yang diwariskan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat mulia dan kaum muslim. Ketika beliau SAW wafat, sistem pemerintahan itu dilanjutkan oleh Khalifah Abubakar, Khalifah Umar, dst.

Hari ini Khilafah ibarat tali ditangan tukang sihir Fir’aun. Setelah di bacakan “mantra”, maka Khilafah berubah menjadi sesuatu yang terlihat sangat menakutkan. Siapa pun yang sudah terpengaruh mantra itu maka akan melihat seolah-olah Khilafah itu seperti ular yang menakutkan dan membahayakan.

Khilafah yang mempersatukan justru mereka anggap akan memecah-belah. Khilafah yang hukumnya wajib, justru dimata mereka tampak tertolak. Khilafah yang menyejahterakan dan menjadi rahmatan lil’alamin, dimata mereka tampak menyusahkan. Bahkan ada yang menghayalkan seolah-olah seperti di suriah. Padahal betapa banyak catatan emas sejarah Khilafah yang menyejahterakan.

Tentu tak semua orang terpengaruh dengan mantra tukang sihir itu. Banyak juga yang tak mempan dengan mantra para tukang sihir itu. Bagi mereka Khilafah itu tetaplah ajaran islam yang baik. Ajaran yang datang dari Allah SWT Sang Pencipta semesta alam. Ajaran yang membawa rahmat bagi semesta Alam, juga ajaran yang diwajibkan oleh Allah sang Pencipta alam, manusia dan kehidupan beserta segenap aturannya. Lalu bagaimana nasib mereka yang tak terpengaruh?

Sebagaimana di jaman Fir’aun, Dia mengejar nabi Musa dan para pengikutnya. Setelah gagal dengan para tukang sihirnya, Dia mengerahkan aparat dan pasukannya untuk mengejar mereka sampai tersudut di tepi Laut Merah. Sampai Allah menurunkan pertolonganNya untuk menyelamatkan Nabi Musa beserta pengikutnya. Sebaliknya menghinakan dan menenggelamkan Fir’aun beserta pengikutnya.

Begitulah cara Fir’aun menjaga kekuasaannya. Ia mengerahkan tiga komponen sekaligus.

PERTAMA, Para ilmuwan dan Ahli Nujum. Mereka adalah orang pintar yang bisa memprediksi bahkan bisa membaca masa depan. Mereka meramalkan akan lahir bayi laki-laki yang akan meruntuhkan kekuasaannya. Hal ini digunakan untuk melegitimasi kebiadabannya membunuh semua bayi laki-laki yang lahir. (di zaman kini ada juga mereka yang meramal dan memfitnah bahwa akan ada ummat islam yang hendak meruntuhkan kekuasaannya).

KEDUA, Para Tukang Sihir. Mereka inilah yang bekerja memoles dan mengubah pandangan publik. Sesuatu yang baik mereka bacakan “mantra” dengan fitnah terus menerus melalui propaganda buruk sehingga nampak sangat bahaya. Sebaliknya sesuatu yang biasa saja bahkan buruk, merek poles dan bacakan “mantra” di berbagai media sehingga nampak sangat bagus. Mereka pun menakuti-nakuti publik agar mau mengikuti pandangan dan keinginannya.

KETIGA, Para aparat dan pasukan. Jika mantra tukang sihir tak mempan lagi untuk mempengaruhi pandangan publik maka mereka akan menggunakan kekerasan. Mereka akan mengerahkan aparat dan pasukannya untuk melakukan kriminalisasi. Sebagaimana Fir’aun menggunakan aparat dan pasukannya untuk mengejar Musa dan pengikutnya sampai tersudut di tepi laut.

Akankah orang-orang yang masih berakal sehat dan tak mempan dengan mantra para tukang sihir itu akan mengalami nasib yang sama dengan Nabi Musa dan pengikutnya? Akankah mereka ditekan, dipersulit pekerjaan dan kehidupannya, bahkan dikejar aparat dan pasukan sampai terpojok ditepi laut? Dan akankah Allah akan menolong mereka dan menenggelamkan para pengejarnya yang zalim?

Kiranya para pemuja dan pengikut ajaran Fir’aun segera sadar dan bertobat. Sebagaimana bertobatnya para tukang sihir Fir’aun yang pagi masih memusuhi Nabi Musa lalu sorenya sudah beriman. Meski mereka harus disiksa dan dibunuh Fir’aun. Dan kiranya para pembela kebenaran yang menyampaikan dakwah segera mendapat pertolongan dari Allah Yang Maha Perkasa. Semoga.

NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Post a Comment for "ULAR TUKANG SIHIR FIR’AUN vs KHILAFAH-ISME"