Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mempersiapkan Generasi Islam yang Kuat Menghadapi Tantangan New Normal

Mempersiapkan Generasi Islam yang Kuat Menghadapi Tantangan New Normal

Oleh: Yadi Mulyadi | Trainer&Motivator Nasional

Siapa yang tidak menginginkan hidup dalam kondisi normal? Tentu saja semua manusia begitu merindukan kehidupan yang normal. Hanya saja ketika program new normal atau new normal life (Normal Baru atau tatanan kehidupan baru) ini digulirkan ditengah-tengah dahsyatnya serangan wabah justru menjadi tantangan tersendiri. Untuk beberapa negara seperti China, Vietnam, Taiwan dan Jerman mungkin itu kebijakan tepat. Karena mereka sudah sukses melewati masa krisis dari pandemi ini bahkan kurva persebaran di negara mereka sudah landai.

Pertanyaan bagaimana dengan Indonesia? Yang jumlah kasus covid19 nya masih terus meroket. Bukankah kebijakan ini termasuk terburu-buru? Apalagi jika kita melihat bagaimana penanganan negara yang sporadis dan berubah-ubah dalam menangani kasus ini sejak Maret lalu. Mulai dari galaunya mendefinisikan mudik dan pulang kampung, mengizinkan TKA tetap masuk ke Indonesia dan pelonggaran PSBB.

Tentu saja semua kebijakan itu membingungkan semua pihak, mulai dari kepala daerah yang sudah memiliki kebijakan untuk daerahnya, tiba-tiba harus mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Belum lagi tenaga medis yang berjuang langsung di garda terdepan peperangan melawan covid19, mereka harus siap dengan berbagai kemungkinan terburuk. Bukan hanya mereka para ahli atau pakar sains dan teknologi pun merasa kecewa dengan kebijakan yang dinilainya sporadis tersebut. Karena menurut mereka pemerintah membuat kebijakan tanpa menggunakan pertimbangan validitas data yang akurat. Sehingga sempat menjadi trending #Indonesia terserah

Kekecewaan para pakar dimulai dari kebijakan pembelian alat rapid tes dari cina dalam jumlah besar. Yang ternyata tidak mampu mendeteksi keberadaan virus secara akurat. Alat itu hanya mampu untuk mendeteksi daya tahan tubuh manusia. Sedangkan alat yang mampu mendeteksi keberadaan virus di dalam tubuh manusia secara akurat adalah PCR (Polymerase Chain Reaktion).

Jika pemerintah melakukan kordinasi dan mobilisasi terhadap semua aset yang dimiliki kampus di Indonesia dan semua lembaga penelitian lainnya, maka pemerintah bisa optimal melakukan tes berbasis PCR hingga kurang lebih 10.000 tes perhari. Namun sayang semua itu tidak dilakukan.

Tak salah jika akhirnya masyarakat menyimpulkan bahwa sikap pemerintah dalam penangan covid19 ini lebih di dominasi kepentingan ekonomi dan politik dibanding pertimbangan kesehatan dan keselamatan warga negaranya.

Sekalipun sikap pemerintah demikian galau dan plin plan, tapi tidak menyurutkan kinerja ilmuan dan peneliti untuk terus berinovasi. Sejumlah ilmuan Indonesia telah menghasilkan penemuan berbasis tekhnologi untuk membantu tenaga kesehatan dalam menangani penularan virus Corona.

Karya Anak Negeri

Dr. Syarif Hidayat, Dosen STEI Institut Teknologi Bandung (ITB) telah berhasil membuat ventilator yang dinamai Vent-I untuk digunakan dokter dan perawat dalam upaya mencegah memburuknya pasien.

Selain ITB, ada juga robot RAISA karya Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya yang memiliki fungsi untuk mengurangi interaksi dengan pasien Covid-19. Robot RAISA telah ditempatkan di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) sebagai robot servis pada highly infectious patient yang dikendalikan dari alat kontrol jarak jauh.

Tugas rutin yang dijalankan robot RAISA adalah datang dari kamar pasien satu ke kamar pasien lainnya, membunyikan bel, hingga kemudian pasien membuka pintu dan mengambil makanan. Selain untuk meminimalkan interaksi antartenaga medis dan pasien, RAISA juga sangat berguna dalam rangka penghematan Alat Pelindung Diri (APD).

Selain ITB dan ITS, Telkom University bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga mengembangkan sebuah robot disinfeksi dengan sinar ultraviolet.

Berbagai prediksi dan pemodelan terkait jumlah lonjakan pasien Covid-19 dari pakar dan juga akademisi telah dirilis ke publik. Pandu Riono, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) menyatakan bahwa adalah sebuah tantangan besar ketika kita menyampaikan hasil temuan akademis dan ilmiah kepada sang pengambil kebijakan.

Tantangan Menghadapi New Normal

Melihat karya anak negeri sebenarnya tidak diragukan kemampuannya dalam menghadapi wabah ini, hanya saja keseriusan pengambil kebijakan lah yang menjadi tantangan besar. Begitupun ketika kebijakan new normal diberlakukan per 1 Juni 2020. Dimana semua fasilitas umum dibuka, seperti sekolah, perkantoran, mall, tempat ibadah dan semua fasilitas umum lainnya.

Kebijakan ini tentu membahayakan karena masyarakat dibebaskan beraktivitas ditengah-tengah mengganasnya wabah. Akankah kebijakan ini mengarah kepada herd immunity? Padahal herd immunity diberlakukan jika vaksin telah ditemukan. Sehingga tidak salah jika banyak kalangan yang menilai kalau kebijakan new normal adalah sebuah kezaliman. Apalagi jika dilihat dari latar belakang diambilnya kebijakan ini hanya untuk menormalisasi perekonomian.

New Normal vs New sistem
Bagi seorang muslim, new normal atau kehidupan normal adalah ketika dia bisa melaksanakan aktivitas sebagaimana seharusnya. Yaitu dalam posisi dan kedudukannya sebagai seorang hamba.

Dan Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz – Dzariyat: 56)

Hidup normalnya seorang muslim adalah ketika dia bisa totalitas dalam melaksanakan kewajiban baik dalam hubungan terhadap Tuhannya, sesama manusia dan dirinya sendiri. Ketaatan secara total dan berislam secara kaffah adalah kehidupan normal bagi seorang muslim. Dalam kondisi apapun, baik ketika terjadi wabah ataupun dalam kondisi aman.

Ketika terjadi wabah Islam memiliki solusi yang tepat dalam menyelesaikan nya. Selanjutnya akan dipaparkan peran sains dan ilmuwan dalam pengambilan kebijakan negara.

1) Islam memberikan porsi bagi para pakar atau yang biasa disebut dengan khubaro’ dalam mengambil kebijakan negara untuk menyelesaikan masalah masyarakat yang rumit dan membutuhkan analisis mendalam.

Tak semua kebijakan negara diselesaikan dengan voting, adakalanya memang harus diselesaikan para pakar yang berkemampuan lebih dibandingkan lainnya, sehingga suara mayoritas tidak lagi diperhatikan.

Islam mengambil pendapat para pakar untuk menyelesaikan hal rumit. Selain itu, penentuan kebijakan dalam Islam juga didasarkan pada tasyri’ yaitu kesesuaian dengan sumber hukum Islam: Alquran, Sunah, Ijmak Sahabat, dan Qiyas.

Pada masa Kekhilafahan Islam pernah terjadi wabah Tha’un (sejenis penyakit kolera) saat dipimpin oleh Umar bin Khaththab. Beliau tidak memberikan keputusan sendiri melainkan meminta pendapat dari para pakar dan orang-orang yang berilmu berkaitan dengan wabah ini.

Amr bin Ash, seseorang yang terkenal cerdik dalam mengatasi masalah-masalah rumit, mulai melakukan analisis terkait wabah ini. Dia menyimpulkan bahwa penyakit ini menular saat orang-orang berkumpul sehingga rekomendasi yang diberikan adalah dengan melakukan karantina kepada masyarakat.

Masing-masing diperintahkan untuk berpisah, ada yang ke gunung, ada yang ke lembah, dan ke tempat-tempat lainnya. Hasilnya hanya berselang beberapa hari, jumlah orang yang terkena wabah ini mulai sedikit dan wabah pun lenyap.

Umar bin Khaththab selaku Khalifah, pemimpin negara kala itu, taat dengan rekomendasi Amr bin Ash sebab Amr bih Ash yang memang memiliki keilmuan yang lebih dibandingkan dengan lainnya.

2) Fokus ilmuwan dan sains digunakan untuk menyelesaikan masalah masyarakat, bukan sekadar memenuhi target keuntungan dunia industri semata.

Pada abad 9/10 M, Abu Bakr Ahmed ibn ‘Ali ibn Qays al-Wahsyiyah (sekitar tahun 904 M) menulis Kitab al-falaha al-nabatiya. Kitab ini mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara lain tentang teknik mencari sumber air, menggalinya, menaikkannya ke atas hingga meningkatkan kualitasnya.

Di Barat, teknik ibn al-Wahsyiyah ini disebut “Nabatean Agriculture”. Para insinyur Muslim merintis berbagai teknologi terkait dengan air, baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi, atau menggunakannya untuk menjalankan mesin giling.

Dengan mesin ini, setiap penggilingan di Baghdad abad X sudah mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari. Pada 1206 al-Jazari menemukan berbagai variasi mesin air yang bekerja otomatis. Berbagai elemen mesin buatannya ini tetap aktual hingga sekarang, ketika mesin digerakkan dengan uap atau listrik.

Pada awal abad XIII, Abu al-Abbas al-Nabati dari Andalusia mengembangkan metode ilmiah untuk botani, mengantar metode eksperimental dalam menguji, mendeskripsikan, dan mengidentifikasi berbagai materi hidup dan memisahkan laporan observasi yang tidak bisa diverifikasi.

Muridnya Ibnu al-Baitar (wafat 1248) mempublikasikan Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, yang merupakan kompilasi botani terbesar selama berabad-abad. Kitab itu memuat sedikitnya 1400 tanaman yang berbeda, makanan, dan obat, yang 300 di antaranya penemuannya sendiri.

Ibnu al-Baitar juga meneliti anatomi hewan dan merupakan bapak ilmu kedokteran hewan, sampai-sampai istilah Arab untuk ilmu ini menggunakan namanya. Penemuan ini menghasilkan adanya revolusi pertanian bahkan revolusi ini dapat menaikkan panenan hingga 100 persen pada tanah yang sama.

3) Support penuh negara Islam dalam pengembangan sains dan teknologi.

Daulah Islam merupakan negara yang mendukung penuh pengembangan sains dan teknologi. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islam (Syakhsiyyah Islam) yang menjadikan setiap peserta didik memiliki pola pikir dan pola sikap Islam.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, Khilafah Islam memberikan layanan penuh mulai dari pembiayaan, fasilitas pendidikan, tenaga pendidik, beasiswa, perpustakaan hingga balai penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Semua ini ditopang oleh sistem politik dan sistem ekonomi Islam yang kuat dan independen.

Islam adalah agama sempurna dan paripurna. Setiap rincian di dalamnya memang ditujukan untuk memberikan kontribusi terhadap peradaban dunia. Akan tiba masanya sains dan teknologi kembali berjaya di masa Khilafah Islam dan sains diberikan porsi dalam pengambilan kebijakan.

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (TQS Ali Imran: 140)

Dengan kebijakan tersebut maka generasi Islam akan siap dan kuat dalam menghadapi tantangan berat new normal.

Wallahu’alam.

Post a Comment for "Mempersiapkan Generasi Islam yang Kuat Menghadapi Tantangan New Normal"