Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

“DRAMA KEADILAN” DALAM SISTEM DEMOKRASI

“DRAMA KEADILAN” DALAM SISTEM DEMOKRASI

Oleh : Atika Rahmah | Aktivis Muslimah Papua

Sistem demokrasi kembali menunjukkan boroknya. Kali ini “peradilan”-nya yang sedang naik panggung mempertontonkan lawakan yang tak lucu. Pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, dituntut 1 tahun penjara. Sontak panggung ini menarik perhatian banyak penonton. Bagiamana tidak, alasan yang diutarakan jaksa penuntut umum terlalu mengada-ada dan irasional.

Jaksa Ahmad Patoni mengatakan putusan 1 tahun tersebut disebabkan karena dua hal. Pertama, terdakwa mengakui perbuatannya, menyesalinya serta meminta maaf kepada keluarga Novel Baswedan dan institusi polisi (kedua pelaku berstatus polisi aktif). Kedua, terdakwa tidak berniat melukai namun hanya ingin memberi pelajaran. Targetnya menyiram air keras ke badan Novel namun tak sengaja mengenai mata. (liputan6.com)

Alasan yang mencederai akal ini sontak menjadi buah bibir dan semua mempertanyakan drama apa yang sedang dimainkan? Komika Bintang Emon ikut naik panggung menyampaikan unek-unek dengan kekhasannya yang lucu namun “kritis”.

Bagaimana mungkin dikatakan tidak sengaja saat pelaku melakukan aksinya subuh hari, waktu dimana mayoritas orang susah untuk bangun. Niat banget nungguin Novel lewat dan seketika menyiram air keras. Bintang Emon pun mempertanyakan untuk memperi pelajaran kenapa mesti pakai air keras?

Komika yang kritis ternyata sukses mengguncang panggung keadilan di negeri ini. Mirisnya bukannya introspeksi dan mengoreksi alasan yang irasional namun berujung teror pada komika yang lucu. Para dalang marah saat dikritik, sebagai penonton kita dilarang berkomentar.

Inilah ironi di negeri Demokrasi. Katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Realitanya semua dipersembahkan untuk para dalang yang tak lain adalah “para oligark”. Terlarang mengkritik karena akan menyadarkan penonton yang terhipnotis dengan drama yang sedang dimainkan.

Penonton harus terbawa arus cerita dalam drama, layaknya emak-emak yang ketagihan untuk mengikuti cerita sinetron setiap episodenya atau para pencinta drakor yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari drama yang ditontonnya bahkan lebih bagus lagi jika bisa seperti netizen Indonesia yang melabrak akun Instagram artis Korea Han So Hee yang sukses memainkan peran sebagai pelakor.

Jika ada yang melawan arus dan kembali pada akal sehat maka seolah sedang menabuh “genderang perang” dengan para oligark, penguasa negeri ini. Teror dan bungkam! Jangan biarkan rakyat bangun dan sadar. Karena jika rakyat sadar, keberadaan para oligark terancam.

Novel Baswedan sebenarnya sudah bisa mencium aroma busuk oligarki. Sebagaimana dilansir dalam cnnindonesia.com, Novel menyebut ada orang sangat kuat yang terlibat dalam kasus penyiraman air keras terhadapnya. Serangan tersebut terjadi pada bulan April 2017 di tengah upaya Novel menyelidiki kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik yang melibatkan anggota DPR serta oknum pemerintah.

Begitulah borok demokrasi. Tak akan pernah memihak pada keadilan tapi akan memihak pada kepentingan para oligark. Drama akan dipaksakan meskipun alur cerita tak cocok dan tak nyambung.

Hari ini Novel, berikutnya mungkin saya, anda dan siapapun pun bisa menjadi “target” saat menghalagi kepentingan para oligark. Masih percaya dengan Demokrasi?

Post a Comment for "“DRAMA KEADILAN” DALAM SISTEM DEMOKRASI"