Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Diam Terhadap Ke Dzaliman

Namun, ketika tahun demi tahun, sampai hari ini ketika ketidakadilan kian dipertontonkan, kezhaliman makin ditampakkan, kedunguan dan kebohongan kian meresahkan, maka mau tak mau, suka tak suka, jiwa saya yang tak bisa berdamai dengan kebohongan, ketidakadilan dan kezhaliman sulit untuk diajak kompromi

Saya tuh sebenarnya nggak pengen nulis-nulis status yang bernada kritis, sarkas, nyindir-nyindir orang, ngeledek orang, ngehe, status yang membuat orang tersinggung atau tersakiti dengan tulisan-tulisan saya.

Serius!! Itu bukan karakter tulisan saya yang asal caprak. Saya selalu berusaha menulis berdasarkan nash dan pemikiran matang.

Dulu dari 2007 hingga 2014, ketika awal-awal saya aktif menulis di blog hingga media sosial, semua konten tulisan-tulisan saya tentang motivasi dan inspirasi.

So, semua orang hampir suka, semua orang bisa menerima. Semua akrab seperti saudara. Tak ada juga yang tersakiti atau tersinggung. Selow lah..

Namun, ketika tahun demi tahun, sampai hari ini ketika ketidakadilan kian dipertontonkan, kezhaliman makin ditampakkan, kedunguan dan kebohongan kian meresahkan, maka mau tak mau, suka tak suka, jiwa saya yang tak bisa berdamai dengan kebohongan, ketidakadilan dan kezhaliman sulit untuk diajak kompromi.

Saya tidak bisa diam atas ketidakadilan, meski hanya lewat kritikan atau tulisan. Akhirnya, mau tak mau, suka tak suka, dari pihak mana pun, kawan atau lawan, akan saya berikan kritikan dalam rangka meluruskan, jika memang bisa diluruskan.

Meski pertentangan itu dari sahabat dekat saya sendiri. Semua itu resiko yang harus diambil dan dikorbankan, sebab ada sesuatu yang harus diperjuangkan, manakala ada perbedaan prinsip dan jalan pemikiran.

Jika yang dipahami dari akhlak ulama itu hanya kalem, menyejukkan, lebih banyak mengalah, penyabar, tidak emosian, lebih banyak diam, lebih banyak menghindari perdebatan, lebih santun dan bijaksana dalam menasehati, meski jelas-jelas ada orang yang menghinakan Islam, al-Qur'an, dan Rasulullah di depan matanya, sampai di sini saya tidak sependapat.

Kadang saya juga nggak pengen berkata keras atau tegas terhadap orang yang berpikiran nyeleneh atau paham yang berusaha membenturkan dengan pemahaman yang menyimpang. Kadang saya nggak suka juga harus berdebat dan saling merendahkan. Demi menjaga muru'ah, rasa malu dan kehormatan diri setiap orang.

Tapi, justru bersikap lemah terhadap kezhaliman adalah bentuk pelecehan terhadap keagungan nilai agama itu sendiri. Kadang pengen hanya bersembunyi dibalik jubah dan sorban besar, ditakzimi dan diwibawai. Namun, ada ketakutan menyampaikan kebenaran. Takut ditinggalkan orang. Itu juga keliru sesungguhnya.

Agama Islam tidak menghendaki adanya semacam sikap kerahiban dalam Islam. Seseorang yang hanya dikultuskan dan diagungkan di menara gading. Namun, dia tak mau berkenan berlumpur-lumpur berdarah-darah mengajak umat pada jalan keselamatan dan kebenaran. Hal itu tidak pernah dilakukan oleh para dai dan ulama kita dahulu.

Hari ini, saya justru bingung, jika ada ulama, kyai, ustadz, guru agama yang masih tetap memilih apatis, tak mau peduli, masa bodoh. Kadang menampilkan gaya bicara kalem, sok arif, bijaksana, dalam menyikapi ketidakadilan dan kezhaliman. Harusnya dari mereka lah yang pertama kali angkat bicara dan meluruskan jika ada penyimpangan, sebab mereka paham cara menjawab tantangan itu.

Tapi, entahlah barangkali kembali pada karakter masing-masing atau kadar pengetahuan, bahkan boleh jadi kadar keimanan setiap orang. Katanya sih kita tidak boleh memvonis atau menjustice orang lain atau bahkan mengklaim diri sendiri paling benar. Itu sih kata-kata jargon andalan mereka. Wallahu 'alam.

Rasulullah Saw adalah orang yang paling lembut dan mulia akhlaknya. Tidak pernah marah meski dicaci dan dihinakan. Itu benar. Namun, Rasulullah Saw merupakan orang yang paling marah saat agama dilecehkan. Nah, bagian terakhir ini yang kadang seringkali diabaikan.

Umar bin Khattab adalah orang yang beringas saat melihat ketidakadilan. Demikian, Sayyidina Ali bin Abi Thalib orang yang hanya berbicara dengan runcingnya ujung pedangnya dikala beliau menyelesaikan permasalahan. Tidak salah memang. Sebab, ada memang karakter-karakter tegas seperti itu dalam menegakkan Islam.

Hari ini, jika kita marah, protes, kecewa, angkat bicara soal ketidakadilan, soal penistaan, soal kezhaliman, ada saja yang bilang "Ustadz kok ngurusin politik terus!" "Agama Islam itu agama kedamaian dan kasih sayang lho!" Atau "Ustadz kok kerjaannya provokasi mulu!" atau "Bukannya kita harus taat ulul amri?!" Lah, kalau penguasanya zhalim gimana coba?!

Tapi itulah, di saat kita diam juga, kita biarkan, tanpa komentar dan kritikan, lah bukannya mereda, kezhaliman, ketidakdilan, penghinaan, pelecehan, penistaan malah kian merajelala. Kadang kita bingung juga harus bersikap bagaimana lagi?

Akhirnya, kembali pada prinsip dasar hadits Nabi Saw: "Qullilhaq Wallau Murran!" Katakan kebenaran, meski itu pahit. Sebab, kadang pahitnya obat tidak disenangi, namun dia pasti akan selalu dibutuhkan oleh orang yang sehat akal pikirannya.

Ada benarnya, perkataan syair Arab Jahiliyyah. "Ridha an-Nassi ghaayatun laatudrak. Berharap semua manusia senang adalah hal yang mustahil dicapai."

Jadi, jika selama Ramadhan ini atau sebelum-sebelumnya, ada tulisan-tulisan saya yang tajam, melukai perasaan orang yang membacanya, saya memohon dibukakan pintu maaf demi kesempurnaan ibadah puasa ini.

Semoga besok kita akan kembali fitrah kembali. Minal faidzin wal faidizin. Mohon maaf lahir dan bathin.

Ust. DR. Miftah el-Banjary, MA

Post a Comment for "Jangan Diam Terhadap Ke Dzaliman"