Boncengan Pasutri versus Boncengan Ojol


Goresan Pena Abu Mush'ab Al Fatih Bala
(Penulis Nasional & Pemerhati Politik Asal NTT)

Lagi viral di masyarakat ungkapan "Kalau suami istri tidak boleh boncengan. Kalau pun keluar rumah harus pakai ojol (ojek online)". Pernyataan ini menimbulkan multitafsir dan pertanyaan di tengah diterapkannya PSBB di salahsatu provinsi.

Mengapa ketika boncengan suami istri dilarang namun ketika dibonceng ojol malah boleh? Padahal bukankah boncengan dengan ojol lebih besar peluangnya terpapar virus Corona?

Misalnya saja ada ojol yang tanpa sengaja membonceng orang yang positif corona kemudian membonceng salahsatu pasutri. Ada kemungkinan penyebaran virus dari si Ojol ke orang lain terjadi dalam aktivitas boncengan itu.

Kemudian dari pasutri yang pulang kembali ke rumah setelah berboncengan dengan ojol punya peluang menularkannya ke anggota keluarga yang lain.

Lagipula ketika pasutri yang saling berboncengan keluar rumah akan lebih aman daripada dibonceng orang asing. Karena rumah bukan tempat penyebar virus. Virus biasanya datang dari luar misalnya dari orang yang pulang dari daerah wabah.

Yang perlu dilakukan oleh pasutri ketika keluar rumah adalah menjalankan protokol kesehatan agar tidak tertular atau terpapar corona. Mereka harus awas diri dan menjaga jarak dengan orang-orang di luar rumah. Memakai sarung tangan,masker dsb. Keluarnya pasutri ini semestinya untuk keperluan darurat saja. (Catatan penting: opsi terbaik selama wabah adalah tidak keluar rumah sama sekali dan tidak kontak dengan orang lain).

Pertanyaan selanjutnya di publik muncul apakah bila ojol membonceng salahsatu pasutri tidak bisa disebut berboncengan? Yang malah sama aktivitasnya dengan boncengan pasutri. Apakah misalnya boncengan dengan anggota keluarga yang lain juga terlarang? Semisal Ayah membonceng anaknya atau seorang pria membonceng adiknya.

Yang dipermasalahkan sebenarnya bukan siapa memboncengi siapa, tetapi peluang orang yang keluar rumah terkena covid 19 lebih besar daripada yang berdiam diri di rumah.

Dan memang susah untuk tidak keluar rumah kalau tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Peluang keluar rumah dalam PSBB bisa lebih besar daripada dalam Lock Down.

Perbedaan mendasar antara PSBB dan Lock Down adalah dalam keadaan PSBB ruang gerak manusia dibatasi namun hajat hidup masyarakat tidak sepenuhnya ditanggung. Sehingga hal yang wajar bila banyak orang terpaksa meninggalkan rumahnya mencari makanan (baca:pangan) untuk menghidupi diri dan anggota keluarganya.

Maka berboncengan akan menjadi alternatif keluar rumah ketika keluarga di rumah mulai kehabisan hajat misalnya makanan. Yang satunya keluar mengendarai motor, yang dibonceng membantu membawa bekal pulang ke rumah.

Sedangkan dalam Lock Down hajat hidup masyarakat semisal pangan ditanggung oleh negara sehingga masyarakat tidak perlu keluar rumah. Itu hak mereka menerima uluran bantuan dari penguasa. Kewajiban mereka adalah tinggal di rumah (stay at home) hingga wabah berakhir.

Hal lain yang menyebabkan orang keluar rumah karena masalah kesehatan atau terkena penyakit. Namun bisa diatasi dengan kebijakan PSBB dan Lock Down yang dipilih. Apakah selama PSBB atau Lock Down warga yang sakit akan dijemput, dikarantina, atau melapor sendiri ke pusat kesehatan yang ada (Rumah Sakit atau Puskesmas) tergantung pada mekanisme PSBB atau Lock Down yang dipilih penguasa setempat.

Sebenarnya opsi Lock Down adalah opsi yang terbaik dimana semua orang dapat bertahan di rumah karena keperluan pangannya dijamin. Ada pun orang yang keluar hanya untuk kepentingan pribadi seperti untuk rekreasi atau piknik maka mereka harus dikembalikan ke rumah masing-masing.

Orang-orang semacam ini tidak memiliki empati. Tidak pula memiliki rasa takut akan terpapar dan penyebab terpaparnya orang lain. Dan bisa mendapatkan hukuman yang setimpal dengan UU karena mengganggu pemutusan rantai penyebaran Covid 19.

Demikianlah jika ada kerjasama yang baik antara individu, masyarakat dan negara dalam menghentikan laju corona tentu akan segera berakhir wabah ini. Kebijakan Lock Down semestinya telah dipakai sejak dulu sehingga rantai penyebaran bisa diputus dan ekonomi tidak mengalami ancaman krisis.

Bumi Allah SWT, 6 Mei 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

0 Response to "Boncengan Pasutri versus Boncengan Ojol"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel