Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BELAJAR TAKWA DARI IMAM JA'FAR ASH-SHADIQ

BELAJAR TAKWA DARI IMAM JA'FAR ASH-SHADIQ

Oleh: Arief B. Iskandar (Khadim Ma'had An-Nahdhah al-Islamiyah)

PUASA adalah salah satu pintu meraih takwa. Takwa inilah yang menjadi “buah” dari shaum yang dilakukan seorang hamba selama sebulan penuh selama Ramadhan (QS al-Baqarah [2]: 183).

Menurut al-Hasan, “Orang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui. Di antaranya: Jujur/benar dalam berbicara. Senantiasa menunaikan amanah. Selalu memenuhi janji. Rendah hati dan tidak sombong. Senantiasa memelihara silaturahmi. Selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin. Memelihara diri dari fitnah (godaan) kaum wanita. Berakhlak mulia. Memiliki ilmu yang luas. Senantiasa ber-taqarrub kepada Allah.” (Ibn Abi ad-Dunya, Al-Hilm, I/32).

Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al-Awwam pernah menulis surat yang berisi nasihat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, "Amma ba'du. Sungguh orang bertakwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri yakni: Sabar dalam menanggung derita. Ridha terhadap qadha'. Mensyukuri nikmat. Merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum al-Quran.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170; Abu Nuaim al-Asbahani, Hilyah Awliya, I/177).

Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra. saat beliau mengutus dia ke Yaman, “IttaqilLah haytsuma kunta (Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun/kapanpun/dalam keadaan bagaimanapun).” (HR at-Tirmidzi).

Kata _haytsu_ pada hadis di atas bisa merujuk pada tiga: tempat (makan), waktu (zaman)_ dan keadaan (hal). Karena itu sabda Baginda Rasul saw. kepada Muadz ra. tersebut sebagai isyarat agar ia bertakwa kepada Allah SWT. Tidak hanya di Madinah saja. Saat turunnya wahyu-Nya. Saat ada bersama beliau. Juga saat dekat dengan Masjid Nabi saw. Namun, hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT di mana pun, kapan pun dalam keadaan bagaimana pun (Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh al-Arbain an-Nawawiyyah, 42/4-8).

Dengan demikian kita pun sejatinya bertakwa tidak hanya saat berada pada bulan Ramadhan saja, yang kebetulan sedang kita jalani, tetapi juga di luar Ramadhan selama sebelas bulan berikutnya.

Takwa tentu harus segera diwujudkan dalam diri kita. Tak boleh ditunda-tunda. Sebabnya, Allah SWT telah memerintah kita:

*وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)*
Bersegeralah kalian meraih ampunan Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi kaum yang bertakwa; yaitu mereka yang menginfakkan (harta mereka) baik dalam kelapangan maupun dalam kesempitan, yang sanggup menahan amarah, yang biasa memberi maaf orang lain, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(TQS Ali Imran [3]: 133-134).

Berkaitan dengan kedua ayat tersebut, ada satu kisah menarik. Suatu saat Imam Ja’far ash-Shadiq ra. sedang bersama budaknya yang sedang menuangkan air. Tanpa sengaja, air itu tumpah dan mengenai  pakaian Imam Ja’far. Beliau seketika memandang budaknya dengan pandangan kurang suka (tanda marah).

Namun, sang budak buru-buru menyitir potongan QS Ali Imran ayat 134 (yang menyebut ciri-ciri orang yang bertakwa),  “Wa al-kâzhîmîn al-ghayzh (Orang-orang yang menahan amarah).”

Mendengar itu Imam Ja’far berkata, “Baik, kalau begitu aku sudah tidak marah lagi kepada kamu.”

Sang budak melanjutkan, “Wa al-âfîna ‘an an-nâs (Orang-orang yang memaafkan manusia).”

Imam Ja’far berkata lagi, “Baik, aku pun telah memaafkan kamu.”

Sang budak melanjutkan lagi, “Wa AlLâhu yuhibb al-muhsinîn (Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan).”

Imam Ja’far pun kembali berkata, “Baiklah, kalau begitu, pergilah. Mulai sekarang engkau menjadi orang merdeka karena Allah (Bukan lagi budak). Untuk kamu, aku pun menghadiahkan hartaku sebesar 1000 dinar (lebih dari Rp 2 miliar). Terimalah.”
(Ibnu al-Jauzi, Bahr ad-Dumû’,_hlm. 175).

Begitulah Imam Ja’far ash-Shadiq. Beliau langsung mengamalkan seluruh perkara yang terkandung dalam QS Ali Imran ayat 134. Tanpa ditunda-tunda. Meski itu disampaikan oleh budaknya.

Itulah salah satu teladan orang yang bertakwa. Wa ma tawfiqi illa bilLah_. []

Post a Comment for "BELAJAR TAKWA DARI IMAM JA'FAR ASH-SHADIQ"