Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HAKEKAT CINTA KEPADA ALLAH

HAKEKAT CINTA KEPADA ALLAH

Alangkah bahagia, jika seseorang berhasil meraih dan menggapai cinta Allah swt. Sebab, bila seseorang berhasil mendapatkan cinta Allah, maka hidupnya akan dituntun dan dibimbing  Allah swt. Allah membimbing penglihatannya tatkala dirinya melihat; Allah  membimbing pendengarannya, manakala ia mendengarkan.  Di dalam hadits shahih yang dituturkan  Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra,  dinyatakan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda;

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
“Sesungguhnya Allah swt berfirman, “Siapa saja yang memusuhi kekasih-kekasihKu, niscaya Aku mengumumkan perang kepadanya.  Dan tidaklah seorang hambaKu terus berusaka mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya.  Dan tidaklah seorang hambaKu terus mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah nawafil (sunnah), hingga Aku mencintainya.  Jika Aku telah mencintaiNya, maka Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, dan Aku akan menjadi penglihatannya, yang dengannya ia melihat, dan Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia menggenggam, dan Aku akan menjadi kakinya, yang dengannya ia berjalan.  Dan jika ia meminta kepadaKu, niscaya Aku akan memberinya, dan seandainya ia meminta pertolongan kepadaKu, niscaya Aku akan menolongnya.[HR. Imam Bukhari]

Sebaliknya,  betapa menyakitkan, jika seseorang merasa mencintai dan dicintai oleh Allah, akan tetapi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.  Ia merasa mendapatkan kecintaan Allah, akan tetapi sebenarnya ia tidak pernah mendapatkan kecintaan dari Allah swt.

Betapa banyak orang sibuk mengerjakan perbuatan-perbuatan tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Ada di antara manusia yang menyendiri di tengah hutan, jarang makan-minum, bahkan mandi; menjauhi anak-isterinya dan sanak keluarganya. Ia beranggapan bahwa dengan cara ini ia akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt.

Kita juga menyaksikan ada di antara manusia yang melakukan ritual-ritual tertentu untuk mendapatkan kecintaan dari Allah swt.  Ada yang berpuasa tiga hari tiga malam tanpa putus-putus; bahkan ada yang sampai 40 hari 40 malam.  Ada pula yang sibuk membaca kalimat-kalimat dzikir, mengunjungi kuburan para nabi dan wali, membaca riwayat hidup Rasulullah saw, dan sebagainya.

Akan tetapi, apakah dengan cara-cara seperti itu mereka akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt? Lalu, bagaimana cara meraih dan menggapai cinta Allah swt; agar cinta  tidak bertepuk sebelah tangan dan tidak hanya sebatas merasa mencintai Allah swt, namun Allah tidak memberikan.cintaNya.

Allah swt telah memberikan petunjuk yang sangat jelas, bagaimana cara mendapatkan kecintaanNya.  Allah swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[TQS Ali Imron (3):31]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir Ibnu Katsir menyatakan, "Ayat ini merupakan pemutus atas siapa saja yang mengaku mencintai Allah swt, namun ia tidak berjalan di atas jalan Nabi Mohammad saw, maka ia pendusta dalam pengakuannya, hingga ia  mengikuti syariat Nabi dan dien Nabawiy, di dalam seluruh perkataan dan perbuatannya." [Imam Ibnu Katsir, Tafsir al- Quran al-'Adhiim, QS.3:31]. Rasul saw bersabda:.

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan maka perbuatan itu tertolak.”[Muttafaq ‘alaihi]

Para ahli hikmah menyatakan:

ليس الشأن أن تُحِبّ، إنما الشأن أن تُحَبّ
”Perkara yang hebat bukanlah kamu [merasa] mencintai Allah, akan tetapi, kalian benar-benar dicintai [oleh Allah swt]. 

Imam Hasan al-Bashriy pernah berkata:

زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية، فقال: { قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ } 
”Ada suatu kaum merasa bahwa mereka telah mencintai Allah swt, lalu, Allah swt menguji mereka dengan firmanNya,”Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[Ali Imron:31]

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

"وَهَلِ الدِّينُ إلا الْحُبُّ والْبُغْضُ؟ قَالَ الله تَعَالَى: { قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ } قال أبو زُرْعَة: عبد الأعلى هذا منكر الحديث (1) .
”Bukankah agama ini adalah cinta dan benci karena Allah swt? Allah swt berfirman (artinya), Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.[HR. Imam Ibnu Abiy Hatim.  Abu Zurah berkata, Abdul Ala adalah munkarul hadits.  Imam al-Hakim menyatakan hadits ini shahih menurut syarat Imam Bukhari dan Muslim.

Jika seseorang ingin meraih dan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, ia mesti berbuat dan berperilaku sesuai syariat Islam. Jika seseorang berjalan sesuai dengan syariat Nabi Mohammad saw, niscaya ia dicintai Allah swt. Sebaliknya, meskipun seseorang merasa mencintai dan dicintai Allah swt, namun ia tidak akan mendapatkan kecintaan dari Allah swt, selama tidak berjalan sesuai dengan syariat Nabi Mohammad saw. 

Satu-satunya cara agar seseorang mendapatkan kecintaan dari Allah swt, adalah; selalu menjaga keimanan dan berbuat sesuai dengan syariat Islam yang dibawa oleh Mohammad saw.    

Seorang yang ingin mencintai Allah swt akan berusaha dengan segenap tenaga untuk menerapkan aturan-aturan Allah swt, baik yang berhubungan dengan ibadah, muamalah, akhlaq, ekonomi, politik, peradilan, kenegaraan, dan sosial budaya.

Sayangnya,  saat ini kaum Muslim tidak mampu lagi menerapkan aturan-aturan Allah swt dikarenakan tidak adanya dukungan politik dari para penguasa dan pemimpin umat Islam.  Jikalau ada, hanya sebagian hukum Allah dan RasulNya yang diterapkan. Sebagian besar syariat Islam ditelantarkan bahkan dimusuhi oleh penguasa-penguasa dholim dan antek-anteknya.  Padahal, Allah swt memerintahkan kaum Muslim untuk masuk ke dalam agama Islam secara menyeluruh (kaaffah).  Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ 
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.[TQS Al Baqarah (2):208]

Prof Dr. Wahbah Zuhailiy menjelaskan makna ayat di atas sebagai berikut: 

فعلى من آمن بالإسلام دينا العمل بجميع فروعه وأحكامه، فلا يؤمن من يعمل ببعض أحكامه كالصلاة والصيام مثلا، ويترك بعض الأحكام الأخرى كالزكاة والجهاد والحكم بكتاب اللّه وحدوده، وترك الحرام كله ومنع الخمر والرّبا والزّنا والرشوة والظلم. 
“Wajib atas orang yang mengimani Islam sebagai sebuah dien, mengamalkan seluruh cabang-cabang Islam dan hukum-hukumnya.  Tidaklah beriman, orang yang mengamalkan sebagian hukum-hukum Islam, seperti sholat dan puasa misalnya, namun ia meninggalkan sebagian hukum-hukum Islam yang lain, seperti zakat, jihad, dan berhukum dengan Kitabullah dan hududNya. [Dan wajib atas orang yang mengimani Islam sebagai sebuah dien] meninggalkan yang haram seluruhnya, dan mencegah dirinya dari khamer, riba, zina, suap menyuap, dan kedzaliman.[Prof Dr. Wahbah Zuhailiy, at-Tafsir al-Wasiith, QS. Al Baqarah (2):208] 

Menerapkan hukum Allah swt dan RasulNya (syariat Islam) secara utuh dan  dalam bingkai Khilafah merupakan bukti kecintaan seseorang kepada Allah, sekaligus jalan pembuka untuk meraih cinta Allah.  Bagaimana seseorang merasa dicintai Allah swt sementara itu ia mencampakkan dan memusuhi aturan-aturanNya dan menerapkan pranata-pranata sekuler yang bertentangan dengan Islam?   Pastinya, bukan kecintaan yang ia dapat, akan tetapi kemurkaan Allah yang akan ia diperoleh.   Naudzu billahi min dzaalik.

Post a Comment for "HAKEKAT CINTA KEPADA ALLAH"