Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

YANG LEBIH BERBAHAYA DARI CORONA


Oleh: Al Azizy Revolusi 

Saat ini, seluruh dunia sedang dilanda ketakutan dengan merebaknya virus Corona (Covid-19) yang pertama kali muncul di Wuhan, China pada November 2019 lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tanggal 11 Maret lalu telah menyatakan Covid-19 sebagai pandemi yang membahayakan keselamatan jiwa. 

Di Indonesia, data yang tercatat hingga Rabu (18/3), kasus positif terinfeksi Corona mencapai 227 orang, dan yang meninggal dunia 19 orang. Persentase tingkat kematian akibat kasus Covid-19 di Indonesia tertinggi kedua di Asia Tenggara. Jika dibandingkan dengan negara asal penyebaran penyakit ini, yaitu China, Indonesia telah melewatinya. 

Dirangkum dari Coronavirus Covid-19 Global Case yang dikeluarkan Johns Hopkins University (JHU), persentase kematian akibat kasus virus corona atau Covid-19 di Indonesia mencapai 8,37 persen. Persentase kematian tertinggi di Asia Tenggara adalah Filipina (9,4 persen). Dari 202 kasus, 19 orang dinyatakan meninggal dunia dan lima orang sembuh. (Kompas, 19/03/2020) 

Membaca deretan berita tentang covid-19, wajar kiranya jika manusia dilanda kecemasan bahkan hingga ketakutan. Sebab rasa takut adalah satu bentuk manifestasi dari naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa'). Ia muncul karena adanya fakta yang merangsang naluri tersebut. Rasa takut pasti ada dalam diri manusia, karena ia merupakan bagian dari penciptaannya dan secara fitri ada bersama keberadaan manusia. 

Dalam kitab Fikrul Islam karya Muhammad Ismail disebutkan bahwa pada kondisi-kondisi tertentu rasa takut itu berguna dan bermanfaat, sehingga memang harus ada dan diadakan. Bisa juga sebaliknya, rasa takut bisa berbahaya dan membinasakan, sehingga tidak boleh ada dan harus segera dihilangkan. Rasa takut terhadap bahaya yang memang benar-benar membahayakan adalah sesuatu yang bermanfaat dan harus ada. Tiadanya rasa takut dalam kondisi seperti ini atau karena meremehkannya adalah suatu hal yang membahayakan dan tidak boleh terjadi, baik itu membahayakan individu ataupun seluruh umat. Sebab rasa takut semacam ini berfungsi sebagai penjaga dan pengekang. 

Dalam hal ini, bisa kita masukan terkait rasa takut terhadap virus Corona. Virus yang telah mewabah ke berbagai negara di dunia ini telah mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Tentu perasaan takut harus ada dalam hal seperti ini, agar tidak ada sikap meremehkan terhadap suatu wabah yang tengah terjadi. 

Rasulullah memerintahkan supaya kita menjauhi dan lari dari orang yang terkena penyakit kusta/lepra seperti kita lari dari bahaya singa. Ini adalah rasa takut yang bermanfaat, terpuji, menjaga diri dan bahkan menjadi prinsip isolasi, lockdown, dan karantina di dunia kedokteran. Al-Bukhari meriwayatkan, 

“Larilah dari penderita lepra/kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR. Al-Bukhari) 

Tetapi ada virus yang lebih berbahaya dari pada covid-19, dan ini sudah dinubuwatkan oleh Rasulullah sejak 14 abad yang lalu. Rasulullah bersabda: 

“Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka. 

Salah seorang sahabat bertanya: ‘Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?’ 

Rasulullah menjawab: ‘Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian wahn.’ 

Seorang sahabat Rasulullah bertanya: ‘Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan wahn itu? 

Dijawab oleh Rasulullah: ‘Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati'.” (HR. al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud) 

Hadits ini amat tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi kaum Muslimin saat ini. Dua virus berbahaya yang mendera kaum Muslimin. Pertama, adalah cinta dunia. Yang kedua adalah takut mati.

Hal inilah yang telah membuat kaum Muslimin miskin kreativitas dan inovasinya dalam mengembangkan Islam. Sibuk dalam urusan mengejar dunia dan sekaligus takut mati. 

Betapa banyak dari kita yang enggan melepaskan kehidupan duniawi dan kenikmatan-kenikmatannya. Senantiasa mengejar gemerlap duniawi yang menyilaukan. Karir, bisnis, dan harta kerap menjadi ukuran kesuksesan seseorang dalam kehidupannya. Bersamaan dengan itu, saking cintanya kepada dunia, kaum Muslimin mudah dihinggapi penyakit takut akan kematian.  

Dua virus ini memang ibarat saudara kembar. Tak mungkin dipisahkan satu sama lain. Artinya, bila seseorang terkena virus cinta dunia, pasti ia pun menderita penyakit takut mati. Satu sama lain saling mengisi. Dunia yang dijadikan sebagai arena mengukur keberhasilan, akan membawa seseorang menjadi semacam world oriented. Yang ada di kepalanya tak jauh dari urusan harta dan kenikmatan-kenikmatan duniawi semata. Bila kecintaan ini terus dipelihara, tanpa ada aturan yang mengendalikannya, kemungkinan besar ia akan menjadi hamba harta. Selalu mengukur kesuksesan dari banyaknya materi yang diperoleh.  

Tak bisa dipungkiri, virus cinta dunia dan takut mati ternyata sudah lama hadir dalam kehidupan masyarakat kita. Akumulasi dari penyakit itu telah memunculkan gejala apriori terhadap ajaran-ajaran Islam di masyarakat kita. 

Rasa takut mati ini termasuk salah satu masalah kehidupan yang berbahaya yang mendominasi bangsa-bangsa atau umat yang rendah dan lemah, yang pada gilirannya akan menimbulkan kehinaan dan keterbelakangan bangsa atau umat tersebut.  Apabila virus wahn ini menimpa seseorang, maka akibatnya lenyaplah kelezatan hidup dan keluhuran budi pekerti orang tersebut, di samping menimbulkan kekacauan berpikir dan hilangnya kemampuan untuk memutuskan sesuatu, yang pada akhirnya menghilangkan konsentrasi dan kemampuan mengidentifikasi sesuatu. 

Kewibawaan hukum-hukum Islam tenggelam dalam arus kemaksiatan global. Betapa tidak, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, perzinaan, korupsi, suap-menyuap dan bentuk kemaksiatan lainnya senantiasa menghiasi kehidupan masyarakat kita. Memudarnya keterikatan kepada Alquran dan as-Sunnah--yang menjadi pedoman hidup seorang Muslim, telah mengantarkan kaum Muslimin menjadi liar. Yang pada gilirannya mudah dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam karena tak punya pegangan hidup. 

Padahal kematian itu penyebabnya hanyalah satu, yaitu berakhirnya ajal, bukan karena sebab lain seperti karena virus corona, dan lainnya. 

Ayat-ayat al-Quran yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah menyatakan secara pasti bahwa Allah SWT sajalah Zat Yang menghidupkan dan mematikan. Allah berfirman:  

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Ali Imran [3]: 145). 

“Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya.” (QS. al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43) 

Takut yang hakiki yakni rasa takut hanya kepada Allah. Takut saat Allah murka. Takut akan tidak mendapatkan ridha-Nya. Takut bahwa semua musibah yang telah terjadi adalah bentuk adzab dari Allah. Sebagai bentuk peringatan dari Allah, agar manusia kembali kepada Islam. Kepada menjadikan aqidah Islam sebagai landasan di dalam berfikir. Kembali menjadikan syariah Islam sebagai standar dalam melakukan atau meninggalkan sebuah perbuatan. 

Supaya kita tidak terkena virus wahn, ada baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah: 

"Telah kutinggalkan kepada kalian dua perkara yang bila kalian berpegang-teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya: (ia adalah) Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Al Fathul Kabir II/27) 

Wallahu a’lam bish-shawab. 

Post a Comment for "YANG LEBIH BERBAHAYA DARI CORONA "