LOCKDOWN ERA KAPITALIS VS LOCKDOWN ERA KHILAFAH


Oleh : Jundi Abu Zalfa

Dunia hari ini mengalami kepanikan luar biasa menghadapi makhluk kecil bernama virus corona (Covid-19). Meski tingkat kematian yang timbulkan kecil namun daya sebar yang luar biasa cepat menjadikan wabah ini memberikan efek panik yang luar biasa.

Beberapa negara mengeluarkan kebijakan lockdown nasional untuk menghentikan masifnya penyebaran virus. Antara lain Spanyol, Malaysia, Italia, Perancis, Denmark, Irlandia, Belanda, Belgia, Filipin. China sendiri sejauh ini sudah menutup 20 kota yang merupakan karantina terbesar sepanjang sejarah negara tersebut. 

Indonesia? Sejauh ini, masih sebatas social distance, yakni himbauan agar masyarakat menahan diri dari kehidupan sosial. Banyak kalangan yang menilai kebijakan ini tidak efektif. Sebab, hanya bersifat himbauan, yang tentunya sangat lemah dari sisi kontrol.

Kenapa pemerintah seperti gagap mengeluarkan kebijakan lockdown terhadap virus yang sudah nyata menimbulkan kematian. Sebelumnya, begitu gagah mengeluarkan Perpu untuk ‘me-lockdown’ dakwah Islam terutama ajaram Khilafah, yang dilakukan HTI. Padahal HTI jelas bertujuan melanjutkan kehidapan Islam sebagai solusi tuntas untuk negeri ini.

Hal tersebut jelas menjadi pertanyaan umat? Dan waktu akan memberikan jawaban bahwa kebijakan lockdown dakwah Islam adalah sebuah kesalahan besar, sebagaimana kebijakan tidak me-lockdown penyebaran virus corona juga merupakan sebuah kesalahan besar.

Era Khilafah vs Era Kapitalisme

Ketika kebijakan lockdown dilakukan di era Khilafah tepatnya di masa Khalifah Umar, kebijakan tersebut diceritakan berjalan begitu efektif bahkan dalam beberapa hari wabah sudah mulai mereda. 

Adapun semenjak pertengahan Januari ketika otoritas kesehatan Wuhan mengumumkan tanda bahaya hingga saat ini belum menunjukkan tanda mereda. Malah teror virus semakin merata ke seluruh dunia. 

Ada beberapa faktor yang menjadikan lockdown dalam Islam begitu efektif. Hasilnya begitu cepat dirasakan, yang tidak ada dalam iklim kapitalis:

Pertama, peran negara. Menurut ideologi Islam, negara berkewajiban memenuhi kebutuhan tiap-tiap warga negara. Negara memastikan gizi masyarakat terpenuhi dengan baik.  Makanan sampai dipintu-pintu rumah warga. Jika kebutuhan warga yang sehat begitu diperhatikan, apalagi warga yang sakit.

Berobat dalam Islam gratis. Keberadaan rumah sakit dengan fasilitas yang mumpuni menjadi tanggung jawab negara. Dalam Islam haram berbisnis penyakit! Sehingga rumah sakit bukanlah bisnis. Masyarakat tidak perlu takut datang ke rumah sakit. Negara juga akan mengurus keluarga yang ditinggalkan.

Bahkan dalam kondisi tertentu negara bukan saja menggratiskan biaya berobat. Pasien yang sudah dinyatakan sembuh juga dikasih uang saku sebagai kompensasi sakit sekian lama tidak bekerja.

Berbeda dengan kapitalis, Negara adalah pembuat regulasi yang tentunya untuk kenyaman para kapitalis. Negara lepas tanggung jawab dari urusan memenuhi kebutuhan dasar tiap-tiap warga. Masyarakat dibiarkan mencari kehidupan sendiri-sendiri, termasuk urusan kesehatan. Jika sakit silahkan urus dan tanggung biaya berobat sendiri.

Akibatnya, penyakit menular seperti corona yang membutuhkan penanganan cepat menjadi terhambat lantaran biaya berobat tinggi. Hal ini karena rumah sakit adalah bisnisnya kaum kapitalis. Belum lagi pertimbangan urusan pemenuhan kebutuhan harian yang tidak ditanggung Negara. Maka lebih baik menahan derita daripada datang ke rumah sakit. Jika kondisi kesehatan belum benar-benar parah lebih baik lanjut bekerja meski dengan resiko menularkan penyakit.

Begitulah dalam Islam negara memberi, dalam kapitalis negara tukang minta-minta dengan paksa, pajak di antaranya. Indikator kesuksesan politik ekonomi Islam adalah indikator mikro yakni terpenuhinya kebutuhan individu tiap-tiap warga negara. Sedangkan indikator kesukses ekonomi kapitalis adalah indikator makro yakni pertumbuhan ekonomi, yang entah dinikmati oleh siapa!

Kedua, peran individu. Menurut ideologi Islam, tujuan utama penciptaan individu adalah untuk beribadah kepada Allah. Sehingga orientasi kehidupan manusia senantiasa bernilai ibadah baik ritual maupun sosial. Dengan orientasi ibadah maka ada perasaan senatiasa tersambung dengan Allah dalam semua urusan. Kenikmatan tertinggi adalah mengarungi hidup sesuai syariat dalam rangka meraih ridha Allah. 

Berbeda dengan masyarakat kapitalis yang menjadikan kenikmatan materi sebagai puncak kenikmatan dalam hidup. Manusia dalam Islam adalah hamba Allah sedangkan manusia dalam kapitalis adalah hamba materi/budak hawa nafsu. Waktu dan seluruh potensi hidup dicurahkan untuk mencapai semua kenikmatan materi. 

Bayangkan, menerapkan kebijakan lockdown terhadap masyarakat yang tujuan utama hidupnya adalah mencapai kenikmatan materi. Yang terjadi adalah kepanikan. Panik, tak bisa memenuhi kebutuhan, panik dengan urusan kehidupan, panik dengan bisnis yang sudah terbayang kerugiannya, panik akan menghadapi maut, dsb.

Jika masyarakat Islam tidak gampang panik dalam menjalani kehidupan karena memiliki sifat tawakal. Maka masyarakat Kapitalisme, jangankan yang sakit yang sehat terlihat begitu panik. Dalam situasi sekarang, mereka rebutan beli sembako buat stok selama social distance. Padahal sikap ini mendorong terjadinya kalangkaan yang akan mendongkrak harga-harga. 

Oleh karena itu kebijakan lockdown memang harus diambil namun yang tidak kalah penting adalah melakukan _lockdown kapitalisme sebagai biang kerok semua kerusakan. Lockdown hanya berjalan efektif dengan Khilafah!
.
@JundiZalfa

LOCKDOWN KAPITALIS KHILAFAH

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.