FILOLOGI & HERMENEUTIKA: COCOKLOGI PANCASILA DENGAN ISLAM


Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Istilah yang dijadikan judul artikel ini mungkin bisa disebut sebagai langkah dari mulai digalinya asal-usul Pancasila sampai kepada penghubungan Pancasila dengan Islam secara paksa.

Filologi sendiri adalah dua kata dalam bahasa Yunani, terdiri dari kata philos artinya cinta dan logos artinya kata. Sehingga menjadi cinta kata, senang belajar, senang kesustraan. Filologi juga disebut sebagai dispilin ilmu yang mendasarkan kerjanya pada bahan tertulis dan bertujuan mengungkapkan makna teks, biasanya teks-teks sejarah/peninggalan. (Lihat: Shipley dalam Baroroh-Baried, 1985: 1-3)

Jika kita melihat asal-usul Pancasila yang diajukan oleh Soekarno, sudah barang tentu semua pasti tahu bahwa Soekarno terinspirasi dari buku Negarakertagama karya Empu Prapanca dan buku Sutasoma karya Empu Tantular, dimana buku itu muncul pada masa kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada (1350-1389). Pada masa inilah istilah Pancasila (1365) ditemukan sebagai bahasa Jawa kuno dan dijadikan inspirasi oleh Soekarno.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, istilah Pancasila sebelum diadopsi menjadi bagian dari bahasa Jawa kuno, pun berasal dari Sansakerta India. Panca artinya lima. Syila, dengan huruf i (pendek) artinya batu sendi, alas, dasar. Syiila dengan huruf i (panjang) artinya peraturan tingkah laku yang penting/baik/senonoh. (Lihat: Yamin dalam Kaelani, 1999: 18). Istilah ini dipergunakan oleh pemeluk agama Buddha yang terdapat pada kitab suci Tri Pitaka yang dibagi menjadi 3 bagian buku yakni Sutha Pitaka, Abhidhama Pitaka dan Vinaya Pitaka.

Pada kitab-kitab itu terdapat ajaran moral yang dijadikan prinsip dari agama Buddha diantaranya Dasasyiila, Saptasyiila dan Pancasyiila. Ajaran Pancasyiila diantaranya:

1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami (jangan mencabut nyawa makhluk hidup atau dilarang membunuh)
2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami (janganlah mengambil barang yang tidak diberikan/dilarang mencuri)
3. Kamesu micchacara veramani sikkhapadam samadiyami (janganlah berhubungan kelamin/dilarang berzina)
4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami (janganlah berkata palsu atau dilarang berdusta)
5. Sura-meraya-majja-pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami (jangan meminum minuman yang menghilangkan pikiran/dilarang minum minuman keras. (Lihat: Zainal Abidin, 1958: 361)

Kemudian asal usul inspirasi Soekarno soal Ketuhanan Yang Maha Esa lagi-lagi diambil dari Hindu-Buddha masih di kitab Sutasoma karya Empu Tantular, terdapat pada Pupuh 139, bait 5 berbunyi:

Mangka ng Jinatwa Kalasan Siwatatwa tunggal
Bhinneka tunggal Ika tan hana dharma mangrwa
Artinya :
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa (Hindu) adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Begitu absurd, ada dua agama berbeda pada waktu itu, tetapi dianggap mempunyai satu kebenaran tunggal. Apalagi saat ini ada enam agama yang diakui negara (selebihnya aliran sesat seperti Syiah dan Ahmadiyah), absurd pula dianggap benar semua karena tunggal ihwal ketuhanan yang esa.

Inilah aktivitas Filolog yang Soekarno lakukan dalam menggali Pancasila. Bagi kita umat Islam, sudah jelas hal ini sesat dan menyesatkan.

Kemudian Hermeneutika sendiri adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Nama Hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani, hermeneuein yang berarti menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan. (Lihat: Mulyono, Edi. dkk, 2012: 20-22, 34-35, 69-70, 155-156)

Bisa dikatakan juga bahwa Hermeneutika ini adalah langkah kedua yang Soekarno lakukan setelah sebelumnya melakukan tindakan Filolog atas naskah-naskah pada kitab Negarakertagama dan Sutasoma untuk mengambil Pancasila.

Pihak seluker yang ada di kubu nasionalisme saat merumuskan 5 dasar masa BPUPKI hingga PPKI (29 April - 29 Agustus 1945) tentunya sembari menerapkan metode hermeneutika agar tafsir dan maknanya dianggap paling rasional, paling pas, paling memuaskan akal, dirasa paling positif di 5 sila untuk membawahi seluruh agama bahkan dianggap ideologi bangsa.

Meski kubu Islam gigih menolak perubahan sila pertama yang terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno pun memberi kesempatan kedua pada masa pembentukan Konstituante (9 November 1956 - 5 Juli 1959) kepada kubu Islam, namun akhirnya Konstituante bubar pada 5 Juli 1959 dengan munculnya Dekrit Presiden yang mana isi dari Dekrit Soekarno memutuskan dasar negara kembali kepada Pancasila dan UUD 45 yang dijiwai oleh piagam Jakarta. (Baca: Naskah Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

Soekarno membuat tafsir sendiri bahwa Pancasila sesuai dengan piagam Jakarta yang intinya agar umat Islam menganggap Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Akhirnya anggapan ini terus membekas hingga saat ini. Hingga akhirnya yang lebih parah lagi banyak ormas Islam dan para da'i melakukan cara berpikir Hermeneutika ala sekuler liberal atas Islam agar dianggap tidak bertentangan dengan Pancasila.

Salah satu kasus yang beredar di masa sekarang akibat tingkat laku para da'i yang menggunakan cara berpikir Hermeneutika, beredar artikel maupun gambar poster yang membubuhkan 5 sila pada Pancasila, setiap silanya dianggap berasal dari dalil-dalil Al-Qur'an, diantaranya:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
"Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa" [QS.Al-Ikhlas: 1]
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
"Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu hendaklah kamu jadi manusia yang adil" [QS.An-Nisa: 135]
3. Persatuan Indonesia
"Dan Kami menjadikan kamu berbagai bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal" [QS.Al-Hujurat: 13]
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
"Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka" [QS.Asy-Syuro: 38]
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan" [QS.An-Nahl: 90]

Sungguh ini adalah bentuk kejahilan ilmu yang dilakukan oleh para da'i dan kelompok Islam masa kini yang menggunakan cara berpikir Hermeneutika dengan menafsirkan dan memberi makna sebebasnya bahwa 5 sila tadi sesuai atau berasal dari 5 dalil syara tadi. Dan sungguh cara berpikir sekuler liberal ini benar-benar membuat Islam harus tunduk terhadap Pancasila. Ini pun sekaligus sebagai sikap defensif apologetik yang menempatkan Islam sebagai pihak tertuduh agar disesuikan, mencari kesesuaian/kesamaan agar menerima dan tunduk terhadap Pancasila.

Ingatlah dengan dalil ini, sungguh Allah telah membantahnya sendiri atas prilaku jahil para ulama dan da'i yang menggunakan cara berpikir Hermeneutika dan sikap defensif apologetik mencocoklogikan Pancasila dengan Islam.

"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya". Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji". Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" [QS. Al-A'raf : 28]

Rasulullah pun menyebutkan bahwa tindakan mengada-adakan suatu perkara yang jelas tidak ada pada Islam, maka itu sesat.

"Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” [HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i]

Dan Rasulullah pun menyebutkan jika ada umatnya yang mengubah dan mengganti Islam maka dia akan celaka.

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku” [HR.Bukhari no. 7050]

Oleh karena itu sudah jelas asal usul Pancasila itu darimana, dimulai dari usaha Filologi yang dilakukan founding father hingga usaha Hermeneutika yang dilakukan oleh kaum sekuler liberal era dulu maupun sekarang haruslah ditinggalkan karena sudah jelas Pancasila bertentangan dengan Islam. Tidak boleh ada celah dan ruang sedikit pun, baik kompromi atau sikap pragmatis apapun itu.

"Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya." [HR.Ad-Daruquthni 3/181 no. 3564]

Wallahu alam bishowab.
Nazril Firaz Al-Farizi
Label: ,

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.