Merusak Aqidah Umat Atas Nama Toleransi Dan Pariwisata


Oleh: Titin Kartini

Tanggal 25 Januari 2020 umat Konghucu telah merayakan hari raya mereka yaitu Imlek, lima belas hari setelah Imlek mereka akan melanjutkan dengan perayaan Cap Go Meh atau CGM.

Khusus untuk Kota Bogor tepatnya daerah Surya Kencana, perayaan CGM akan diadakan dengan sangat meriah bahkan akan mendapatkan kucuran dana Rp 500 juta yang berasal dari APBD, seperti yang diberitakan oleh radarbogor.id berikut ini.

Berbagai persiapan Cap Go Meh Bogor Street Festival 2020 mulai dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Rencananya, Pemkot telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 500 juta untuk event nasional yang masuk dalam Top 100 Calender of Event (CoE) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut.

Saat ini, Pemkot pun tengah menyiapkan konsep dan konten apa saja yang akan disajikan pada helatan tahunan yang sudah berlangsung sejak 19 tahun lalu di kota hujan.

Wali Kota Bima Arya mengatakan Pemkot akan menganggarkan Rp 500 juta untuk CGM 2020.
Anggaran itu, kata dia, masuk dalam rancangan APBD 2020 Kota Bogor.
https://www.radarbogor.id/2019/12/06/cgm-bogor-street-festival-2020-pemkot-kucurkan-anggaran-rp-500-juta/

Sementara, itu Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan: Bogor Street Festival, bukan hanya sekedar acara budaya, tetapi sebagai bentuk upaya untuk menjaga keberagaman di Bogor untuk Indonesia. Kedatangan warga, sebagai bentuk keinginan warga untuk menjaga warisan budaya bangsa yang penuh keberagaman.

"Ini bukan hanya tentang budaya, ini juga bukan hanya tentang upacara, tetapi ini adalah tentang nilai-nilai yang kita yakini dari masa ke masa, diturunkan dan kita jaga terus kedepan, bersama dalam keberagaman, berbeda adalah keniscayaan, beragam adalah keharusan, tapi kebersamaan harus kita perjuangkan," katanya.
https://kotabogor.go.id/index.php/show-post/detail/13682/bogor-street-festival-cgm-digelar-8-februari-2020-suguhkan-suasana-baru-suryakencana.

Kebersamaan dan keberagaman, demi menjaganya maka masyarakat pun diajak untuk mensukseskan dan mendukung acara tahunan tersebut. Namun apakah masyarakat pun tahu apa arti dari Imlek dan CGM, serta maksud dan tujuannya?

Dilansir dari suara.com berikut ini arti dan makna Imlek dan Cap Go Meh. Disampaikan Ko Ahin, penjaga kelenteng Hui Tek Cunong dari Yayasan Dharma Budi, Imlek umumnya dirayakan dengan sembahyang ke Kelenteng atau Vihara untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru.

Sedangkan saat Cap Go Meh, menurut Ko Ahin, perayaan dihiasi dengan acara hiburan dan atraksi barongsai. Selain itu, ada tradisi sembahyang kue keranjang, dimana masyarakat Tionghoa membawa persembahan kue keranjang ketika berdoa kepada Tuhan dan dewa-dewi. "Selain itu, ada juga tradisi makan kue keranjang saat Cap Go Meh. Jadi maknanya untuk mengucap syukur dan memohon berkah serta keselamatan," tambah dia.
https://www.suara.com/lifestyle/2017/01/28/194000/ini-bedanya-perayaan-imlek-dan-cap-go-meh

Setelah tahu arti dari Imlek dan CGM, sudah seharusnya umat muslim tidak ikut serta dalam perayaan tersebut karena ini menyangkut tentang aqidah umat. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda "Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka" 
(HR. Ahmad).

Hadist tersebut adalah penegasan akan larangan umat muslim untuk ikut serta merayakan hari raya umat lain, baik menghadiri ataupun mengucap selamat kepada mereka.

Namun demikian bukan berarti umat muslim intoleran terhadap penganut ajaran agama lain. Justru Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi.

Kata toleransi sendiri berasal dari bahasa inggris tolerance, adapun dalam bahasa Indonesia, kata ini diserap menjadi kata toleran atau toleransi. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI), toleran didefinisikan dengan sifat atau sikap toleran.

Toleran adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. (Departemen Pendidikan Nasional, KBBI Pusat Bahasa, hlm. 1477-78, Edisi keempat, 2008, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta).

Definisi kata toleransi tentu sangat sesuai dengan umat Islam, dan ini ada dalam beberapa ayat al-Quran yang  menjelaskan bahwa umat harus menghormati, menghargai agama-agama lain bahkan melarangnya untuk menzalimi umat agama lain seperti perintah Allah SWT: kaum muslim tidak memaksa orang kafir masuk Islam (QS. 2:256).
Orang kafir dibiarkan menjalankan peribadahan sesuai agama dan keyakinan mereka. Kaum muslim juga dilarang mencela sesembahan agama lain tanpa dasar ilmu (QS. 6:108).
Islam memerintahkan kaum muslim berdiskusi dengan orang-orang kafir dengan cara yang makruf ( QS. 29:46).

Sangat jelas dan tegas Allah SWT dan Rasul-Nya, memerintahkan kepada seluruh umat muslim untuk menjaga keberagaman dan menghormati perbedaan.

Namun ironisnya, justru dukungan datang dari pemerintah bahkan menyediakan dana yang sangat besar untuk menyokong acara tersebut. Bukankah alangkah baiknya dana tersebut dipakai untuk membantu masyarakat yang saat ini ada dalam kesulitan baik ekonomi, pendidikan dan kesehatan akibat dari kebijakan penguasa yang zalim. Seharusnya pemerintah menjelaskan arti, makna dan tujuan acara tersebut kepada umat muslim khususnya.

Atas nama melestarikan budaya, maka umat Islam pun digiring untuk menyaksikan dan turut serta dalam seluruh rangkaian acara tersebut yang sesungguhnya menggerus aqidah umat muslim.

Inilah sistem kapitalis sekuler, demi keuntungan   apapun akan dilakukan termasuk merusak aqidah umat. Islam tidak anti dengan budaya, namun budaya yang harus dilestarikan adalah budaya yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, bukan budaya yang di dalamnya terkandung ajaran-ajaran agama lain yang dapat merusak aqidah umat.

Dalam Islam pariwisata tidak dijadikan salah satu pendapatan negara, namun pariwisata dijadikan sebagai ajang untuk umat bertafakur akan kebesaran Sang Pencipta.

Pendapatan negara dalam Islam didapat dari pengelolaan sumber daya alam yang dikelola oleh negara untuk kesejahteraan umat.

Toleransi dalam kapitalisme adalah toleransi yang liberal, toleransi yang mengharuskan kita ikut serta dalam perayaan agama lain, mencampur adukan yang haq dan yang bathil.

Negara yang harusnya hadir menjadi benteng utama untuk menjaga aqidah umat, namun ini tidak kita dapatkan pada sistem demokrasi kapitalis sekuler sekalipun sang penguasa berasal dari umat muslim, dan ini adalah propaganda kafir barat untuk menyesatkan umat islam agar menerima plurarisme atas nama toleransi dan kebebasan dalam segala hal.

Allah SWT berfirman : " Mereka ingin agar kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama dengan mereka" (QS. an-Nisa'(4):89).

"Katakanlah, " Tidak sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk menarik hatimu. Karena itu bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang berakal, agar kalian mendapat keberuntungan."  (QS. al-Maidah (5):100).

Wahai kaum muslim,  sudah seharusnya kita menyadari dan memahami makna toleransi yang sebenarnya dalam islam agar kita terlepas dari propaganda kaum kafir barat yang ingin mendeskontruksi, melumpuhkan, bahkan melenyapkan aqidah dan ajaran Islam.

Islam telah memiliki konsepsi toleransi yang adil dan proporsional,  yang akan menjadikan kaum muslim dan non muslim justru bisa hidup rukun secara sempurna dan penuh keamanan serta kesejahteraan. Dan hal ini tentu hanya bisa diwujudkan oleh sebuah negara dengan sistem islam sebagai ideologinya yang akan menjaga dan melindungi umat khususnya umat muslim dari paham liberalisme yang akan mengikis aqidah umat Islam.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Sumber; https://t.me/WadahAspirasiMuslimah
Label: ,

Post a Comment

[blogger]

Author Name

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.