APAKAH MENYESAL TELAH MELAKUKAN AKTIVITAS DAKWAH ?


[Catatan Hukum Kriminalisasi Terhadap Ketua LBH Pelita Umat]

Oleh : Ahmad khozinudin, SH | Ketua LBH Pelita Umat

Ada satu pertanyaan penutup dari penyidik Direktorat Pidana Siber Mabes Polri terhadap penulis saat pemeriksaan. Apakah anda menyesal ? Saya kemudian mempertegas, menyesal karena apa ? Diterangkan penyesalan itu terkait unggahan dilaman Facebook penulis yang mengkritik Jiwasraya, mengkritik Pancasila dan mengunggah artikel tentang Khilafah.

Dengan tegas penulis sampaikan bahwa penulis tidak menyesal. Bagaimana mungkin seorang yang beragama Islam menyesal telah melakukan aktivitas dakwah ? Seorang pengemban dakwah justru akan berbangga dan bahagia dengan dakwahnya.

Melakukan kritik atas adanya ketidakadilan, kezaliman, itu bagian dari dakwah. Mengkritik Jiwasraya, membongkar segala tipu daya dan makar para perampok Jiwasraya, itu termasuk aktivitas dakwah.

Mengkritik Pancasila, melakukan koreksi tajam terhadap Pancasila, menegaskan Pancasila tertolak oleh akidah Islam karena dalam Islam sumber dari segala sumber hukum hanyalah Al Qur'an, As Sunnah serta apa yang ditujuk oleh keduanya berupa Ijma' Sahabat dan Qiyas Syar'i, bukan Pancasila. Pernyataan yang mengatakan Pancasila sumber dari segala sumber hukum, dalam pandangan Islam adalah batil.

Selanjutnya menjelaskan definisi khilafah, membuat batasan-batasannya, menerangkan eksistensinya, sejarahnya, perbedaannya dengan sistem Republik, Monarki, Monarki Konstitusi, Federasi dan Konsfederasi itu semuanya juga bagian dari dakwah. lalu apa salahnya menyampaikan khilafah dan mengutip pendapat dari TV one terkait khilafah ?

Semua aktivitas yang penulis lakukan itu adalah aktivitas dakwah. Aktivitas mulia yang dahulu dilakukan oleh para Rasul dan ambiya.

Aktivitas yang akan menyelamatkan umat manusia, membebaskan manusia dari penghambaan selain kepada Allah menuju menghamba hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata. Khilafah adalah masa depan umat Islam dan negeri ini yang dirundung berbagai masalah dan berbagai kegagalan sistem Republik demokrasi dan ideologi kapitalisme global yang menyengsarakan dunia.

Lantas bagaimana mungkin seorang pengemban dakwah diminta menyesal telah melakukan aktivitas dakwah ? Justru seorang pengemban dakwah bangga dan bahagia dengan aktivitas dakwahnya.

Bahwa kemudian aktivitas dakwah itu ditafsirkan sepihak oleh penguasa dianggap menyebarkan kebohongan, dianggap menghina dan melawan penguasa, di sidik dengan pasal 14 ayat 2 dan pasal 15 undang-undang nomor 1 1946 dan juga disidik dengan pasal 207 KUHP, ya terserah saja. Penguasa yang punya wewenang, sementara kita melakukan aktivitas dakwah hanya karena perintah Allah SWT, cukuplah Allah sebagai tempat bernaung, memohon perlindungan dan pertolongan.

Ini persoalan politik saja coba kalau penulis mau masuk di gerbongnya rezim Jokowi mau nyebar hoax apapun pasti aman. Meskipun penulis tidak masuk di gerbong yang lain tapi penulis aktif dalam aktivitas dakwah sehingga dakwah itulah yang dianggap akan mengancam kekuasaan.

Karena itulah rezim setelah gagal bertarung secara intelektual dengan penulis mereka menggunakan sarana hukum untuk membungkam aktivitas dakwah penulis. Kalau ini tujuannya saya tegaskan kepada rezim Jokowi sejak saat ini anda harus memahami dan menyadari bahwa anda telah gagal untuk membungkam pengemban dakwah Islam.

Penulis bahagia dan bangga dengan dakwah karena penulis membaca Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

 سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ، ورجل قال إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله

“Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang lelaki yang mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim, dia memerintahnya dan melarangnya, kemudian penguasa itu membunuhnya.”

(HR. Al Hakim).

Jadi penulis tegaskan, bahwa penulis tidak menyesal telah melakukan aktivitas dakwah. Penulis bahkan bangga dan bahagia menjadi pengemban dakwah. []
Label: , ,

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.