Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

LIBERALISME, SEKULERISME DALAM PERDEBATAN UCAPAN NATAL

Oleh : Ahmad Sakhroni

Hidup dalam LINGKARAN Liberalisme Sekularisme memaksa umat untuk bertindak dan berfikir dengan standar tersebut. Ada yg sadar rusaknya lingkaran tersebut, kemudian berusaha keluar dan merubah lingkaran itu.
Ada yg tidak sadar kemudian enjoy didalamnya. Ada yg mempertahankan dan membelanya karena dianggap lingkaran tersebut ide2 yg benar.

Ide-ide tersebut masuk ke negeri-negeri islam dan dijadikan salah satu standar bagi individu, masyarakat dan negara (penguasa muslim) untuk menilai benar dan salah.

Dalam menghadapi hari raya beragama Misalnya, orang-orang barat yang hidup dalam standar tersebut, terbiasa saling mengucapkan selamat terhadap agama lainnya dan ikut bersuka-cita, dan itu dipandang sebagai sebuah kebaikan, toleran dan sesuai dengan nilai2 HAM. Maka, ketika ada yang menolak perbuatan tersebut dipandang sebagai tindakan Intoleran, bertentangan dengan HAM. karena liberalisme-sekularism memposisikan semua agama sama, setiap agama tidak boleh mendominasi agama lainnya, agama tidak boleh hadir kecuali dalam ranah privacy, tidak ada faktor pembeda kecuali hanya sebatas cara.

Perdebatan boleh tidaknya mengucapkan "selamat" terus ada setiap tahun, sehingga ada anekdot, selamat datang desember, selamat datang perdebatan ucapan natal.
Upaya-upaya kompromi pun sering dilakukan oleh ulama, dimaksudkan untuk meredam perdebatan dan sebagai pembenaran terhadap para penguasa agar tidak dicap Intoleran dan melanggar HAM. misalnya dengan pernyataan, "Umat Islam dilarang mengucapkan selamat Natal kecuali wapres". Saya tidak tahu apakah ini fatwa atau hanya sekedar himbauan, yang jelas kalimat tersebut adalah kalimat ajaib yang muncul disaat Liberalisme-sekularisme dijadikan standar berfikir dan berbuat oleh individu, masyarakat dan negara.

Hal-hal seperti ini tentu saja menjadi problem baru di tubuh umat, yang tidak akan kita temui dimasa lalu kecuali hanya sedikit, yaitu di masa awal kemunduran umat Islam, ketika kaum muslim tergerus dengan ide-ide diluar islam, Seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Abdul Aziz at-Tharifi bahwa "Mengucapkan Selamat Hari Natal kepada orang Kristen tidak boleh (haram) menurut kesepakatan empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali), Saya tidak tahu ada satupun pendapat yang berbeda dalam masalah ini, kecuali pada zaman akhir. Pendapat yang tidak ada nilainya".

Jadi, Jelas akar permasalahan dalam problematika perdebatan mengucapkan Natal ini adalah liberalisme-sekulerisme yang diadopsi oleh umat sehingga menjadi standar dalam pemikiran dan perbuatan. perdebatan ucapan natal hanyalah salah satu dari sekian banyak masalah akibat ide-ide ini, permasalahan dalam bidang politik, sosial, ekonomi jauh lebih besar dampaknya terhadap umat.

Solusi atas permasalahan tersebut adalah membangun kesadaran ditubuh umat, bahwa saat ini adalah Umat tidak diatur oleh Islam, keadaannya seperti Ikan hidup didaratan, menggelepar untuk bertahan hidup dengan aturan-aturan diluar islam, yaitu Sekulerisme-liberalisme yang dijadikan standar dalam mengatur urusan umat.

Berupaya menyadarkan penguasa, bahwa satu-satunya aturan yang bisa menentramkan dan mensejahterakan adalah Syariat Islam, yang bisa menjamin keragaman tanpa ada paksaan, hal ini dibuktikan dalam bentang sejarah Islam. Dimana para khalifah menjamin kebebasan beragama dan melindungi setiap rakyatnya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ingatlah, siapa yang mendzalimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat” (HR. Abu Daud).

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

“Siapa yang membunuh kafir Mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” (HR. Bukhari).

Post a Comment for "LIBERALISME, SEKULERISME DALAM PERDEBATAN UCAPAN NATAL"