Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SOAL MEMILIH KABINET : KUALAT ATAU KU-ALAT ?


Oleh : Ahmad Sastra

Islam tidak mengenal istilah kualat dalam arti seseorang mendapat kutukan dari orang lain karena perbuatan tertentu. Sebab pada hakekatnya manusia tidak bisa memberikan mudharat kepada manusia lain. Islam hanya mengenal balasan atas perbuatan manusia dari Allah SWT. Amal sholeh mendapat balasan pahala, sedangkan amal maksiat mendapat balasan dosa. 

Allah juga Maha Berkehendak dan Maha Kuasa, apapun yang terjadi di dunia tidak akan terlepas dari kehendak Allah. Salah satu kehendak Allah dinamakan taqdir dimana Allah telah menetapkan ukuran (khasiah) segala sesuatu. Batu telah ditaqdirkan Allah bersifat keras, air bersifat cair dan sifat-sifat khas benda-benda lainnya. 

Kehendak Allah lainya adalah berupa qodho, yakni segala perbuatan dan peristiwa yang terjadi  diluar kuasa manusia. Contoh peristiwa qodho adalah gunung meletus, kecelakaan, sakit, kematian, tsunami dan lainnya. 

Seluruh peristiwa itu merupakan semata-mata ketetapan Allah, tanpa campur tangan manusia, sebagai petunjuk atas kemahakuasaan Allah. Perbuatan dan peristiwa yang termasuk qodho tidak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (pula) pada dirimua sendiri melainkan telah tertulis dalam (lauh mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah (QS Al Hadid : 22). 

Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal. (QS At Taubah : 51). 

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajal), maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS Al A’raf : 34). 

Adapun perbuatan dan peristiwa ada yang disebut sebagai amal perbuatan tatkala merupakan pilihan manusia. Manusia memiliki pilihan untuk berbuat atau tidak, seperti duduk, berdiri, makan, belajar, menikah, berpolitik, beribadah, dan lainnya. 

Seluruh perbuatan yang merupakan pilihan ini tidak terkategori takdir dan qodho, tapi pilihan perbuatan. Karena itu, pilihan perbuatan ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Maka menjadi tidak relevan pertanyaan,’ apakah manusia dipaksa melakukan perbuatan baik burutk, ataukan diberikan kebebasan memilih ?’. 

Allah telah menegaskan dua diantara jalan kebaikan dan keburukan, manusia diberikan kebebasan untuk memilih dan akan diminta pertanggungjawaban akan pilihannya. ‘Telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk) (QS Al Balad : 10). ‘ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan’ (QS Asy Syams : 8). 

Rasulullah saat dilahirkan di dunia dihadapakan dengan dua sistem kehidupan, yakni antara sistem jahiliah yang telah lama mengakar dalam kehidupan bangsa Arab dan sistem aturan Islam yang merupakan aturan dari Allah. Rasulullah lantas memilih sistem Islam dan meruntuhkan sistem jahiliah. 

Jadi persoalan sistem kehidupan bukan soal takdir atau qodho, namun merupakan pilihan manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pada zaman sekarangpun demikian, apakah mau memilih sistem jahiliah kapitalisme demokrasi, komunisme ateis atau sistem Islam yang datang dari Allah. 

Maka, jika penguasa hari ini memilih sistem jahiliah demokrasi, maka pilihan itu harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, kelak di akherat. Maka, jika seorang penguasa memilih para menterinya, itu merupakan pilihan juga yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Tidak ada hubungannya dengan kualat dalam arti mendapat mudharat dari manusia karena pilihan perbuatannya. 

Setiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS Al Mudatstsir : 38) 

Memilih demokrasi, memilih para menteri yang juga mendukung demokrasi serta menolak penerapan syariah Islam, bahkan memusuhi Islam, maka ini merupakan kemaksiatan besar yang bisa menjerumuskan kepada kemunafikan dan kemusyrikan. Kedua kemaksiatan itu akan mendapat dosa besar dari sisi Allah. 

Karena itu, penting untuk diperhatikan bahwa demokrasi adalah sistem jahiliah modern yang berasal dari Barat dan secara genetik anti Islam. Artinya, jika umat Islam memilih sistem demokrasi, bukan kualat tapi ku-alat. Ku-alat berasal dari bahasa sunda yang artinya diperalat. 

Demokrasi sesunggunya hanya memperalat (ku-alat) kaum muslimin agar terus bisa dihegemoni dan dijajah. Faktanya di negeri demokrasi, umat Islam hanya menjadi penonton dan penderita. Berbagai kezoliman dan diskriminasi kepada kaum muslimin justru terjadi di negara-negara demokrasi.

Kaum muslimin mestinya sadar bahwa demokrasi adalah alat penjajah Barat di negeri-negeri muslim. Pasca runtuhnya khilafah Islamiyah di Turki yang berfungsi sebagai pelindung kaum muslimin dan pemersatu muslim seluruh dunia, maka kaum muslimin di seluruh dunia terjajah dengan demokrasi. 

Padahal sebagai seorang muslim, telah Allah sediakan sistem kehidupan dariNya yang lebih baik, yakni sistem Islam dalam institusi daulah Islam. Daulah Islam berfungsi sebagai institusi penerapan syariah Islam, ukhuwah Islamiyah dan dakwah rahmatan lil’alamin ke seluruh penjuru dunia. 

Kesimpulanya, soal memilih sistem demokrasi dan memilih para menteri tidak ada hubungannya dengan kualat, tapi berhubungan dengan ku-alat oleh musuh-musuh Allah. Lebih dari itu, memilih sistem batil, selain akan menjadi sumber kerusakan kehidupan berbangsa dan bernegara, juga akan mendapat murka Allah. 

Maka, kembalillah kepada jalan Allah, jika negeri ini menginginkan mendapat pertolongan dan keberkahan dari Allah. Berbagai kerusakan sosiologis, ekologis dan psikologis adalah akibat dari pilihan perbuatan manusia, serta sebagai peringatan Allah agar manusia kembali ke jalan dan sistem Allah, yakni syariahNya. 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar Ruum : 41)

*[AhmadSastra,KotaHujan,28/10/19 : 23.00 WIB]*

Post a Comment for "SOAL MEMILIH KABINET : KUALAT ATAU KU-ALAT ?"