Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

JAGAT TWITTER 'MENGHAKIMI' JOKOWI, PERTANDA APA ?


Oleh : Nasrudin Joha 

Tanpa sengaja, pada Jum'at (4/10) Nasjo mendapat kiriman beberapa screenshot tranding topic jagat Twitter di Indonesia. Diantara tagar yang sempat naik diantaranya : #PemimpinTanpaHati, #NegaraGagalLindungiRakyat, #KeamananItuHakRakyat, #GempaMalukuDukaIndonesia, #AdiliPelakuKezaliman dan #WamenaTanggungJawabJae.

Jumlah cuitannya juga lumayan, #PemimpinTanpaHati 40,9 ribu Tweet, #NegaraGagalLindungiRakyat 34,8 ribu Tweet, #KeamananItuHakRakyat 50,6 ribu Tweet, #AdiliPelakuKezaliman 24,7 ribu tweet, #GempaMalukuDukaIndonesia 42,4 ribu Tweet, dan #WamenaTanggungJawabJae 55,3 ribu Tweet.

Memang benar, topic cuitan ini tidak menyendiri. Beberapa Tweet lain yang sempat bertengger diantaranya : #SuperM_Jopping, #lThinkL, dan #STANDSTRONGX-1.

Trending topic Twitter yang terjadi kemarin (Jumat, 4/10) tidak dapat dilepaskan dengan kondisi bangsa ini, khususnya terkait peristiwa pembantaian Wamena dan musibah gempa Maluku. Terkait dua peristiwa penting ini, publik dikejutkan dengan dua pernyataan 'nyeleneh' dua pejabat publik di negeri ini.

Pertama, pernyataan Presiden Jokowi yang meminta masyarakat tidak mempercayai hoax terkait wanena, pada saat yang sama Jokowi tidak mengunggah keprihatinan dan bela sungkawa atas meninggalnya sejumlah warga pendatang khususnya dari etnis Minang dan Bugis yang menjadi korban. Puluhan nyawa meninggal, ratusan rumah dibakar, dan ribuan yang mengungsi.

Tentu ini sangat menyakitkan. Padahal, untuk mantan Presiden Perancis, Jokowi mengucapkan ungkapan yang sangat empatik untuk rakyat Perancis. 

"Duka cita yang mendalam kepada keluarga serta rakyat Prancis atas wafatnya mantan Presiden Prancis Jacques Chirac (1932-2019). Presiden Chirac adalah pemimpin yang dicintai dan dekat kepada rakyatnya, seorang tokoh yang mempersatukan dan memberikan kesejahteraan ke Prancis," begitu, Tweet Jokowi.

Kedua, terkait bencana gempa  Ambon Maluku, Menkopolhukam Wiranto mengeluarkan pernyataan agar warga korban gempa segera kembali kerumah, karena dianggap sangat membebani Pemerintah jika tetap bertahan di pengungsian. Pernyataan ini juga tak sensitif, tak merasakan suasana kebathinan korban gempa. 

Kontan saja, pernyataan Wiranto ini memantik kemarahan publik khususnya rakyat Maluku. Muncul petisi tuntutan permintaan maaf Wiranto atas pernyataan ngawurnya, bahkan Maluku meminta wilayahnya dihapus dari NKRI agar tak membebani Pemerintah RI.

Sontak saja hal ini sangat mengecewakan. Belum juga Pemerintah menuntaskan ancaman disintegrasi Papua yang sudah diujung mata, kini muncul masalah baru di Maluku yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika pemimpin di negeri ini pandai menjaga mulut.

Selain dua peristiwa tersebut, tranding topic Twitter kemarin juga tidak bisa dilepaskan dari sikap masa bodoh Pemerintah atas banyaknya unjuk rasa yang menuntut sejumlah RUU di DPR dibatalkan. Bahkan, Presiden juga dingin menyikapi tuntutan pendemo yang meminta Presiden menerbitkan Perppu untuk membatalkan UU KPK baru yang diproduksi oleh sistem hukum besi parlemen. 

Bahkan, korban dari pihak pendemo juga tak mendapat perhatian Pemerintah. Tuntutan IMM agar kematian dua kadernya di Kendari segera diusut tuntas oleh polisi, hingga hari ini tdk ada kejelasan perkembangannya.

Polisi justru sibuk memoles citra diri dengan memberikan penghargaan kepada anggotanya yang terkena lemparan batu saat menangani demo di Surakarta. Lantas, bagaimana dengan korban dari pihak pendemo yang meninggal, terluka, juga yang dirawat dirumah sakit ? Apakah mereka semua dianggap pemberontak dan musuh polisi ? Apakah, penghargaan itu hanya dikhususkan untuk polisi yang 'tersenggol batu' ? Bagaimana dengan nasib dua mahasiswa yang tertembus timah panah dan meninggal karenanya ? 

Kumulasi kemarahan, kesedihan, protes, ketidakpercayaan, keprihatinan yang mendalam atas kondisi bangsa hanya inilah, yang menurut hemat penulis menyebabkan netizen khususnya pengguna Twitter akhirnya riuh di sosial media dan melambungkan tagar #PemimpinTanpaHati, #NegaraGagalLindungiRakyat, #KeamananItuHakRakyat, #GempaMalukuDukaIndonesia, #AdiliPelakuKezaliman dan #WamenaTanggungJawabJae.

Anehnya, tak ada counter narasi opini dari rezim Jokowi yang ketika kampanye Pilpres lalu begitu kuat didukung sejumlah netizen Twitter. Munculnya tagar #SuperM_Jopping, #lThinkL, dan #STANDSTRONGX-1, jelas tidak mewakili rezim dan bukan merupakan counter opini terhadap tagar yang mengkritik Rezim Jokowi.

Keadaan ini menunjukan, bahwa kemarahan publik terhadap kinerja penguasa itu berlanjut meskipun Pilpres telah usai. Tagar yang melambung ini juga menunjukan, bahwa perlawanan terhadap rezim itu bukan semata didasari pada kepentingan politik Pilpres, tetapi memang real menyuarakan aspirasi rakyat yang marah kepada rezim. Kemarahan itu berlanjut meskipun Pilpres telah usai. 

Adapun rezim Jokowi, ternyata tak ada yang membela pasca Pilpres. Ini menunjukan, pembelaan netizen kepada rezim saat Pilpres hingga proses ke MK itu bisa dipastikan bukan mewakili suara rakyat murni, tapi merupakan buzzer bayaran rezim untuk menyokong elektabilitas Jokowi. 

Pasca Pilpres, buzer Jokowi dibubarkan dan karenanya mereka tak lagi bekerja untuk membela kepentingan rezim. Sementara, suara kritik terhadap rezim terus ajeg seiring dengan kegagalan demi kegagalan yang terus dipertontonkan oleh rezim. Saya kira, fenomena ini adalah ancaman nyata bagi legitimasi kekuasan rezim Jokowi.

Ini saja pendapat saya, adapun terkait peta pertarungan, asosiasi Tweet, sumber dan rujukan fakta, pemirsah rasanya bisa bertanya langsung kepada Mas Ismail Fahmi yang punya Drone Emprit. [].

Post a Comment for "JAGAT TWITTER 'MENGHAKIMI' JOKOWI, PERTANDA APA ?"