Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Surat Terbuka Pada Bpk Suryo Prabowo

 

Tidak secara sengaja saya membaca tweet dari Bpk. Suryo Prabowo seorang purnawirawan TNI yang jika tidak salah sempat punya pangkat Letjen (maaf jika salah) seoang beragama Katholik.

Tweet Bpk ini saya baca karena muncul di wall FB saya. Sebenarnya nama Bpk sudah lama saya tahu, dan juga sudah sering juga saya membaca tweet-tweet Bpk dalam beberapa tahun ini.

Dari keseluruhan Tweet itu, saya berkesimpulan bahwa Bpk adalah seorang anak negeri yang sangat patriotis, sangat cinta pada negerinya, sehingga Bpk tidak segan-segan berkomentar pada hal-hal yang menurut Bpk sesuatu yang buruk bagi negeri ini. Saya juga berkesimpulan bahwa Bpk ini bukanlah seorang yang anti keberagaman, karena sering tweet Bpk justru mendukung umat Islam, maupun ulama yang didzalimi. Itulah penilaian saya pada pribadi Bpk. Pribadi yang menurut saya adalah pribadi yang mulia, pribadi yang peduli pada negerinya.

Kembali ke tweet Bpk yang ingin saya tanggapi, di tweet itu Bpk menyatakan ketidak setujuan Bpk jika Khilafah tegak di Indonesia. Tweet yang kemudian Bpk tegaskan sebagai Tweet yang benar berasal dari Bpk, bukan karena di hack pihak lain.

Disana, Bpk memberi argumen penolakan Bpk. Ya, itulah memang pendapat yang menurut saya bisa Bpk utarakan. Pendapat yang terbaik menurut Bpk. 

Hanya saja kemudian muncul paradoks dari penolakan ini, yang menurut saya muncul karena kekurangpahaman Bpk tentang Khilafah itu sendiri. Bpk menyebut di tweet itu bahwa ini adalah sesuatu yang buruk, seburuk Komunis karena akan mengganti bentuk negara, mengganti UU, menganti Pancasila dan lainnya. Buruknya Khilafah ini menurut Bpk, karena ini adalah pemerintahan yang berbasis agama. Tentu penganut agama lain tidak mungkin suka diatur dengan aturan agama lainnya. Kira-kira begitu yang saya tangkap (maaf kalau keliru).

Saya tidak dalam posisi ingin berbantah dengan Bpk. Siapalah saya ini. Tidak ada apa-apanya dibanding segala kinerja Bpk yang sudah Bpk uraikan di tweet Bpk dalam membela negara ini. Bukan.

Sama dengan Bpk, saya juga sangat cinta pada negeri ini. Dalam kecintaan pada negeri ini, saya merasa perlu mengetahui apa akar permasalahan kenapa negeri yang saya cintai ini berada pada kondisi buruk seperti sekarang ini. Dengan penelaahan yang menyeluruh, saya mengambil kesimpulan bahwa kekacauan negeri yang saya cintai ini disebabkan diterapkannya sistem yang berasal dari ideologi buruk, sekulerisme yang melahirkan sistem Demokrasi dan Kapitalisme. Ini akar permasalahannya.

Mungkin akan terlalu panjang jika disini saya paparkan kenapa ideologi dan sistem ini yang membawa negeri ini pada kisruh saat ini. Namun jika Bpk mau telusuri dengan baik, memang segala permaslahan yang tumpang tindih di negeri ini berujung pada keburukan sistem tadi. Kataknlah korupsi, itu muaranya pada sistem politik mahal Demokrasi. Penguasaan asing pada SDA negeri, itu bermuara pada penerapan sistem Kapitalisme. Semakin jauhnya masyarakat, muslim maupun non muslim dari agama mereka, muaranya pada penerapan sekulerisme yang memang punya tabiat menjauhkan agama dari kehidupan.

Bpk tidak bisa memungkiri bahwa itulah akar permasalahan di negeri yang kita cintai ini.

Well, bagaimanakah sikap kita jika penyebab kehancuran negeri justru ideologi dan sistem yang tengah diterapkan ??? Saya, sebagai seorang yang cinta negeri ini punya pendapat, kita ganti saja ideologi dan sistem ini. Pendapat yang sepenuhnya make sense, demi menyelamatkan negeri yang sama kita cintai ini. Mempertahankan ideologi dan sistem buruk ini jika kita sudah tahu akibatnya buruk pada negeri itulah yang saya sebut dengan paradoks dengan ucapan kita yang mengatakan cinta pada negeri ini. bagaimana mungkin di saat yang sama kita sebut cinta pada negeri dan juga kita tetap mempertahankan ideologi dan sistem yang akan menghancurkan negeri ??

Bpk yang saya hormati, di dunia ini hanya ada 3 ideologi. Sekulerisme-Demokrasi-Kapitalisme, Sosialisme-Komunisme, dan Islam. Jadi jika ingin mengganti ideologi dan sistem yang kini diterapkan, opsi penggantinya hanya dua, Sosialisme-Komunisme atau Islam, yang dua-duanya Bpk tolak lewat pernyataan Bpk di tweet Bpk.

Jadi kita mau kemana ???

Faktanya, satu negara tidak bisa berjalan jika tidak punya sistem. Sementara sistem yang ada hanya berasal dari 3 ideologi itu. Kita tahu bahwa sistem yang diterapkan yang membuat negeri ini kacau balau adalah sistem yang ebrasal dari ideologi Sekulerisme-Demokrasi-Kapitalisme. 

Sepertinya ini kondisi yang dilematis bagi Bpk, karena Bpk bukan seorang muslim, yang tentu saja tidak berminat pada ideologi Islam. Sementara Sosialisme-Komunisme juga sama tidak Bpk sukai.

Izinkanlah Bpk, saya mencoba menjelaskan apa itu Islam kepada Bpk. Karena mungkin ketidak pahaman Bpk yang membuat Bpk langsung menolak ketika ada tawaran penerapan Ideologi Islam.

Islam itu adalah agama sekaligus ideologi. Kita tahu defenisi Ideologi itu adalah : " pemikiran mendasar yang darinya dapat diturunkan sistem/aturan kehidupan bagi manusia." Maka segala sesuatu pemikiran yang darinya tdk bisa diturunkan sistem/aturan kehidupan, itu bukanlah ideologi.

Maka Islam sebagai agama mengatur masalah keimanan dan ibadah, sementara Islam selaku ideologi mengatur hubungan sesama manusia dalam segala bidang. Apakah seorang yang mau diatur dengan aturan Islam dalam bidang perniagaan berarti dia akan jadi pemeluk Islam ? Tidak. Dia akan tetap dalam gamanya, karena penerimaannya pada Islam itu hanyalah penerimaan pada aturan sesama manusia dari ideologi Islam, bukan berarti dia menerima agama Islam.

Maka tidak tepat penolakan Bpk pada Khilafah itu dengan menisbatkannya pada agama Islam. Harusnya penolakan itu pada ideologi Islam. Jika penolakannya pada ideologi Islam, berarti itu penolakan pada seluruh sistem yang turun dari ideologi Islam.

Di titik ini, biar obyektif penilaiannya, tdk kemudian bersandar pada sentimen atau perasaan belaka, mestinya BPK sudah bisa membuktikan bahwa seluruh sistem Islam itu lebih buruk dari sistem yang kini diterapkan di negeri ini. Jika Bpk belum tahu bagaimana sistem Islam itu, maka penolakan Bpk tidak punya alasan ilmiah. Jika Bpk menemukan sistem Islam itu lebih baik dari sistem sekarang yang merusak negeri ini, namun Bpk menolak sistem Islam tersebut, akan muncul pertanyaan : benarkah Bpk menginginkan kebaikan pada negeri ini ?

Intinya, jika Bpk menerima sistem Islam, bukan berarti Bpk tunduk pada agama Islam. Bpk hanya mau diatur dengan aturan yang Bpk rasa lebih baik dari sistem yang kini diterapkan, dan membawa kebaikan pada negeri yang sama kita cintai ini.

7 Agustus 2019.
Syarifuddin Chaniago.

Post a Comment for "Surat Terbuka Pada Bpk Suryo Prabowo"