Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KORBAN POLITIK PILPRES 2019


Oleh : Nasrudin Joha 

Bagi elit, politik itu berebut kuasa. Jadi, Pilpres kemarin bagi koalisi TKN Jokowi belum merepresentasikan pertarungan politik sesungguhnya. Pertarungan baru dimulai setelah putusan MK, bahkan pertarungan semakin sengit sejak deklarasi nasi goreng di Teuku Umar.

Jika kaum muslimin berkurban unta, atau sapi, atau kambing pada Idul Adha tahun ini, Pilpres tahun ini sepertinya akan ada partai yang dikorbankan. Partai tadi, telah berkeringat, berjibaku membela Jokowi, tapi pada akhirnya saat pesta menikmati kue kekuasan tak diundang, tak disebut nama dan perannya, tak dipedulikan kiprahnya.

Secara gitu, karena kohesi internal partai itu kepentingan. Saat kepentingan politik sama, mereka saling terikat. Saat kepentingan berbeda, lepaslah ikatan politik itu.

Ketika Pilpres, ikatan kepentingan itu sama : untuk memenangkan Jokowi. Bahkan, ikatan itu semakin kokoh, karena koalisi mitra TKN Jokowi merasa memiliki 'Common Enemy'. Dua faktor ini, yakni ikatan kepentingan yang sama dan ancaman musuh yang sama, menjadikan ikatan politik TKN Jokowi begitu kental.

Pasca Pilpres, ikatan itu berubah. Kepentingan politiknya adalah berebut kursi kekuasan, dan semua partai berbeda pandangan mengenai hal ini. Semua, saling klaim paling berjasa dan paling layak mendapat porsi menteri terbanyak. Dimulai dari PKB, disusul PPP, Nasdem, Golkar dan puncaknya PDIP saat kongres di Bali. Tegas, PDIP minta porsi kursi menteri terbanyak.

Common enemy juga berubah, bukan lagi lawan politik tetapi justru yang menjadi musuh adalah sesama partai TKN Jokowi. Jika tidak hati-hati, kursi yang diincar bisa luput dari tangan dan dikangkangi partai yang lain.

Jadi, ikatan politik pasca Pilpres sudah terurai, bahkan terburai. Sampai-sampai Surya Paloh yang hadir di kongres PDIP di Bali, tak disebut mega dalam sambutan. Mega, justru mengelu-elu kan Prabowo, padahal sebelumya TKN Jokowi begitu solid menyerang Prabowo.

Melihat realitas politik kekinian, berikut partai politik yang berpotensi menjadi 'KORBAN POLITIK' di musim Haji Tahun ini :

Pertama, Hanura. Banyak alasan untuk tidak memberi porsi menteri pada Hanura, yang paling rasionable adalah fakta bahwa Hanura tak memiliki kursi di parlemen. Artinya, seluruh perjuangan dan pengorbanan Hanura untuk rezim -khususnya Wiranto- yang berjibaku membekingi rezim dan bertindak represif kepada umat Islam, hanya akan gigit jari. 

Hanura akan menjadi partai korban politik yang paling menyedihkan. Sampai-sampai, orang akan kehilangan air mata untuk menangisi nasib pilu Hanura pasca Pilpres 2019. Tak punya kursi di parlemen, tak punya kader di jajaran Kabinet.

Kedua, Nasdem. Meskipun memiliki kursi di parlemen, ada arah kuat untuk membatasi kekuasan Nasdem di kabinet. Porsi dua menteri dan jabatan jaksa Agung, telah membuat PDIP sulit mengendalikan Nasdem. 

Nasdem, telah berani menggonggong bahkan berani menyalak pada tuannya. Jelas, terlihat kasat mata manuver untuk mengkerdilkan Nasdem dalam peran kabinet, tentu cara paling efektif adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan Jatah menteri Nasdem.

Bagi Nasdem, porsi yang sama saja rugi apalagi dikurangi dan bahkan dihilangkan. Namun bagaimana lagi, sinyal 'amputasi' Nasdem dari kabinet itu begitu kuat, sampai harder Nasdem bertarung dengan harder PDIP tentang diskursus menteri ini.

Ketiga, PPP dan PKB. Keduanya, paling hanya dijanjikan kasus korupsi petingginya tidak digoreng. Sementara jumlah menteri, pasti akan berkurang secara proporsional. Apalagi, baik PPP maupun PKB keduanya tak berhak minta porsi menteri atas nama NU, karena NU sendiri minta jatah menteri dari porsi diluar partai.

Golkar kalaupun tidak jadi korban, paling tidak tak bisa meminta jatah lebih. Padahal, Golkar lebih berkeringat untuk Jokowi pada Pilpres 2019 ini. Berbeda dengan Pilpres 2014, Golkar justru menjadi rival Jokowi dan hanya dengan modal merapat langsung mendapat jatah dua menteri.

Adapun partai yang akan menunggangi jerih payah ikhtiar TKN Jokowi adalah Gerindra. Bahkan, Gerindra diduga kuat akan ngalap berkah dari perpecahan di kubu TKN Jokowi.

Bahagianya hati ini, selain bisa menikmati Idul KURBAN, tetapi juga bisa menyaksikan partai yang berkhianat pada umat saling bertarung untuk saling mengorbankan. Saya, akan siapkan kain kafan untuk partai yang mati duluan. Yuk, kita simak siapa yang paling sakit dikorbankan ? [].

Post a Comment for "KORBAN POLITIK PILPRES 2019"