Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DAN MAHKOTA KEWAJIBAN ITUPUN KEMBALI PADA PEMILIKNYA


“Bahwa sesungguhnya semua ulama ahlussunah wal jamaah telah sepakat bahwa penerapan syariah dan penegakkan khilafah serta amar maruf nahi mungkar adalah kewajiban agama Islam,” suara lantang dan jernih Ustadz Yusuf Martak pun disambut seruan takbir yang menggema.
Press Rilis
Ijtima Ulama&Tokoh Nasional IV

Mahkota kewajiban itu, Khilafah Islamiyyah, akhirnya mulai dikembalikan pada pemiliknya; kaum muslimin. Di tengah arus kencang kaum sekuler-liberal untuk mendestruksi ajaran Islam, khususnya hukum Khilafah, seruan penegakkan khilafah justru bergema di ruang Ijtima Ulama ke-4. Kita yakin momentum ini makin membuat kaum sekuler-liberal naik darah sekaligus kejang. Mereka semula begitu yakin dapat menghancurkan seruan penerapan Syariat Islam dan penegakkan khilafah, akhirnya harus menelan kemarahan mereka sendiri. 

وَإِذَا خَلَوۡاْ عَضُّواْ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَنَامِلَ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۚ قُلۡ مُوتُواْ بِغَيۡظِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ  ١١٩

Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (TQS. Ali Imran: 119)
------------------------

Pada momen ini, al-Faqir ingin menyampaikan kepada kalian para syabab rahimakumullah, kalimat tahniyah, berbahagialah karena jerih payah kalian menggelorakan dakwah Islam menyeru kewajiban penegakkan syariah dan Khilafah, dengan izin Allah, mulai menemukan momentumnya. Para syabab yang bertahun-tahun mengajak kaum muslimin untuk kembali pada mahkota kewajiban yang agung ini, akhirnya dapat mendengar dari lisan para tokoh umat – semoga Allah merahmati mereka – seruan tersebut.

Padahal, bertahun-tahun itu pula tidak sedikit tantangan, bujuk rayu agar dakwah penegakkan khilafah ini dihentikan atau disembunyikan saja. “Simpan dulu dalam saku kalian soal khilafah, dakwah saja yang lain,” begitulah bujuk rayu sebagian orang pada para pejuang syariah dan khilafah ini. Kita pun mendengar berbagai cemoohan bahkan hinaan pada hukum khilafah. Para pencemooh ini ingin meruntuhkan keyakinan para syabab dengan menyebut khilafah adalah romantisme sejarah, utopia, sudah usang, dsb. Tapi kalian, demi Allah, tidak bergeming kecuali sedikit orang yang surut ke belakang. Mereka yang mundur dikarenakan kelemahan ihsasul waqi’/mengindera dan memahami realita keumatan serta ketidaksabaran, dan ada yang karena perangkap duniawi. Namun kalian yang bertahan semoga seperti apa yang digambarkan oleh Allah Ta’ala dengan firmanNya:

مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا  ٢٣

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya), (TQS. Al-Ahzab: 23)

Keberhasilan mengantarkan mengantarkan taj al-furudl kembali pada pemiliknya tidak akan terjadi jika tidak berhasil melewati apa yang dikatakan Alamah al-Alim al-Jalil Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah Ta’ala sebagai ‘bahaya ideologis’ (khatrul mabda’iy). Dakwah akan digoda dan dibujuk oleh berbagai tuntutan umat pada tujuan pragmatis yang bertabrakan dengan ideologi Islam. Berulangkali rayuan datang meminta agar jangan melulu berbicara khilafah, tapi kepentingan jangka pendek; pilkada, pileg, pilpres, dsb. Dakwah pun dituntut untuk kompromi pada berbagai hal dengan alasan pragmatisme. Bila kalian tak memilih si fulan, maka umat akan kalah, Islam akan tersudutkan, dsb. 

Namun Syaikh Taqiyuddin mengingatkan kalian bahwa pada posisi itu dakwah akan dihadapkan pada dua kondisi; 1). Kalian akan dibenci umat karena mengabaikan tuntutan pragmatis mereka 2). Kalian akan melepaskan integritas pada ideologi Islam agar dapat diterima umat. Pesan muasis jamaah ini tegas; berpegang teguhlan pada Islam sekalipun umat akan membenci kalian. Inilah implementasi perintah Nabi SAW.:

« يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ »

“Akan datang ke tengah manusia zaman dimana orang yang bersabar di tengah mereka dalam agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Momentum itu pun datang ketika pilpres lalu dengan kasat mata hukum demokrasi menjungkirbalikkan perahu perjuangan umat. Siapapun yang jernih pikirannya akan melihat demokrasi memang bukan jalan perjuangan bagi umat. Sistem hukum yang bersanad pada Plato, Socrates sampai Montesquieu tak akan pernah mengizinkan kaum muslimin memimpin negeri apalagi dengan membawa spirit Islam. Celakanya pihak yang dijadikan tumpuan harapan memang manusia-manusia pragmatis. Umat diberi cek kosong untuk kemudian ditinggalkan setelah pilpres. Padahal jutaan orang sudah berkorban, sebagian orang ditahan, sebagian kehilangan pekerjaan, dsb., tapi tak menggemingkan sikap pragmatis elit parpol.

Sudah saatnya umat punya sikap politik sendiri. Perjuangkan Islam hanya melalui jalan perjuangan Islam, dan untuk membangun kekuatan Islam. Saat ini para tokoh umat telah menyerukan kewajiban penegakkan khilafah, maka tugas kalian, para syabab, seharusnya bertambah ringan karena seruan ini telah menggema. Jangan surut seperti sebagian orang, karena sebagian pencapaian dakwah telah ada di depan mata. Raya dan liwa telah berkibar di penjuru negeri, ketika ada yang coba mengusik serentak umat membela. Kini seruan khilafah sudah dikumandangkan, maka para pejuang dakwah harus berada di garda terdepan. Kalian yang mengawali seruan ini di tengah umat, maka kalian yang punya tanggung jawab dan road map utuh tentang perjuangan menegakkan khilafah.

Bersikaplah sebagaimana fikroh yang telah kalian baca dalam Takattul Hizbiy, berpegang teguh pada ideologi Islam, perlahan tapi pasti dengan izin Allah kebencian umat pada kengototan kalian menyerukan Khilafah akan berubah menjadi ketertarikan dan kecintaan. Sebagaimana mereka dulu ketakutan dan mencibir liwa dan raya, kini mereka bahkan siap mati melindungi keduanya. Kelak mereka yang akan berada di garis terdepan menggemakan khilafah dan siap menjadi martir untuknya. Majulah dan bersabarlah. Allah dan kaum beriman akan melihat apa yang kalian kerjakan.

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (TQS. At-Taubah: 105)

#ijtimaulamaIV #Khilafah #SyariahIslamiyah

[Iwan Januar]

Post a Comment for "DAN MAHKOTA KEWAJIBAN ITUPUN KEMBALI PADA PEMILIKNYA"