Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SIAPA PENGGANGGU PANCASILA

Oleh : Ahmad Sastra

“Tidak ada toleransi bagi yang mengganggu Pancasila”, tegas Jokowi dalam pidato ‘Visi Indonesia’ di SICC, Bogor, Jawa Barat, Minggu 14/7. Siapa sesungguhnya yang berpotensi menganggu Pancasila ?. 

Bukan suatu kebetulan jika pasal per pasal dari Pancasila secara redaksional menggunakan terminologi dari khasanah nilai Islam. Khazanah Islam berakar dari Al Qur’an dan Al Hadist yang menggunakan bahasa Arab berkesesuaian dengan tempat lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW yang juga merupakan bangsa Arab. Menurut penelitian ada sekitar 2000-3000 kosa kata bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari Bahasa Arab, sekitar 10 sampai 15 persen. 

Allah menegaskan bahwa Al Qur’an berbahasa Arab yang mengandung hikmah, menurut Ibnu Katsir, agar manusia memahami kedalaman isi dan makna setiap istilah di dalamnya. “Haa Miim, demi kitab (Al Quran) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)” (QS Az Zukhruf : 1-3). 

Dari kelima sila dalam Pancasila dapat ditemukan beberapa  istilah yang berasal dari terminologi khazanah Islam seperti keadilan, beradab, rakyat (roiyah), hikmah, musyawarah dan perwakilan (wakalah). Untuk memahami keenam istilah harus merujuk kepada sumber istilahnya, yakni Al Qur’an dan Al Hadits. Jika tidak, maka maknanya akan mengalami distorsi subyektif sesuai kepentingan penguasa. 

Indonesia telah mengukuhkan diri sebagai negara berdasar atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Makna istilah esa adalah tunggal dan tidak bisa diduakan. Ada juga yang memaknai esa dengan kuasa. Maka secara sederhana, yang tunggal dan berkuasa adalah Tuhan Pencipta Alam semesta, manusia dan kehidupan. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa. Sila pertama inilah yang menjadi ruh dan spirit bagi sila-sila berikutnya.

Dalam Al Qur’an dijelaskan oleh Allah sendiri melalui firmanNya, “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS Al An’am : 162). “ Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS As Shaad : 66). 

Karena itu, tidaklah sulit jika ada pertanyaan siapa sesungguhnya yang menjadi pengganggu Pancasila ?. Karena Pancasila merupakan seperangkat nilai filosofis yang menjadi pandangan hidup, maka pengganggu Pancasila adalah nilai filosofis, pandangan hidup dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Sementara dari berbagai kajian para akademisi dan ulama, Islam tidaklah bertentangan dengan Pancasila. 

Sila pertama Pancasila tentu saya diganggu oleh paham ateisme yang tidak percaya adanya Tuhan. Sosialisme dan komunisme adalah paham yang berdasar kepada dialektika materialism, dimana segala manusia dan alam semesta ada karena adanya evolusi materi, bukan karena diciptakan oleh Tuhan. Agama dianggap sebagai candu dan tuhan dianggap sebagai halusinasi manusia. 

Paham sekulerisme yang memisahkan antara nilai-nilai agama dengan kehidupan juga jelas bertentangan dengan sila pertama Pancasila. Kapitalisme yang berdasar kepada sekulerisme seringkali justru menistakan agama. Berbagai produk hukum yang lahir dari rahim kapitalisme justru merusak dan menyengsarakan rakyat. Kapitalisme bertumpu kepada individualisme dimana kekayaan alam hanya dikuasai oleh segelintir orang. 

Paham kapitalisme ini bertentangan dengan sila kelima Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Al Qur’anpun melarang paham kapitalisme ini karena menjadikan jarak antara orang kaya dan miskin makin menganga. Allah menegaskan dalam surat Al Hasyr ayat 7,” Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu”. 

Paham ateisme dan sekulerisme yang secara genetik anti agama inilah yang justru telah dengan kuat mengganggu nilai-nilai Pancasila. Etika agama tidak menjadi dasar pemikiran dan perilaku kedua paham tersebut. Akibatnya nilai-nilai seperti kemanusiaan yang beradab diabaikan. Kebebasan berekspresi yang amoral seperti LGBT dan seks bebas justru mendapat perlindungan  kedua paham tersebut atas nama hak asasi manusia. Padahal liberalisme perilaku berpotensi menimbulkan moralitas yang tak beradab. 

Dalam sejarah peradaban manusia, paham kapitalisme ini diwakili oleh Qorun, ateisme diwakili oleh Fir’aun dan liberalisme diwakili Haman. Ketiganya mendapat murka dari Allah sebagai pelajaran bagi umat setelahnya. Dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu) (QS Al Ankabut : 39) 

Ateisme dan sekulerisme juga berkontribusi tumbuhnya polarisasi masyarakat Indonesia. Bangunan persatuan bangsa ini seringkali terkoyak oleh kedua paham ini. ateisme misalnya, dalam prakteknya seringkali melakukan adu domba sesama rakyat. Berbagai kekejaman komunisme juga telah menjadi fakta sejarah. Sementara sekulerisme menjadikan agama tidak lagi menjadi identitas pemersatu rakyat. 

Sementara Islam hadir justru untuk menyatukan umat manusia, sebab Islam adalah agama rahmat bagi alam semesta. Perhatikan firman Allah dalam surat Al Anbiya ayat 107 dan Saba ayat 28 , “ Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”. 

Karena itu pengganggu Pancasila bukanlah Islam, melainkan kapitalisme sekuler dan komunisme atheis. Kedua paham anti agama ini telah menjauhkan rakyat dari agamanya dan berdampak pada rusaknya peradaban bangsa. Sementara Islam yang sangat menekankan iman dan taqwa suatu bangsa justru akan mendatangnya keberkahan hidup. 

Perhatikan janji Allah dalam surat Al A’raf ayat 96, “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. 

*(AhmadSastra,KotaHujan,18/07/19 : 06.30 WIB)*

Post a Comment for "SIAPA PENGGANGGU PANCASILA"