Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PRABOWO HANYA PUNYA LEGITIMASI FORMIL, SECARA MATERIIL LEGITIMASI ITU TETAP ADA PADA UMAT [Catatan Politik, 'Setelah Umat Dicurangi, Kini Umat Juga Dikhianati']

Oleh : Nasrudin Joha 

Pertemuan Prabowo - Jokowi, yang telah lama direncanakan, telah menandai kemenangan rezim untuk menangguk legitimasi kemenangan. Rezim paham, legalisasi kemenangan yang distempel MK belum cukup untuk memimpin kekuasaan agar tak banyak dipersoalkan.

Pertemuan ini langsung dikapitalisasi, diedarkan, dan dijajakan oleh segenap buzzer rezim baik dari media mainstream dan tokoh partisan. Mereka tak mau kehilangan sedikitpun benefit politik dari pertemuan ini.

Hanya saja, pertemuan ini hanya mampu memberi legitimasi secara formil. Posisi Prabowo sebagai capres yang dikalahkan, yang sebelumya berapi-api menyatakan dicurangi, yang berkoar-koar akan berdiri dan tenggelam bersama rakyat, akhirnya tunduk dan menyerah, mengumumkan ucapan selamat kepada Jokowi, pihak yang selama ini disebut curang terhadap Prabowo.

Secara formal, memang Kedepan rezim tak akan mendapat perlawanan dari kubu Prabowo juga partai pendukungnya. Namun, ada satu yang masih terlewat, yakni pengakuan dan legitimasi dari umat.

Rezim paham, pertarungan sesungguhnya adalah pertarungan antara kubu rezim zalim dengan umat yang merindukan keadilan dan kemakmuran. Prabowo, hanya sosok yang kebetulan menawarkan visi adil makmur, yang dianggap sejalan dengan perjuangan umat.

Karena itu, ketika Prabowo membelot, menjadi kambing congek yang mudah dicucuk hidungnya, umat tak lagi merasa perlu untuk terikat pada Prabowo. Umat pun paham, bahwa sosok yang selama ini dianggap macan Asia, dianggap singa, ternyata hanya seekor kambing.

Umat, akan cepat melepas keterikatan dengan Prabowo karena selama ini memang berjuang bukan untuk dan atas nama Prabowo. Umat berjuang karena Islam, karena kerinduan pada Islam yang adil juga rindu pada pemerintahan yang mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. 

Karena itu, legitimasi mateeril tetap ada ditangan umat. Rezim tetap akan mendapat penentangan dari umat, mendapat tuntutan dari umat, atas semua kezaliman yang dipermaklumkan, atas nyawa yang meregang diperistiwa 21-22 Mei, atas kematian 700 lebih anggota KPPS, atas penangkapan dan perburuan terhadap ulama, atas penangkapan sejumlah aktivis, atas semua utang yang ditumpuk rezim, atas semua aset yang dijual rezim, atas semua kebencian rezim pada Islam, ajaran Islam, simbol hingga dakwah yang diserukan aktivis dan pengembannya.

Ya, umat saat ini harus menanggung dua kepiluan. Pilu akibat dicurangi, dan pilu akibat dikhianati. Bagi umat, hal ini adalah ujian yang akan menjadikan umat semakin matang, semakin kokoh di jalan perjuangan, semakin konsisten menapaki jalan kebenaran.

Umat akan semakin sadar, bahwa visi politik itu harus bersumber dari Islam, murni hanya dari Islam, dan tidak boleh terpengaruh sedikitpun kecuali hanya karena Islam. Umat, semakin paham bahwa perjuangan itu wajib dilandasi dengan iman dan semangat berkorban hanya untuk Islam.

Tidak boleh menyandarkan perjuangan pada tokoh atau individu tertentu. Visi perjuangan juga tidak boleh hanya untuk mendirikan vigour atau individu tertentu sampai ke tampuk kekuasaan. Perjuangan itu, hanya untuk tujuan agar syariat Islam mengatur kekuasaan. Agar Islam lah yang berkuasa, bukan sekedar menjadikan orang Islam berkuasa. 

Peristiwa aksi bela Islam 212, aksi bela bendera tauhid pasa Reuni 212, menjadi ajang konsolidasi alamiah umat ini untuk menceburkan diri ke kancah politik keumatan, bukan politik praktis untuk memperebutkan kekuasan. Sementara itu, peristiwa 'Lebak Bulus' menjadi pelajaran penting bagi umat, tentang esensi memurnikan motivasi dan tujuan perjuangan. 

Bagi yang berjuang karena Islam, bertujuan untuk meninggikan kalimat Islam, peristiwa Lebak Bulus Hari ini (13/7) tidak membuat mereka mengendur. Bagi pejuang Islam, telah paham bahwa demokrasi meniscayakan siapapun menjadi pengkhianat.

Bagi yang sudah salah, menggantungkan tujuan perjuangan pada kemenangan vigour tertentu, peristiwa Lebak Bulus mungkin membuat shock. Tapi, akan cepat beradaptasi dan memurnikan motifasi dan tujuan perjuangan, sehingga mampu untuk cepat berada pada kondisi normal untuk melakukan penentangan dan perlawanan kepada rezim zalim.

Memang, untuk sebuah perjuangan ada harga yang harus dibayar. Semua yang telah berkorban, yang meninggal, yang dipenjara, akan tetap memperoleh balasan pahala dari Allah SWT, karena telah berani menyuarakan kebenaran dihadapan penguasa zalim. 

Sedangkan bentuk pertanggungjawaban kita, yang masih hidup, yang masih punya nyawa, untuk terus melanjutkan perjuangan melawan segala bentuk kezaliman. Yang lebih penting, kita mulai menata, reorientasi tujuan perjuangan, nilai-nilai perjuangan, agar kita tidak mengalami dua kedukaan yang terulang : dicurangi dan dikhianati.

Jelas, dengan dalih apapun Prabowo telah menyakiti umat. Tidak boleh, dia berkata ada di maqom yang berbeda sehingga mengambil sikap yang berbeda. Bagi kita, Prabowo sama seperti pejuang lainnya, tidak ada alasan pembenar bagi seorang pejuang untuk berkompromi dengan Kecurangan.

Namun yang bisa kita pahami dari peristiwa ini adalah, siapapun, partai apapun, selama mereka berada dalam kubangan demokrasi, akan sama. Semua, melihat politik akan sangat pragmatis.

Sementara kita, umat ini memandang politik adalah ideologi, antara benar dan salah, halal dan haram. Sekali tidak, selamanya akan tetap tidak. Haram, saat ini hingga sampai kapanpun, dan dengan salih apapun, mengumumkan selamat kepada kekuasaan yang diperoleh secara curang. Apalagi, membangun rekonsiliasi dan melegitimasi kecurangan. Naudzubillah Min dzalik. 

Peristiwa Lebak Bulus, menunjukan kepada kita, siapa yang berakal Bulus dan mengkhianati umat. Lebak Bulus, juga menjadi penanda era baru perjuangan Umat Islam di negeri ini. Era baru politik Islam, yang benar-benar berjuang murni untuk Islam tanpa tendensi. [].

Post a Comment for "PRABOWO HANYA PUNYA LEGITIMASI FORMIL, SECARA MATERIIL LEGITIMASI ITU TETAP ADA PADA UMAT [Catatan Politik, 'Setelah Umat Dicurangi, Kini Umat Juga Dikhianati']"