Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HAJI DAN SPIRIT PERSATUAN UMAT | Dibawah Naungan Panji Tauhid


Oleh : Ahmad Sastra

Setelah berselang waktu cukup lama, Nabiyullah Ibrahim datang kembali ke Kota Makkah dan bertemu putranya Ismail. Keduanya berpelukan melepas rindu setelah lama berpisah. Kepada Ismail, Ibrahim menyampaikan perintah Allah untuk membangun rumah. Kemudian keduanya meletakkan pondasi diikuti Ismail yang membawakan batu-batu untuk ditata oleh Ibrahim di atasnya.  

Keduanya terus membangun Rumah Allah, seraya berdoa. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam firmanNya, “ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah dari pada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS Al Baqarah : 127). 

Baitullah yang disebut sebagai Ka’bah dalam beberapa riwayat, awalnya dibangun oleh Nabi Adam dan Hawa atas perintah Allah. Namun oleh HAMKA, dalam Tafsir Al Azhar juz 1 : 312, kabar ini bersumber dari cerita israiliyat dan hadis dhaif, meski tidak ada larangan untuk mempercayainya.  Bermula dari berdirinya baitullah inilah, ibadah haji disyariatkan Allah kepada kaum muslim yang berkemampuan.

Dalam buku The Ka’ba the Center of The World karya Sa’id al Murshafa, secara geografis, menurut penelitian Abi Fadhlullah al Emari (w.749 H) dengan menggunakan metode astrologi disimpulkan bahwa letak Ka’bah berada persis di tengah daratan bumi. Kesimpulan yang sama diungkap oleh penelitian As Safaki (w.958) dengan menggunakan metode modern. 

Selain dari dimensi geografis yang terletak di tengah dataran bumi, Ka’bah juga merupakan titik pusat spiritualitas umat Islam. Sebab selain Ka’bah sebagai arah menghadap dalam sholat, baitullah juga merupakan pusat pertemuan kaum muslimin sedunia dalam saat melaksanakan haji atau umroh. Dari dimensi spiritual inilah yang kelak Rasulullah membangun peradaban Islam pasca hijrah ke Madinah. Inilah simbol persatuan umat Islam sedunia dibawah kalimat Tauhid. 

Islam adalah agama sempurna yang diturunkan Allah kepada Rasulullah dengan membawa risalah ritual sekaligus peradaban. Berdirinya Daulah Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah merupakan manifestasi sempurna dari Al Qur’an dan Al Hadis diakui oleh para cendekiawan muslim maupun Barat sebagai model peradaban sempurna sepanjang sejarah. 

Islam adalah jalan hidup yang tidak hanya berdimensi ritual, Islam juga memiliki  dimensi ilmu dan peradaban. Karena itu kemajuan Islam bukan hanya ditimbang dari sisi ritualistik semata, melainkan juga ditimbang sejauh mana Islam memancarkan rahmat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Kemuliaan Islam bukan hanya untuk dirasakan oleh individu tapi untuk seluruh manusia di dunia. 

Islam mengumumkan dengan jelas akan kesatuan manusia di alam  semesta antara seluruh penduduk dan masyarakat. Semua itu dalam satu lembah kebenaran, kebaikan dan kemuliaan. Karena itu Islam telah menaklukkan berbagai macam penduduk, memberikan asas yang mengandung pokok-pokok dasar universal yang menghimpun secara nyata. 

Dengan demikian, Islam adalah agama wahyu sekaligus agama peradaban. Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Islam telah memancar dari kesadaran satu bangsa yang begitu bersahaja, tidak bersentuhan dengan kebudayaan lama yang manapun juga dan menduduki suatu daerah geografis tempat tiga benua bertemu bersama-sama. Peradaban  baru itu telah menemukan suatu dasar kesatuan dunia dalam prinsip Tauhid. Islam sebagai suatu lembaga merupakan suatu cara praktis yang akan membuat prinsip itu sebagai faktor yang hidup dalam pikiran dan perasaan manusia. Islam menetapkan kesetiaan itu kepada Tuhan, bukan kepada mahkota. 

Dan selama Tuhan itu yang menjadi dasar rohaniah terakhir segala hidup, maka hakekat kesetiaan kepada Tuhan merupakan kesetiaan terhadap cita-citanya sendiri. Penghambaan kepada Tuhan bersifat kekal dalam kondisi dan perubahan apapun. Karenanya Islam mestinya menjadi dasar dan prinsip-prinsip yang abadi untuk mengatur kehidupan secara kolektif, sebab keabadian itu memberikan tempat yang aman bagi kita dalam suatu dunia dengan kondisi yang terus berubah-ubah secara terus menerus.

Ada tiga esensi yang menjadi pilar tegaknya peradaban Islam. Esensi pertama  adalah penerapan syariah Islam secara kaffah (QS Al Baqarah :208), dimana bidang ekonomi, pendidikan, budaya, politik didasarkan oleh aturan syariah yang memberikan kebaikan dan keadilan bagi seluruh warga negara, tidak memandang ras dan agama. 

Esensi kedua peradaban Islam  adalah ukhuwah dan rahmat (QS al Anbiya:107). Daulah Islam dengan kepemimpinan tunggal bagi kaum muslimin seluruh dunia menjawab perpecahan umat Islam selama ini. Dengan Daulah Islam, kaum muslimin akan bersatu padu dalam satu kepemimpinan, meski berbeda dalam mazhab. Bahkan Daulah Islam akan memberikan perlindungan yang maksimal kepada setiap warga negara, meski beda ras dan agama dalam satu naungan pemerintahan yang adil dan beradab. 

Esensi ketiga peradaban Islam adalah dakwah Islam rahmatan lil`alamin (QS Ali Imran :104). Esensi dakwah artinya upaya penyebaran kebenaran Islam dalam rangka menyelamatkan manusia dari jalan kesesatan. 

Tiga esensi peradaban Islam ini secara spiritual dan pemikiran terdapat dalam ibadah Haji. Pertama ibadah haji adalah salah satu bentuk ibadah dalam rangka menerapkan syariah dan aturan Allah. Haji juga merupakan simbol persatuan umat Islam dari seluruh penjuru dunia, tanpa membedakan suku, bangsa dan mazhab. Demikian pula dimensi dakwah dimana haji merupakan wasilah bagi proses kesadaran kaum muslimin akan pentingnya spiritualitas dan peradaban Islam. Ibadah haji bisa dijadikan semacam guru bagi proses kesadaran spiritual dan peradaban bagi kaum muslimin. 

Pertama berguru kepada Nabiyullah Ibrahim as tentang kekokohan keimanan dan konsekuensi yang harus dihadapi. Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita tentang totalitas ketaatan menjalankan perintah Allah sebagai konsekuensi keimanan, meskipun perintahnya itu terasa sangat berat. Menyembelih anaknya adalah perintah sekaligus ujian terberat untuk seorang manusia, namun karena itu adalah perintah Allah, maka dengan yakin Nabi Ibrahim melaksanakannya dan tidak memperdulikan setan yang terus menggodanya. Nabi Ibrahim sadar bahwa tujuan hidup hanyalah untuk beribadah kepada Allah semata-mata lillah untuk menggapai ridho Allah, lain itu tidak. 

Kedua, kita bisa berguru kepada Nabiyullah Ismail as. Dalam peritiwa ini Nabi Ismail telah mengajarkan kepada kita tentang ketaatan kepada ayahnya sebagai pemimpin rumah tangga selama ayahnya taat kepada Allah dan memerintahkan perkara yang tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah.  Bahkan Ismail rela menyerahkan raga dan nyawanya untuk menegakkan syariat Allah. Tidak ada ketaatan kepada manusia atau pemimpin yang tidak taat kepada Allah dan Rasulnya. 

Dengan demikian, ibadah haji bukanlah ibadah yang hanya berdimensi fikih ritual semata, melainkan berdimensi transformasi sosiospiritual yang membentuk pola fikir dan pola sikap kaum muslimin sebagai kesadaran untuk membangun peradaban Islam yang agung. Syariah, dakwah dan ukhuwah adalah pilar peradaban Islam yang tergambar dalam pelaksanaan haji. Sebagaimana Rasulullah melaksanakan haji di Makkah dan meneruskan membangun peradaban Islam di Madinah dan menyebar ke seluruh penjuru dunia selama beradab-abad. Karena itu sesungguhnya, ibadah haji bukan hanya berdampak kepada transformasi individu, namun sosial politik hingga melahirkan peradaban Islam yang mulia. 

Maka alangkah indahnya jika dalam melaksakan haji, seluruh kaum muslimin mengibarkan Panji Tauhid sebagai simbol persatuan muslim sedunia. Jangan malah membanggakan ashobiyah nasionalisme warisan penjajah yang telah memecah belah kaum muslimin. Saatnya kibarkan Panji Tauhid di Tanah Suci, demi persatuan dan kejayaan peradaban Islam. 

*(AhmadSastra,Sukabumi,01/08/19 : 09.15 WIB)*

Post a Comment for "HAJI DAN SPIRIT PERSATUAN UMAT | Dibawah Naungan Panji Tauhid"