Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dibalik Pancasila

Oleh : Pristian Surono Putro ( Founder Komunitas Suka Baca Indonesia , Tutor Baca Efektif )

Apa sebab Komunisme bisa menjadi sekutu bergandengan tangan dengan Sekularis saat sidang Konstituante ( 1955-1959 ) dalam satu kubu " Pendukung Pancaasila " ? Yang dengan persekutuan itu Komunisme+Sekularis mereka menjegal dan menghalangi perjuangan menjadikan Islam sebagai dasar negara ? Setelah membaca beberapa literatur saya dapati mereka sekularis dan Komunis mempunyai kesatuan fikah baahwa dalam hal dasar negara harus NETRAL AGAMA. Jadi kata kuncinya adalah NETRAL AGAMA, alias Sekularisme. 

Apa yang dimaksud Netral agama ? Itulah Sekularisme. 

Kesamaan fikrah antara Kaum Sekular dan Komunis dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dengan ungkapan ; " ...Mereka - baik yang mengakui eksistensinya ( Sekular ) maupun yang tidak mengakui eksistensiNya( Komunis )- hanya memfokuskan bahwa tidak ada hak bagi pencipta untuk campur tangan dalam kehidupan. Jadi sama saja kedudukannya bagi mereka yang mengakui keberadaan atau mengingkariNya, yaitu memisahkan agama dari kehidupan ".

Wongsonegoro seorang tokoh mistik jawa dari Partai Indonesia Raya ( PIR ) menafsirkan Pancasila sila pertama dengan Pantheisme. Aidit, Njoto, Sakirman, dari Partai Komunis Indonesian( PKI ) menafsirkan Ketuhanan di dalam Pancasila sebagai " kebebasan beragama " termasuk di dalamnya kebebasan untuk tidak memeluk suatu agama tertentu, termasuk pula untuk berkeyakinan adanya Tuhan namun kepercayaan ini tidak dengan agama tertentu. Bagi mereka keberadaan agama-agama di Indonesia adalah sesuatu realitas semata, dan soal agama adalah urusan prifat. 
-
Nur Sutan Iskandar dari Partai Nasional Indonesia ( PNI ) menafsirkan Pancasila dari sudut pandang Sekular. Adapun penafsiran Pancasila dari sudut pandang mistik jawa juga diajukan oleh Karkono Partokusumo, adapun Penafsiran Pancasila dari sudut pandang Kristiani diwaakili oleh Tokoh Kristen PNI Arnold Mononutu. Tokoh-tokoh partai ini menafsirkan Pancasila dengan sudut pandaang Sekularisme, yakni memisahkan Agama dengan Negara, atau agama hanya untuk urusan prifat masing-masing individu. Hal ini sebagai yang disampakan oleh JCT.Simorangkir dalam pidato Konstituante. 
-
Sudjatmoko dari Partai Sosialis menafsirkan Pancasila dari sudut pandang teosofi. Yang unik PKI juga menurunkan " Ulama" nya yang menjadi anggota partai tersebut yakni Kyai Dasuki Siradj. PKI Kata Kyai Dasuki " tidak pernah anti Islam ", PKI hanya " Anti Masyumi ". Ruslan Abdulgani dari PNI dalam menafsirkan Pancasila dengan mengutip pendapat Kahin yang menyatakan bahwa Pancasila adalah sebuah sintesis dari gaagasan Islam Modern, ide demokrasi, dan marxisme. 
-
Maka ketika Konstituante dibubarkan oleh Soekarno dengan dekrit Presiden 05 Juli 1959 yang kemudian adalah diberlakukannya tafsir Pancasila ala Orde lama. Bagaimana tafsir Pancasila ala Soekarno yang lagi-lagi tafsir ini mendapat pembenaran dari partai-partai sekular, dan Komunis. Pembubaran Konstituante mendapat dukungan dari PNI dan PKI. Bagaimana Soekarno menafsirkan Pancasila ? Mengapa tafsiran Pancasila ala Soekarno bisa diterima oleh partai Sekular dan Komunis ? 
-
Bagi Seokarno Pancasila bisa diperas menjadi Trisila, yakni Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Sosio-Ekonomi. Kemudian Trisila ini dapat diperas menjadi Ekasila, yakni Gotong royong. Kata Pancasila merujuk pada tulisan empu Prapanca buku Negarakertagama, suatu catatan sejarah tentang kerajaan Hindu Majapahit ( 1296-1478 M ). Soekarno mengambil terma Pancasila ini dari buku Negarakertagama dengan memberinya pemaknan baru. Menurut Yamin ( tokoh Sekular ) Pancasila adalah hasil galian Soekarno. Soekarno menyatakan bahwa Pancasila hasil galiannya dari masa jauh sebelum Islam. Salah satu prinsip ketuhanan Pancasila galian soekarno ini tidak ada kaitan organik dengan doktrin sentral  agama manapun. Dengan kata lain konsep ketuhanan menurut Soekarno bersifat sosiologis sehingga konsep Ketuhanan pancasila ini bersifat relatif, oleh karenanya bisa diperas menjadi konsep gotong royong. 
-
Melihat gagasan Ketuhanan ala Soekarno di atas maka wajar dan bisa dimengerti golongan Sekuler dan Komunis bisa menerima Pancasila, karena memang sejalan dengan penafsiran mereka tentang Pancasila yang bercorak netral agama ( Sekular ). Pemahaman ini secara politik dijalankan Soekarno dengan kekuasaannya ( 1959-1965 ) menafsirkan Pancasila dengan doktrin Nasakom. Bahkan dengan tegas Soekarno berkata : " Siapa yang setuju dengan Pancasila, harus setuju kepada Nasakom. Siapa yang tidak setuju kepada Nasakom, sebenarnya tidak setuju kepada Pancasila ! Sekarang saya tambah, siapa setuju kepada UUD '45 harus setuju kepada nasakom, siapa tidak setuju kepada Nasakom, sebenarnya tidak setuju kepada UUD '45 ". 
-
Pada perkembangannya Pancasila menjadi alat legitimasi bagi kekuasaan orde lama. Pancasil tafsiran Soekarno menjadi " aku Indonesia,aku Pancasila " ala Soekarno. Sudut pandang tafsiran Sekular Pancasila semakin kokoh ketika pada tanggal 16-20 Februari 1959 diadakan seminar Pancasila ke-1. Seminar ini diselenggarakan oleh Liga Pancasila bertempat di Sasono Hinggil Dwi Abad, Yogyakarta. Seminar ini dihadiri sekitar 1.250 pesrta anggota liga Pancasila dari seluruh Indonesia, para sarjana, para undangan dan wakil organisasi. Dengan menghadirkan pemateri ; menteri pendidikan dan kebudayaan saat itu Prof.Priyono, Muhamad Yamin, Prof.Drijarkoro, Prof.Notonagoro, dan Ruslan Abdulgani. Hasil seminar ? 
-
Hasilnya adalah Demokrasi terpimpin adalah hasil dari ajaran Pancasila, bahkan konsekuensi dari ajaran Pancasila. Tokoh katolik Drijarkoro menafsirkan Pancasila dengan tafsiran Sekuarisme, sebagaimana tokoh-tokoh sekular pada masa Konstituante, yakni menolak agama ( islam ) menjadi dasar Negara. Tafsir Sekular Pancasila rezim orde lama semakin hegemonik dengan Manipol/USDEK. USDEK adalah ( U ) UUD 1945, ( S ) Sosialisme, ( D ) Demokrasi terpimpin, ( E ) Ekonomi terpimpin, ( K ) Kepribadian Indonesia.  Bagi rezim Orde lama Manipol Usdek yg berisikan Nasakom adalah Tafsir resmi Pancasila. 
-
Pasca tumbangnya orde lama,  muncul orde baru. Orde baru ini mengoreksi total tafsir Panacasila ala orde lama. Walaupun keduanya masih sama-sama Orde yang Sekular, namun bedanya Orde Baru mengeluarkan Komunisme dari bagian Pancasila. Dan pada orde baru dimunculkan istilah Demokrasi Pancasila sebagai tafsir Pancasila resmi ala Orba, sekaligus sebagai koreksi demokrasi terpimpin ala orde lama. Apa itu tafsir Pancasila ala orde baru ? 
-
Orde baru sebagaiman orde lama menggunakan Pancasila sebagai alat untuk melegitimasi kekuasannya. Pada masa orde baru ini Pancasila dijadikan sebagai pandangan hidup, sumber dari segala sumber hukum, bahkan Ideologi Negara. Dan memaksakan asas tunggal Pancasila kepada masyarakat. Dengan mesin politiknya Golkar dan kekuatan militer membawa Pancasila semakin menuju Sekularisme. Hal ini bisa kita lihat dari pernyataan  tokoh Orde Baru,yang juga tokoh CSIS, sekaligus sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan pada masa kurun waktu Orde baru, yakni Daoed Joesoef. 
-
Daoed Joesoef sebagai intelektual Orba mengarahkan pendidikan negeri ini mengarah ke Sekularisme, termasuk menafsirkan pancasila dengan visi sekularisme. Daoed termasuk pengagum Mustafa Kamal Ataturk ( agen inggris yang menghapuskan sistem Khilafah ), sebagaimana Soekarno juga mengagumi Mustafa Kamal. Dengan visi Sekularnya ini,kebijakan rezim Orba menjadi Sekular. Dari mulai pelarangan kerudung dan jilbab dipakai pelajar, mahasisswa, dan pegawai. Pancasila di nativisasi dengan membawa negeri ini ke masa Hindu Budha, yakni masa sebelum kedatangan Islam. 
-
Dan tampaknya rezim hari ini dengan pendekatan lebih mutakhir mencoba mengulangi kembali dua orde sebelumnya. Mereka mencoba menyematkan kembali kepada lawan politiknya dengan tuduhan mematikan berupa " anda anti Pancasila ", walaupun tidak jelas Pancasila macam apa yang mereka maksud. Dan dengan dibalik tudingan anti Pancasila semakin membawa negeri ini ke arah Sekular. Dan akhirnya semuanya akan tumbang, sebagaimana dua orde yang sebelumnya. sementara Umat Islam senantiasa beregenerasi untuk melahirkan pengemban Dakwah dimasa yang selanjutnya. 
-
Daftar Pustaka.
-
Ihzamahendra, Yusril. 1999. Modernisme Dan Fundamentalisme Dalam Politik Islam : Perbandingan Partai Masyumi ( Indonesia ) dan Partai Jama'at Islami ( Pakistan ). Jakarta Selatan: Penerbit Paramadina. 
-
Maarif, Ahmad Syafii. 2017. Islam Dan Pancasila Sebagai Dasar Negara : Studi Teentang Perdebatan Dalam Konstituante. Bandung: Mizan.
-
Husaini, Adian.2009. Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam. Jakarta: Gema Insani. 
-
An Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Nidzam Al Islam. Jakarta: HTI.
-
Noer, Deliar. Partai Islam Di Pentas Nasional: Kisah Dan Analisis perkembangan Politik Indonesia 1945-1965. Bandung: Penerbit Mizan.
-
Maarif, Ahmad Syafii.1996. Islam Dan Politik : Teori belah bambu masa demokrasi terpimpin ( 1959-1965 ). Jakarta: Gema Insani Press.
-
Suryanegara, Ahmad Mansur. API SEJARAH jilid 1: Buku Yang Akan mengubah drastis pandangan anda tentang sejarah Indonesia. Bandung: Penerbit Salamadani. 
-
Saydam, Gouzali. 2010. Dasar negara dalam perdebatan: Suatu kilas balik pertarungan politik dalam BPUPKI, Konstituante,dan MPR Reformasi. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
-
Hakiem, Lukman. 2014. Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito:Ketua Umum terakhir Partai Masyumi. Jakarta: Penerbit Kompas. 
-
Kaelan. 2015. Liberalisasi Ideologi Negara Pancasila. Yogyakarta: Penerbit Paradigma. 
-
Suwarno. 1993. Pancasila Budaya Bangsa Indonesia: Penelitian Pancasila dengan pendekatan Historis, Filosofis, & Sosio-yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 
-
Bakry, Noor MS. Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Penerbit Liberty. 
-
Aminudin. Kekuatan Islam dan pergulatan kekuasaan di Indonesia: sebelum dan sesudah runtuhnya rezim Soeharto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
-
Idris, Irfan. 2009. Islam Dan Konstitusionalisme: Kontribusi Islam dalam penyusunan Undang-undang Dasar Indonesia Modern. Yogyakarta: Penerbit antonyLib.
-
Kamaluddin, Undang & Alfan, Muhammad. 2015. Dinamika Politik Indonesia: perjalanan politik sejak orde lama hingga reformasi. Bandung: Pustaka Setia. 
-
Muljana, Slamet. 2008. Kesadaran Nasional Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan jilid 1-2. Yogyakarta: LKiS. 
-
Mushoffa, Aziz. 2002. Kiprah Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
-
Gagasan Pemberlakuan Syariat Islam: Urgensi dan Konsekuensinya ( kumpulan tulisan). 2003. Jakarta Barat: Komunitas Nisita. 
-
Anshari, Endang Saifuddin. 2004. Wawasan Islam: pokok-pokok pikiran tentang Paradigma dan Sistem Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Post a Comment for "Dibalik Pancasila"