Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BENCI TAPI HOAX

Oleh : Abu Musyaffa

Di masa-masa tahun politik ini, memang perlu kita merawat nalar. Semisal kita menyatakan deklarasi anti hoax, tapi ternyata kita yang suka mengonsumsi hoax dan menjadikannya dasar atas tindakan.

Ustadz Abdul Samad misalnya, beberapa kali ditolak pengajian dan diancam pembubaran karena alasannya menurut pengakuan 'oknum yang banyak' beliau adalah orang HTI. Ini seperti berhalusinasi. Hoax dan kesimpulan mana yang kalian konsumsi dan sebarkan ?

Lalu hoax selanjutnya yang dikonsumsi, bahwa tagar #2019gantipresiden adalah gerakan makar karena ditunggangi HTI sehingga wajib dipersekusi. Sepertinya mereka gagal memetakan gerakan Islam dan membaca fakta. Dua kata populer , "Oh itu ISIS, oh itu wahabi". dan sekarang ditambah lagi "Oh itu ditunggangi HTI" untuk menggeneralisir masalah. Orang-orang HTI itu tentu tidak akan mau memilih pasangan capres dalam kontestasi demokrasi. Dan gerakan #2019gantipresiden adalah pada dasarnya "gerakan Asal Bukan Jokowi" untuk Presiden selanjutnya secara konstitusional atau lewat Pemilu di tahun 2019. Dan ini diakui oleh Banwaslu sah dan konstitusional. Yang hari ini akhirnya mengerucut untuk memenangkan Prabowo dan Sandi. Hoax dan kesimpulan mana yang kalian konsumsi dan sebarkan ?

Kasihan sekali mereka ini divonis Salafi Wahabi oleh orang aswaja ekstrem, kemudian divonis Khawarij oleh Salafi ghulat, lalu dituduh makar dan berafiliasi ke ISIS oleh nasionalis religius ngawur,  kemudian divonis murtad oleh ISISer karena bakal ikut Pemilu. Hoax dan kesimpulan mana yang kalian konsumsi dan sebarkan ?

Hoax itu berkawan pula dengan provokasi, entah apakah dimanfaatkan untuk tindakan menakut-nakuti masyarakat dan antipati sehingga masyarakat memilih politik di seberangnya. Ada beberapa spanduk yang berisi HTI mendukung gerakan #2019gantipresiden. Tanpa pakar telematika pun kita tahu bahwa spanduk itu bukan dibuat oleh HTI karena banyak kejanggalan. Salah satunya yang paling janggal adalah spanduk yang seolah-olah dibuat NII (negara Islam Indonesia) bersama HTI mendukung tagar #2019gantipresiden. Sejak kapan NII muncul terang-terangan dengan spanduk dan mau berkoalisi dengan HTI mendukung #2019gantipresiden ? Hoax dan kesimpulan mana yang kalian konsumsi dan sebarkan ?

Lalu Hoax itu diframing sedemikian rupa dengan  mengkaitkannya pada peristiwa konflik di Timur Tengah khususnya Suriah .Mirip isu yang terjadi sebelum aksi 411 dan aksi 212 di Monas yang dikaitkan dengan konflik Suriah tapi ternyata berjalan damai. Menurut mereka konflik Suriah diawali tagar 2011 ganti presiden pada tahun 2009.Padahal sekitar tahun itu sosmed seperti Facebook masih dilarang oleh pemerintah Suriah akibat kekhawatiran warga Israel akan berusaha mengawali kontak dengan warga negara Suriah melalui jejaring sosial tersebut akibat konflik areal pemukiman di Golan dengan Israel. Aksi #2019gantipresiden ini dikait-kaitkan sama dengan Suriah, padahal jika dicocoklogikan Suriah juga konflik karena presidennya tidak diganti-ganti sejak tahun 2000. Hoax dan kesimpulan mana yang kalian konsumsi dan sebarkan ?

Lalu gerakan #2019gantipresiden dianggap ditunggangi HTI. Padahal karakter HTI adalah ganti sistem bukan cuman ganti rezim bahkan kader HTI diduga kuat sekali akan tetap golput pada Pemilu tahun depan. Karakter HTI juga diwanti-wanti dalam koalisi harus memimpin secara pemikiran dan gerakan, ini membuat mereka dulu keluar dari FUI. Gerakan Ganti Presiden ini ditunggangi HTI secara visi dan rencana pergerakan adalah tuduhan ngaco akibat paranoid. Salah satu paranoid yang saya amati adalah muncul akibat video singkat Ismail Yusanto bersama Mardani Ali Sera. Padahal itu bukan korelasi kerjasama dan motor gerakan. Paranoid seperti itu mudah sekali terpancing hoax, mirip orang yang terlibat pembunuhan lalu dihantui korbannya. Kalau anda menyebut aksi #2019gantipresiden ditunggangi PKS dan Gerindra itu lebih masuk akal. Sehebat apa HTI bisa membelokkan gerakan ini jadi penegakan khilafah dan apakah jika Prabowo terpilih maka Indonesia diarahkan jadi khilafah ? 

Paranoid dengan HTI memang bisa membuat kita bertasahul bil huaks. Bahkan sering saya mendengar Hizbut Tahrir dan khilafahnya dikaitkan sebagai penyebab Arab Spring padahal Arab Spring adalah proses rakyat menuntut demokratisasi Timur Tengah mengganti rezim karena kediktatoran, menuntut penegakan hukum, dan korupsi seperti proses menuju reformasi di zaman Soeharto lalu penguasa melawan mempertahankan kekuasaan dengan menggunakan alat militer.

Maaf indikasi yang ditunjukkan lemah. Indikasi itu semakin lemah apalagi menyimpulkan Timur Tengah hancur karena negara menggunakan syariat Islam padahal biasanya yang berkuasa adalah dari partai Sosialis, Baath. Hoax dan kesimpulan mana yang kalian konsumsi dan sebarkan ?

Bukankah ini merugikan anda di akhirat, orang yang anda benci, menuntut anda karena sudah memfitnahnya di dunia ? Apakah ada dalil di agama ini, bila kelompok itu saya benci dan tak sesuai dengan saya, berpahala hukumnya memfitnahnya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar ?

Tampaknya lebih berhati-hati di dunia lebih mudah daripada berdebat di akhirat.

Post a Comment for "BENCI TAPI HOAX"