Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Antara Ustadz Dan Wapres.

oleh Syarifudin Chan

Hari Sabtu dan Ahad kemarin, 4-5-AGS-2018, alhamdulillah UAS berkunjung ke Padangsidimpuan, tempat saya berdomisili. Alhamdulillah saya mengikuti dua kajian yang beliau adakan, di Stadion dan di Mesjid Raya al-Abrar kota Padangsidimpuan.

Di Stadion, memang ada pancigan dari panitia dengan menanyakan kepada jama'ah apakah setuju jika UAS jadi Wapres. Suara jawaban jama'ah : Setujuuu. Namun ternyata UAS diam membisu, dan bahkan dalam kajiannya tidak sedikitpun menyinggung masalah tersebut.

Mungkin karena tidak puas, ketika di Mesjid Raya, ada yang menyodorkan kertas yang menanyakan perihal cawapres ini. Kali ini UAS tidak bisa ngelak lagi karena sudah membaca pertanyaan. Jawaban beliau, initnya tetap akan istiqamah jadi ustadz saja. Utk cawapres biarlah yang lain saja.

Jawaban UAS ini mungkin akan mengecewakan sebagian besar jama'ah yang mengharapkan UAS mau menjadi Cawapres.

Sepulang dari kajian di Mesjid Raya, saya mencoba mengira-ngira apa kira-kira penyebab UAS kokoh tidak mau jadi cawapres. Untuk mendapatkan jawaban yang paling mendekati kebenaran, saya memposisikan diri saya sendiri dalam posisi UAS. Sehingga saya melihat apa kondisi UAS sebagai Ustadz, dan apa kondisi UAS sebagai wapres.

Ustadz.

Sebagai seorang ustadz, maka yang saya (mengibaratkan diri sebagai Ust. Abd. Somad) lakukan adalah memberikan kajian/tausiyah/ceramah agama. Bisa juga kemudian menulis buku-buku tentang agama Islam. Itulah dua bentuk aktifitas yang melekat pada diri saya sebagai ustadz.

Sebagai seorang muslim, mukmin, apalagi ustadz, mka tentunya tujuan aktifitas saya adalah untuk mendapat ridha Allah SWT. Sehingga aktifitas saya sebagai Ustadz harus punya tujuan mendapat ridha Allah SWT.

Utk mendapatkan itu, yang harus saya pastikan adalah semua kajian/tausiyah/ceramah agama saya, dan juga tulisan2 saya tiadak ada yang menyalahi ajaran Islam. Hanya itu yang harus saya perhatikan dan jaga. Ini tidak sulit, karena hal ini di dalam kuasa saya. Tidak ada hal yang memaksa saya sehingga saya harus memberikan tausiyah/kajian/ceramah agama yang menyalahi ajaran Islam. Semua tergantung saya.

Adapun jama'ah yang mendengar ceramah/tausiyah/kajian saya, apapun yang mereka lakukan setelah mendengar kajian saya, saya tidak akan dihisab karenanya. Mereka tetap maksiat, saya tidak akan dapat dosa. Mereka taubat atau semakin giat melakukan amal shaleh, saya dapat pahala.

Resiko mendapat murka Allah sangat kecil, dan kemungkinan dapat ridha Allah sangat besar, dengan syarat seluruh aktifitas keustadzan saya tidak ada yang menyalahi ajaran Islam. Ini pada teorinya bisa saya lakukan, karena berada dibawah kuasa saya. Kalau saya melakukan sesuatu yang menyalahi ajaran Islam, itu semata-mata karena kelalaian, kesilapan, atau kebodohan saya.

Wapres.

Wapres itu adalah bagian dari penguasa yang disebut al-hukkam, penerap aturan kepada rakyat. Maka jika saya (Abd. Somad) jadi wapres, tentunya tetap ridha Allah yang akan saya tuju.

Maka karena saya bagian dari penerap aturan/hukum, maka dihadapan Allah SWT kelak yang akan dihisab disini adalah :

1. Hukum/aturan yang saya terapkan sebagai bagian dari penguasa. Apakah hukum/aturan itu adalah hukum/aturan yang berasal dari Allah dan rasul-Nya (syariat Islam) atau hukum selainnya.

Negara ini ternyata menerapkan hukum buatan manusia melalui wakil rakyat di parlemen. Juga hukum buatan manusia (pemerintah) yang diajukan kepada parlemen utk disetujui. Semua hukum/aturan itu bukanlah hukum/aturan Syariat Islam. Bukan juga hukum/aturan yang digali dengan metode ijtihad berdasar al-Qur'an dan as-Sunnah.

Maka ketika saya jadi wapres. Otomastis saya dihadapan Allah sudah melakukan dosa karena menerapkan hukum/aturan yang bukan syariat Islam. Ini semua di luar kuasa saya. Saya tidak bisa melepaskan diri dari hal ini, karena wapres dan presiden itu hanyalah pelaksanan aturan/ hukum. Sementara pembuat hukum adalah wakil rakyat di parlemen.

2. Dampak dari hukum/aturan yang diterapkan. Allah SWT mengatakan bahwa hukum-Nyalah seadil-adil hukum. Maka jika ada hukum/aturan lain yang diterapkan, itu akan memunculkan ketidak adilan, bahasa lainnya memunculkan kedzaliman. Walaupun mayoritas manusia menganggap hkum/aturan itu adil, tapi yang menghisab, yang menilai adalah Allah SWT. Seadil apapun menurut mayoritas manusia suatu hukum, ketika hukum itu tidak sesuai atau bukanlah Syariat Islam, maka di mata Allah SWT iru bukanlah hukum yang adil.

Maka dengan penerapan hukum selain syariat Islam ini, saya sebagai bagian dari penguasa telah mendzalimi rakyat di mata Allah SWT. Dosa lagi.

Sebagai wapres saya tidak bisa berbuat apa-apa disini, karena ini di luar kuasa saya yang bukan penentu hukum, melainkan hanya penerap dan pelaksana hukum.

Maka sebagai wapres, saya akan diseret kepada murka Allah SWT tanpa bisa saya menghindar, padahal tujuan saya adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

--------------------------------------------------------

Setelah perenungan ini, saya jadi maklum kenapa Ust Abd. Somad tidak bersedia jadi cawapres. Masa jalan beliau sebagai ustadz yang sudah lempang menuju ridha Allah mau beliau tinggalkan dan masuk ke jalan lain yang hanya memunculkan murka Allah SWT.

Saya jadi berpikir. Mungkin akan beda situasinya jika saja Ust Abd. Somad diminta jadi pemimpin - al-hukkam, yang mengatur manusia dengan Syariat Islam. Karena peluang mendapat ridha Allah SWT terbuka lebar disini.

Wallahu a'lam ......

Post a Comment for "Antara Ustadz Dan Wapres."