Penguasa-penguasa Muslim Bisu di Saat Zionis Penjarakan 370 Anak Palestina Sherly Agustina, M.Ag (Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik)...
Penguasa-penguasa Muslim Bisu di Saat Zionis Penjarakan 370 Anak Palestina
Sherly Agustina, M.Ag (Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik)
Tangis mereka dibungkam di balik jeruji besi. 370 anak Palestina hari ini masih mendekam di Penjara Megiddo dan Ofer, digelandang tanpa belas kasihan oleh tentara Zionis Israel. Masa kecil mereka direnggut, diganti dengan borgol dan sel dingin. Sementara itu, para penguasa negeri-negeri Muslim memilih bisu. Diam seribu bahasa di hadapan kejahatan kemanusiaan yang terang-terangan. Pertanyaannya, sampai kapan kita hanya jadi penonton?
Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy melaporkan sekitar 370 anak Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel. Sebagian besar anak-anak tersebut berada di penjara Megiddo dan Ofer. Anak-anak tersebut merupakan bagian dari lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus, penahanan itu kini telah menjadi praktik yang berulang dalam kampanye penangkapan di seluruh Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. Kelompok itu juga menambahkan bahwa pasukan Israel menahan 276 anak Palestina hanya dalam enam bulan pertama pada tahun ini.
Hal yang disoroti juga yaitu penggunaan penahanan administratif yang terus dilakukan Israel, yang memungkinkan warga Palestina ditahan tanpa dakwaan atau persidangan selama periode tertentu yang dapat diperpanjang, berdasarkan bukti yang tidak diungkapkan kepada publik. Organisasi hak asasi Palestina dan internasional berulang kali menuduh otoritas Israel menempatkan para tahanan, termasuk anak di bawah umur, dalam kondisi yang keras. Lebih dari itu, Israel juga tidak memberikan makanan dan perawatan medis yang memadai. (Kompas.com, 28-8-2026)
Garis penangkapan yang dilakukan Israel, bermula dengan pola yang sama, pintu rumah yang didobrak paksa di tengah malam atau jelang fajar. Di depan mata orang tuanya yang tak berdaya, anak-anak berumur 13 hingga 15 tahun diseret dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup rapat. Kesaksian para mantan tahanan cilik merekam jejak kekerasan yang mereka terima sepanjang perjalanan. Mereka dipukuli di dalam kendaraan militer, dianiaya, diintimidasi, hingga dibiarkan kelaparan dan kehausan berjam-jam tanpa akses ke toilet sebelum proses interogasi dimulai.
Selama interogasi, para petugas kerap melancarkan tekanan psikologis berat, mengisolasi mereka di sel sempit, melarang mereka tidur, hingga mengancam akan melukai keluarga mereka jika tak mau menandatangani pengakuan. Total jumlah penangkapan di kedua wilayah tersebut sejak meletusnya agresi telah menembus 25 ribu kasus yang mencakup anak-anak, wanita, dan warga sipil lainnya. (Spiritofaqsa.or.id, 28-8-2026)
Permusuhan yang Terang Benderang
Penangkapan anak-anak Palestina oleh pasukan penjajah Israel tidak lagi menjadi insiden sesekali, melainkan telah bergeser menjadi prosedur rutin yang masif dan terstruktur di Tepi Barat serta Al-Quds. Penahanan administratif yang diberlakukan membuat anak-anak berada dalam ketidakpastian total; mereka tidak tahu atas dasar apa mereka ditahan dan kapan akan diizinkan pulang?
Lebih dari itu, penderitaan mereka tidak otomatis menguap begitu pintu penjara terbuka. Pengalaman mendekam di sel meninggalkan luka psikologis mendalam yang bertahan selama bertahun-tahun. Banyak dari mereka kembali ke rumah dalam keadaan trauma berat: menderita gangguan tidur, mimpi buruk yang berulang, kecemasan berlebih, hingga kehilangan rasa aman. Mereka kerap menarik diri dari lingkungan sosial dan kesulitan berinteraksi kembali dengan keluarga serta kawan sebaya. Ini bukti permusuhan nyata Israel terhadap kaum Muslim.
Penjara anak bagi mereka merupakan proyek enosida masa depan,
Penangkapan anak di bawah umur bukanlah tindakan sporadis. Ini adalah kebijakan sistematis Zionis Israel dengan tujuan menghancurkan masa depan Palestina. Dengan memenjarakan anak, Israel sedang memotong mata rantai perlawanan. Mereka ingin melahirkan generasi yang trauma, putus asa, dan kehilangan harapan. Genosida model baru, bukan hanya membunuh badan, tapi membunuh cita-cita.
Teror psikologis yang dilakukan untuk mematikan perlawanan, memenjarakan anak adalah strategi intimidasi paling biadab. Zionis tahu, menyerang anak berarti menyerang jantung umat. Ketika seorang ibu melihat anaknya diborgol, ketika seorang ayah melihat anaknya diinterogasi, maka akan tumbuh rasa takut. Tujuan Zionis yaitu membuat rakyat Palestina berhenti melawan. Menjadikan penjajahan sebagai "kenormalan". Tetapi mereka lupa, darah anak-anak justru menjadi bara api yang menyalakan perlawanan.
Secara syariat dan hukum internasional, penangkapan anak adalah kejahatan perang. Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Hak Anak dengan tegas melarangnya. Namun Zionis mengabaikan dan melanggar semua itu. Lebih parah lagi, dunia internasional termasuk PBB hanya bisa mengeluarkan "kutukan dan kecaman". Tidak ada sanksi dan pembebasan. Serasa dunia milik Israel dan Amerika sebagai pelindungnya.
Umat Islam dipertontonkan kondisi diamnya penguasa negeri-negeri Muslim. Padahal, bisunya mereka merupakan pengkhianatan abad ini yang paling menyayat hati. Ironis, mereka memiliki tentara, sumber daya, perbatasan dengan Palestina, tetapi tidak ada yang bergerak membebaskan 370 anak itu. Mereka sibuk dengan normalisasi, dagang, dan konferensi. Padahal di hadapan Allah, setiap pemimpin akan ditanya tentang rakyatnya. Diamnya mereka hari ini adalah bukti gagalnya sistem nasionalisme-sekuler dalam melindungi umat Islam di Palestina.
Jalan Pembebasan: Bangkitkan Jihad dan Persatuan Umat
Melihat fakta yang menyakitkan di Palestina, harus segera ada pembebasan yang dilakukan umat Muslim dunia. Beberapa hal yang harus dilakukan yaitu:
Pertama, Menyadarkan Umat dengan menggempur narasi penjajahan bahwa kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan. Ini bukan konflik biasa. Ini penjajahan. Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nisa ayat 75, “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan untuk orang-orang lemah baik laki-laki, perempuan dan anak-anak...”
Kedua, tidak ada pilihan lain selain melakukan jihad fii sabilillah. Segala bentuk intimidasi serta ancaman Zionis tidak boleh menyurutkan perjuangan untuk melakukan perlawanan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dalam konteks menghilangkan penjajahan di Palestina yaitu jihad (qital) untuk mengusir penjajah. Tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan.
Ketiga, umat butuh persatuan di bawah komando tunggal.
Solusi parsial yang ditawarkan dunia saat ini tidak akan mempan, yang dibutuhkan adalah persatuan umat, pengerahan tentara Islam di bawah satu komando. Sejarah membuktikan, Palestina hanya bisa dibebaskan ketika umat bersatu. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah jilid 2 karya Taqiyuddin An-Nabhani, bab Jihad, "bahwa urusan tawanan perang dan pembebasan negeri adalah kewajiban negara Khilafah, bukan inpidu." (Hlm. 143-145).
Keempat, tegakkan Khilafah sebagai perisai umat.
Hanya Khilafah yang mampu memobilisasi kekuatan umat untuk membebaskan Palestina. Khilafah adalah institusi yang akan mengirim tentara, membuka perbatasan, dan menuntut pembebasan seluruh tahanan. Tanpa Khilafah, penguasa hari ini akan terus bisu karena terikat perjanjian dengan penjajah.
Islam agama yang sangat manusiawi, Islam memberikan contoh saat melakukan peperangan. Di masa Khilafah, anak-anak, perempuan, orang tua, dan tempat ibadah dilarang keras untuk diserang. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berwasiat kepada pasukan, “larangan membunuh wanita, anak-anak, orang tua, dan merusak lingkungan." (Riwayat Al-Muwatta no. 858. )
Di masa Umar bin Khattab, anak yatim Palestina dinafkahi dari baitulmal. Islam memiliki aturan dan etika perang yang luar biasa, Islam merupakan agama yang menjaga fitrah dan masa depan anak.
Khatimah
Hari ini 370 anak menjerit di balik jeruji. Esok, bisa jadi giliran anak-anak kita jika umat terus diam. Wahai umat, bangunlah! Jangan biarkan penjara-penjara itu menjadi kuburan masa depan Islam. Demi Allah, pembebasan Palestina tidak akan datang dari meja perundingan para pengecut. Ia hanya akan datang dari teriakan takbir, barisan mujahidin, dan bendera tauhid yang kembali berkibar di Al-Quds. Sampai saat itu tiba, kita tidak boleh berhenti. Allahua'lam Bishawab.

COMMENTS