Hegemoni Amerika di Timur Tengah
Mungkinkah Hegemoni AS Runtuh di Timur Tengah?
Oleh: Prof. Muhammad Malkawi
Sejak berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat tampak berada pada puncak supremasi globalnya. Runtuhnya Uni Soviet, kehancuran sistem-sistem sosialis, serta munculnya narasi “akhir sejarah” yang dipopulerkan Francis Fukuyama, menjadikan sistem liberal Amerika dianggap sebagai satu-satunya kerangka yang sah mengatur dunia. Namun, justru kawasan Timur Tengah –yang selama ini menjadi fondasi utama konstruksi hegemoni tersebut– kini memperlihatkan tanda-tanda keretakan yang serius.
Dua dekade terakhir abad ke-21 menyingkap sebuah transformasi mendasar: kemunduran Amerika yang berlangsung cepat, disertai dengan runtuhnya tatanan regional yang selama tujuh puluh tahun menopang dominasi Barat. Fenomena ini digambarkan buku Namudzaj asy-Syarq al-Ausath: Sab‘ūna ‘Āman min al-Haimana al-Amrīkiyyah wa Shirā‘ ar-Ru’ā (selanjutnya disebut “buku kami”) sebagai “munculnya kekosongan geopolitik di Timur Tengah.” Kekosongan tersebut bukan berarti absennya kekuatan, melainkan hilangnya kapasitas tunggal mengendalikan dinamika kawasan, serta terguncangnya struktur pengaruh yang sebelumnya tampak kokoh dan stabil.
Dari Puncak Menuju Kemunduran
Pada dekade 1990-an, Washington bertindak seolah sebagai penguasa tunggal sistem internasional. Menentukan perang dan perdamaian, menjatuhkan sanksi, menggulingkan rezim, serta membangun kembali negara. Namun, rangkaian perang yang kemudian dijalankan –dari Afghanistan hingga Irak, serta “Perang Melawan Teror”– berubah dari instrumen hegemonik menjadi sumber krisis. Amerika keluar dari konflik-konflik tersebut dalam keadaan lelah, tidak mampu lagi memaksakan tatanan, kehilangan kepercayaan, serta terbebani biaya ekonomi dan moral yang besar.
Penulis punya hipotesis “akhir dari imperium tidak dimulai dari serangan luar, melainkan dari saat ketergantungan pada kekuatan.” Washington terjebak dalam penyakit ini ketika berasumsi bahwa dominasi dapat berlangsung selamanya, dan bahwa uang, media, serta senjata mampu membekukan sejarah. Namun, berbagai peristiwa krusial –mulai dari jatuhnya Kabul, hingga melemahnya pengaruh Amerika di Irak, Suriah, dan Yaman– menunjukkan bahwa kekuatan, ketika digunakan tanpa agenda yang bermoral, akan berubah menjadi beban berat bagi pemilik kekuatan itu.
Runtuhnya “Model Timur Tengah Amerika”
Buku kami menjelaskan bahwa pilar utama hegemoni Amerika adalah apa yang dikenal sebagai “Model Timur Tengah (4+2)”, yakni pengelolaan kawasan melalui empat kekuatan regional (Iran, Turki, Arab Saudi, dan Israel) di bawah pengawasan dua kekuatan global (AS dan Rusia). Rumus ini memungkinkan Washington mengendalikan jalur energi, mencegah terbentuknya aliansi lintas kawasan, serta menjaga konflik tetap berada dalam “ambang batas yang dapat dikontrol.”
Namun, konstruksi tersebut mulai runtuh dari dalam: (1) Turki bergeser secara gradual dari poros Atlantik menuju posisi yang lebih independen, dengan orientasi yang berayun antara Moskow dan Beijing. (2) Iran berhasil bertahan dari tekanan sanksi dan memperluas pengaruhnya di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. (3) Arab Saudi mulai menpersifikasi aliansinya setelah kehilangan kepercayaan terhadap jaminan keamanan Amerika. (4) Israel terjebak dalam konflik internal dan menghadapi konflik terbuka di Gaza, Lebanon, serta Tepi Barat, yang memperlihatkan batas kemampuan militernya. (5) Rusia, pasca intervensi militer di Suriah tahun 2015, tidak lagi sekadar “penjamin sekunder,” melainkan tampil sebagai tandingan politik dan militer langsung bagi Washington di jantung kawasan.
Dengan demikian, fondasi sistem Amerika terkikis dari dalam, hingga Washington tidak lagi mampu memaksakan kehendaknya, bahkan terhadap sekutu-sekutunya sendiri, apalagi terhadap lawan-lawannya.
Kekosongan Geopolitik: Ketika Tangan Pengendali Menghilang
Apa yang disebut penulis sebagai “kekosongan geopolitik” bukanlah ketiadaan kekuatan secara material, melainkan ketiadaan kemampuan mengendalikan keseimbangannya. Kekuatan AS masih sangat besar, namun tidak lagi mampu menentukan arah peristiwa. Washington telah kehilangan unsur terpentingnya: hegemoni naratif.
Dahulu, setiap krisis dibaca melalui kacamata narasi Amerika, mulai dari perang-perang Teluk hingga apa yang disebut sebagai “Arab Spring.” Kini, monopoli naratif dan media tersebut telah runtuh; masyarakat memiliki platformnya sendiri, dan dunia menyaksikan perang di Gaza, Ukraina, atau Sudan dari berbagai sudut pandang, bukan semata-mata melalui lensa Gedung Putih.
Kekosongan ini tidak serta-merta diisi kekuatan baru, melainkan dapat menjadikan kawasan sebagai panggung kompetisi terbuka antara berbagai aktor: Rusia dan Tiongkok di satu sisi, Iran dan Turki di sisi lain, serta aktor non-negara yang semakin berperan. Namun, penulis melihat kondisi ini sebagai sebuah peluang historis yang langka, sebab surutnya hegemoni Amerika membuka ruang bagi redefinisi sistem regional dengan fondasi yang baru.
Timur Tengah dalam Dunia yang Berubah
Dalam dunia pasca polaritas, Timur Tengah tidak lagi sekadar menjadi arena sampingan, melainkan telah menjelma menjadi panggung utama bagi proses pembentukan kembali tatanan internasional. Perang energi, jalur maritim, teknologi, dan infrastruktur semuanya berjalin erat dengan kawasan ini.
Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa negara negara regional –setelah berdekade dekade berada dalam posisi ketergantungan– mulai menumbuhkan kesadaran geopolitik dan mencari kemandirian dalam pengambilan keputusan.
Penulis berhipotesis bahwa “generasi baru para pemimpin di kawasan ini tidak lagi memandang Washington sebagai satu satunya rujukan keamanan, melainkan sebagai salah satu sumber ancaman.” Dari sinilah muncul fenomena aliansi yang bersifat fleksibel: (1) Kedekatan Saudi-Iran yang difasilitasi oleh Tiongkok. (2) Keterbukaan Turki-Mesir yang berlangsung secara bertahap. (3) Keterlibatan India, Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Rusia dalam blok ekonomi baru (seperti BRICS).
Seluruh dinamika ini mengubah peta mental kawasan; “loyalitas” tidak lagi bersifat tetap, dan “poros” tidak lagi tertutup. Untuk pertama kalinya sejak satu abad terakhir, Timur Tengah mulai berpikir di luar kerangka Sykes-Picot, dan berusaha merumuskan keseimbangan yang dibentuk oleh dirinya sendiri.
Ilusi Kekuasaan: Ketika Imperium Tak Mampu Mundur
Paradoks yang ditangkap penulis dengan tajam adalah bahwa Amerika Serikat menyadari kemundurannya, namun tidak mengetahui bagaimana cara untuk mundur. Imperium besar tidak mati ketika dikalahkan, melainkan ketika bersikeras tetap bertahan sebagaimana adanya. Dari sinilah lahir kebijakan Washington yang tampak gamang: (1) Penarikan dari Afghanistan tanpa strategi yang jelas. (2) Sanksi berulang yang kehilangan efektivitas. (3) Dukungan tanpa syarat terhadap Israel meski berbiaya moral dan politik tinggi. (4) Upaya merebut kembali pengaruh melalui aliansi pragmatis jangka pendek.
Namun, kebijakan semacam ini tidak lagi menghasilkan hegemoni, melainkan justru memperdalam kesadaran global akan perlunya alternatif. Dengan demikian, setiap langkah defensif Amerika menjadi satu langkah tambahan menuju erosi pengaruhnya sendiri.
Bangkitnya Kekosongan atau Awal Sistem Baru?
Penulis mengajukan pertanyaan esensial: apakah kita benar benar berada di hadapan sebuah kekosongan geopolitik, atau justru sedang menyaksikan proses kelahiran sistem baru yang bersifat multipolar?
Dalam konteks tertentu, kekosongan tidak selalu identik dengan bahaya; ia bisa menjadi momen pendirian yang baru. Hegemoni Amerika selama ini telah membekukan sejarah kawasan dan mempertahankan keseimbangan yang bersifat artifisial. Kini, dengan goyahnya dominasi tersebut, terbuka peluang bagi berbagai bangsa untuk kembali memainkan peran otonom, serta membuka jalan menuju sistem regional yang lebih alami, yang bertumpu pada pluralitas kekuatan, bukan pada ketergantungan.
Namun, kemungkinan ini –sebagaimana ditegaskan penulis– tetap bergantung pada kemampuan masyarakat untuk melahirkan proyek peradaban yang mandiri, bukan sekadar melebur dalam orbit kekuatan baru. Jika Timur Tengah hanya berpindah dari ketergantungan pada Washington menuju ketergantungan pada Beijing atau Moskow, maka kekosongan itu tidak akan terisi, melainkan hanya berganti bentuk.
Islam Politik dan Kembali ke Jati Diri
Di tengah arus perubahan ini, penulis berpendapat bahwa kekosongan terbesar bukanlah pada ranah politik, melainkan pada ranah gagasan pemikiran. Hilangnya hegemoni Amerika memang membuka ruang bagi kekuatan regional, tetapi belum melahirkan sebuah proyek peradaban yang utuh. Pertanyaan lama pun kembali hadir dalam bentuk baru: apakah umat Islam mampu menawarkan visi autentik bagi dunia?
Gerakan gerakan Islam, meskipun menghadapi marginalisasi, represi, dan distorsi, tetap menjadi reservoir moral dan spiritual yang berpotensi mengisi kekosongan tersebut. Namun, penulis menekankan bahwa kembali ke jati diri tidak berarti menutup diri atau terjebak dalam romantisme sejarah, melainkan mentransformasikan gagasan pemikiran Islam menjadi proyek politik kontemporer yang mampu bersaing di tingkat internasional, yang disebut sebagai model 1+0: sebuah sistem kesatuan mandiri yang tidak bergantung pada penjamin eksternal.
Akhir Hegemoni dan Awal Sejarah Baru
Dalam penutup buku kami, disajikan refleksi yang melampaui kawasan dan menyentuh keseluruhan sistem global: “Zaman imperium yang mengatur dunia dari satu pusat telah berakhir. Dunia kini memasuki fase non polaritas, di mana keseimbangan tercipta melalui interaksi, bukan pemaksaan.”
Momen runtuhnya hegemoni Amerika bukan sekadar peristiwa politik, melainkan titik balik peradaban yang mendefinisikan ulang makna dan kekuatan. Pertanyaan yang tersisa bukan lagi: siapa yang akan mengisi kekosongan? Melainkan: gagasan apa yang akan memimpin dunia setelah surutnya ideologi liberal Barat?
Di sinilah penulis melihat peluang historis bagi umat Islam untuk menawarkan model alternatif yang menyeimbangkan spiritualitas, keadilan, dan rasionalitas, serta menyelamatkan umat manusia dari spiral konsumsi dan fragmentasi yang dihasilkan peradaban yang berorientasi profit.
Penutup: Kekosongan Bukan Akhir
Hegemoni Amerika ibarat langit langit rendah di atas banyak bangsa kawasan: melindungi dari hujan badai, tetapi sekaligus menghalangi kebangkitan. Kini, meski penuh kekacauan dan pertumpahan darah, langit langit itu mulai retak.
Runtuhnya –meski berisiko– bisa menjadi awal sejarah sejati bagi kawasan. Kekosongan, kami anggap “bukanlah akhir dari waktu, melainkan akhir dari stagnasi.” Jika ruang ini tidak diisi agenda mandiri yang adil, ia akan diisi oleh proyek pihak lain. Namun, saat ini Timur Tengah memiliki kesempatan –untuk pertama kalinya dalam satu abad– untuk merumuskan keseimbangannya sendiri, bukan sekadar kembali dibentuk dari intervensi luar.
Dengan demikian, berakhirnya hegemoni Amerika bukanlah tragedi bagi dunia, melainkan awal dari sebuah sejarah baru. Sejarah yang kali ini mungkin ditulis oleh Timur, bukan sekadar sejarah yang menjelaskan Timur Tengah.
(Sumber: Prof. M. Malkawi, Nihāyah al-Haimanah al-Amrīkīyyah wa Su‘ūd al-Farāgh al-Jiyūsīyāsī fī asy-Syarq al-Ausath, Qirā’ah fī at-Taḥawwul al-‘Ālamī min “Namūdzaj asy-Syarq al-Ausath al-Amrīkī” ilā ‘Ālam mā Ba‘d al-Quthbīyyah. Al-Wa’ie Arab edisi 473, tahun XXXIX, Jumada al-Akhirah 1447 H/ Desember 2025 M. Alih bahasa: Yan S. Prasetiadi).

COMMENTS