Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji, Penguasa Muslim Bungkam

Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji, Penguasa Muslim Bungkam

Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji, Penguasa Muslim Bungkam

Oleh. Mutafattihah
(Ibu Generasi)

Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji, Penguasa Muslim Bungkam

Bayangkan, seorang anak yang seharusnya berada di sekolah, bermain bersama teman-temannya, bercengkerama dengan keluarga, dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Namun, yang mereka rasakan justru dinginnya jeruji besi, interogasi, ketakutan, dan ketidakpastian. Itulah yang dialami ratusan anak Palestina.

Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy melaporkan sekitar 370 anak Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, dengan sebagian besar berada di penjara Megiddo dan Ofer. Anak-anak tersebut merupakan bagian dari sekitar 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus, menurut kelompok hak asasi tersebut. Laporan itu menyebutkan bahwa penahanan anak-anak Palestina oleh Israel tidak lagi terbatas pada kasus-kasus terpisah, tetapi telah menjadi praktik yang berulang dalam kampanye penangkapan di seluruh Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. (Viva.co.id, 28-8-2026)

Penerapan administrative detention atau penahanan administratif menjadi salah satu hal yang paling disoroti. Skema ini memberi kewenangan kepada otoritas Israel untuk menahan warga Palestina tanpa membawa mereka ke persidangan atau menyampaikan dakwaan resmi. Masa penahanan dapat terus diperpanjang secara berkala hanya berdasarkan "bukti rahasia" yang tidak diungkap kepada publik, bahkan kepada tim kuasa hukum tahanan itu sendiri. Akibatnya, banyak anak-anak harus kehilangan masa mudanya di balik jeruji tanpa kejelasan hukum. (Inilah.com, 28-8-2026)

Kepala penelitian Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan, Abden Nasser Farawneh, mengatakan terjadi lebih dari 50 ribu kasus penangkapan anak-anak Palestina sejak pendudukan Israel atas wilayah Palestina pada 1967.

Sedikitnya 16.655 kasus penangkapan anak-anak terjadi sejak meletusnya Intifada kedua pada 2000, yang dikenal dengan nama Intifada Al-Aqsha.

Farawneh mengatakan, dalam konferensi dua hari kelima Eropa mengenai tahanan Palestina yang diselenggarakan di Brussels, bahwa penangkapan anak-anak merupakan bagian dari kebijakan sistematis yang bertujuan memutarbalikkan serta menghancurkan realitas dan masa depan anak-anak Palestina.

Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Palestina, WAFA, yang dipantau ANTARA di Jakarta, ia menyatakan bahwa angka penangkapan anak oleh penjajah Israel setiap tahun mencapai sekitar 700 kasus pada periode 2000 hingga 2010. Kasus tersebut meningkat tajam pada 2011 hingga 2018 sehingga mencapai sekitar 1.250 anak per tahun.

Farawneh menyeru para peserta agar menyatukan upaya guna mendorong status hukum para tahanan dan keabsahan perjuangan mereka secara umum, sehingga dapat mengungkap kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh penguasa pendudukan Israel terhadap anak-anak Palestina.

Anak-Anak di Balik Jeruji Penjajahan

Anak-anak yang semestinya tumbuh dalam suasana aman justru berhadapan dengan kekerasan, penahanan, dan trauma. Penahanan anak menjadi bagian dari tekanan sistematis yang terus menghantui masyarakat Palestina. Penangkapan anak-anak Palestina menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi bukan sekadar konflik bersenjata biasa.

Memenjarakan anak bukan hanya merenggut kebebasan hari ini. Ia juga berpotensi merampas pendidikan, kesehatan psikologis, hubungan keluarga, bahkan harapan mereka terhadap masa depan. Penahanan tersebut merupakan bagian dari strategi intimidasi terhadap rakyat Palestina. Ketika anak-anak ikut menjadi sasaran, pesan yang ingin disampaikan menjadi jelas: tidak ada yang benar-benar aman.

Ironisnya, ketika anak-anak Palestina berada di balik jeruji, suara kecaman dari para penguasa negeri-negeri Muslim justru terdengar begitu lemah.

Penangkapan dan pemenjaraan anak adalah kejahatan kemanusiaan yang mencederai kehormatan manusia dan bertentangan dengan prinsip syariat Islam. Islam menempatkan anak sebagai pihak yang harus dilindungi, bukan dijadikan sasaran kekerasan dan intimidasi. Membiarkan anak-anak hidup dalam ketakutan, kehilangan keluarga, pendidikan, dan kebebasan berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung.

Penguasa di negeri-negeri Muslim hari ini bisu dan tak mampu membebaskan anak-anak Palestina dari penjara Zionis Israel. Anak Palestina dipenjara, penguasa Muslim ke mana?

Ketika anak-anak Palestina diseret ke dalam penjara, apakah cukup dengan kecaman, pernyataan keprihatinan, dan konferensi diplomatik? Ketika kezaliman berlangsung di depan mata, dunia Muslim justru menyaksikan para penguasanya sibuk dengan kepentingan masing-masing. Jika bukan untuk membela anak-anak yang tertindas, lalu untuk apa kekuatan, kekayaan, dan jabatan yang mereka miliki?

Inilah ironi yang menyakitkan. Negeri-negeri Muslim memiliki sumber daya, kekuatan politik, dan jumlah penduduk yang besar, tetapi seolah tidak memiliki keberanian untuk menghentikan kezaliman. Air mata anak-anak Palestina terus mengalir, sementara para penguasa Muslim hanya mampu mengeluarkan kata-kata. Kecaman tanpa tindakan nyata pada akhirnya tidak lebih dari suara yang hilang di tengah gemuruh penindasan.

Islam Memuliakan Anak, Bahkan dalam Perang

Kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina bukan sekadar persoalan kemanusiaan yang cukup disesalkan melalui kecaman dan pernyataan diplomatik. Penahanan, penyiksaan, pembunuhan, dan perampasan masa depan anak-anak Palestina merupakan kejahatan yang menuntut pembelaan yang nyata.

Umat dan para penguasa di negeri-negeri Muslim harus terus disadarkan bahwa membiarkan kezaliman berlangsung berarti membiarkan penjajahan mengakar. Dalam Islam, membela kaum yang dizalimi bukan sekadar pilihan moral, tetapi merupakan perkara yang memiliki landasan syariat.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

QS. An-Nisa' [4]: 75

“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’”

Ayat tersebut menunjukkan adanya perhatian syariat terhadap kaum yang tertindas, termasuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Karena itu, penderitaan anak-anak Palestina tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang tidak memiliki kaitan dengan kewajiban umat untuk membela orang-orang yang dizalimi.

Menyadarkan umat dan penguasa di negeri-negeri Muslim bahwa kejahatan terhadap anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan merupakan bagian dari upaya membangkitkan kesadaran umat. Dalam kerangka perjuangan Islam, pembelaan terhadap kaum tertindas harus ditempatkan dalam koridor syariat, termasuk ketentuan-ketentuan syariat mengenai jihad dan peperangan.

Ancaman, intimidasi, dan tekanan Zionis tidak boleh menjadi alasan bagi umat untuk menyerah pada kezaliman. Justru berbagai tekanan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan pembebasan Palestina berhadapan dengan persoalan penjajahan yang kompleks dan membutuhkan kekuatan politik serta kesatuan umat.

Karena itu, umat tidak boleh terjebak pada narasi bahwa perjuangan harus berhenti demi stabilitas atau karena takut terhadap ancaman. Palestina membutuhkan keberanian politik, kesatuan umat, dan kekuatan nyata, bukan sekadar kecaman yang berulang-ulang.

Dalam politik Islam, persatuan umat, kekuatan tentara Islam, dan kepemimpinan negara yang menerapkan syariat merupakan bagian penting dari gagasan pembelaan terhadap negeri-negeri Muslim yang terjajah. Dalam kerangka pemikiran ini, gagasan Khilafah ditempatkan sebagai institusi politik yang menyatukan umat dan mengerahkan kekuatan negara untuk menjalankan kewajiban perlindungan serta pembelaan terhadap kaum yang dizalimi.

Berbeda dengan praktik penjajahan yang menjadikan anak-anak sebagai korban, syariat Islam memiliki aturan yang tegas dalam memperlakukan manusia ketika terjadi peperangan. Anak-anak tidak diposisikan sebagai sasaran kekerasan. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melarang pembunuhan perempuan dan anak-anak dalam peperangan.

وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

HR. Bukhari No. 3015

“Ditemukan seorang perempuan terbunuh dalam salah satu peperangan Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ melarang membunuh perempuan dan anak-anak.”

Prinsip ini menunjukkan bahwa kekuatan militer dalam Islam bukanlah kekuatan yang bebas bertindak tanpa batas, tetapi kekuatan yang terikat oleh hukum syariat.

Pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, terdapat riwayat mengenai wasiat beliau kepada pasukan yang diberangkatkan ke Syam agar tidak membunuh perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia serta tidak melakukan kerusakan secara sewenang-wenang.

لَا تَقْتُلَنَّ امْرَأَةً، وَلَا صَبِيًّا، وَلَا كَبِيرًا هَرِمًا، وَلَا تَقْطَعَنَّ شَجَرًا مُثْمِرًا، وَلَا تُخَرِّبَنَّ عَامِرًا

Riwayat wasiat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu kepada pasukan

“Janganlah kalian membunuh perempuan, anak-anak, dan orang tua yang telah lanjut usia. Jangan pula kalian menebang pohon yang berbuah dan jangan menghancurkan bangunan yang telah berdiri.”

Riwayat tersebut menunjukkan bagaimana prinsip perlindungan terhadap pihak yang tidak terlibat langsung dalam peperangan dijaga dalam praktik pemerintahan generasi awal Islam.

Begitu pula dalam sejarah pemerintahan Islam setelahnya, prinsip perlindungan terhadap rakyat, termasuk anak-anak, menjadi bagian dari tanggung jawab negara. Anak bukan sekadar angka statistik korban perang. Mereka adalah amanah yang harus dijaga, diberi makan, pendidikan, keamanan, dan masa depan.

Maka, ketika hari ini anak-anak Palestina hidup dalam ancaman pengeboman, penahanan, kehilangan orang tua, dan trauma berkepanjangan, pertanyaannya bukan lagi, “Sampai kapan dunia mengecam?” Pertanyaannya adalah: sampai kapan umat Islam membiarkan kekuatan politik dan militer mereka tercerai-berai sehingga tidak mampu menghentikan kezaliman?

Palestina tidak membutuhkan belas kasihan penjajah. Palestina membutuhkan pembebasan. Bagi umat Islam, pembebasan itu harus diperjuangkan dengan kesadaran politik, persatuan umat, kekuatan yang terorganisasi, serta kepemimpinan yang menjadikan syariat sebagai dasar perlindungan dan pembelaan terhadap kaum Muslim yang terzalimi.

Khatimah

Islam menempatkan anak sebagai amanah yang wajib dijaga. Bahkan dalam kondisi perang, syariat memiliki aturan yang tegas. Rasulullah ﷺ melarang pembunuhan perempuan dan anak-anak dalam peperangan.

Tawanan pun memiliki ketentuan dan hak yang diatur oleh syariat. Pada masa Rasulullah ﷺ, tawanan perang Badar tidak diperlakukan secara seragam. Sebagian dibebaskan dengan tebusan, sebagian dibebaskan tanpa tebusan, dan terdapat riwayat bahwa sebagian tawanan yang tidak mampu membayar tebusan dijadikan tebusannya dengan mengajarkan kemampuan menulis kepada anak-anak Anshar.

كَانَ نَاسٌ مِنَ الْأَسْرَى يَوْمَ بَدْرٍ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ فِدَاءٌ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِدَاءَهُمْ أَنْ يُعَلِّمُوا أَوْلَادَ الْأَنْصَارِ الْكِتَابَةَ

Riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma

“Sebagian tawanan pada Perang Badar tidak memiliki tebusan, maka Rasulullah ﷺ menjadikan tebusan mereka dengan mengajarkan menulis kepada anak-anak Anshar.”

Riwayat mengenai pengajaran menulis tersebut dinilai hasan oleh Syaikh Syu'aib al-Arna'uth. Adapun penyebutan angka sepuluh anak dalam sebagian riwayat atau literatur populer perlu disikapi lebih hati-hati karena penetapan angka tersebut tidak ditemukan melalui jalur yang kuat.

Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan militer dalam sejarah Islam tidak berdiri tanpa aturan, melainkan terikat dengan hukum syariat dan pertimbangan terhadap manusia. Islam tidak mengajarkan kekuatan tanpa batas, tetapi mengatur bagaimana kekuatan digunakan.

Masalahnya bukan hanya Zionis, tetapi juga sikap diam para penguasa Muslim. Kejahatan terhadap anak-anak Palestina tidak boleh dianggap sebagai persoalan Palestina semata. Palestina adalah bagian dari persoalan umat Islam.

Ketika anak-anak Palestina berada di balik jeruji, kehilangan orang tua, kehilangan rumah, kehilangan sekolah, bahkan kehilangan masa depan, umat Islam tidak boleh membiasakan diri untuk sekadar menyaksikan penderitaan tersebut sebagai berita yang berlalu begitu saja.

Kesadaran umat harus dibangun. Kezaliman harus diungkap. Pembelaan terhadap kaum tertindas harus diperjuangkan dengan cara yang sesuai dengan ketentuan syariat. Dan kekuatan politik umat harus diarahkan untuk melindungi kehormatan, darah, serta kehidupan kaum Muslim.

Allahua'lam bish-shawab.

COMMENTS

Name

afkar,6,agama bahai,1,Agraria,2,ahok,2,Analysis,52,aqidah,9,artikel,13,bedah buku,2,bencana,25,berita,49,berita terkini,228,Breaking News,8,Buletin al-Islam,13,Buletin kaffah,54,catatan,5,cek fakta,2,Corona,122,curang,1,Dakwah,43,demokrasi,52,Dunia Islam,2,Editorial,5,Ekonomi,204,fikrah,9,Fiqih,18,fokus,3,Geopolitik,20,gerakan,5,Hukum,95,ibroh,17,Ideologi,72,Indonesia,1,info HTI,10,informasi,1,inspirasi,32,Internasional,3,islam,192,Kapitalisme,23,keamanan,8,keluarga,55,Keluarga Ideologis,2,kesehatan,90,ketahanan,2,khi,1,Khilafah,292,khutbah jum'at,3,Kitab,4,klarifikasi,4,Komentar,76,komunisme,2,konspirasi,1,kontra opini,28,korupsi,40,Kriminal,1,Legal Opini,17,liberal,2,lockdown,24,luar negeri,52,mahasiswa,3,Medsos,5,migas,1,militer,1,Motivasi,3,muhasabah,18,Musibah,4,Muslimah,91,Nafsiyah,9,Naratif Reflektif,1,Nasihat,9,Nasional,2,Nasjo,12,ngaji,1,Opini,3790,opini islam,91,Opini Netizen,2,Opini Tokoh,102,ormas,4,Otomotif,1,Pandemi,4,parenting,5,Pemberdayaan,1,pemikiran,23,Pendidikan,137,Peradaban,1,Peristiwa,19,pertahanan,1,pertanian,2,politik,328,Politik Islam,14,Politik khilafah,1,Press Release,1,propaganda,5,Ramadhan,6,Redaksi,3,remaja,14,Renungan,5,Review Buku,5,rohingya,1,Sains,3,santai sejenak,2,sejarah,70,Sekularisme,5,Sepiritual,1,Sistem Islam,1,skandal,3,Sorotan,1,sosial,80,Sosok,1,Surat Pembaca,1,syarah hadits,8,Syarah Kitab,1,Syari'ah,47,Tadabbur al-Qur’an,1,tahun baru,2,Tarikh,2,Tekhnologi,3,Teladan,7,timur tengah,39,tokoh,49,Tren Opini Channel,3,tsaqofah,8,tulisan,5,ulama,5,Ultimatum,7,video,1,
ltr
item
Tren Opini: Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji, Penguasa Muslim Bungkam
Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji, Penguasa Muslim Bungkam
Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji, Penguasa Muslim Bungkam
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgedoBRwIZ1MpoQ8UcvizdxeVC9RCtivKL5iaJF2EyQc-Af1mQql58TcGfJ-n6j2RkbENNAZGOJXur397k1EQzMXnxrADnrgO9SbNKc_8Kq77aFy7J0DKFcpLRAHgApzIs2KXbw4aVQ8gZu3yHfnpM2onEMlo8ONLe-dREShnHYf9XiJRngmFOuXqGb1t0/w640-h418/Anak%20Palestina%20di%20Balik%20Jeruji,%20Penguasa%20Muslim%20Bungkam__.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgedoBRwIZ1MpoQ8UcvizdxeVC9RCtivKL5iaJF2EyQc-Af1mQql58TcGfJ-n6j2RkbENNAZGOJXur397k1EQzMXnxrADnrgO9SbNKc_8Kq77aFy7J0DKFcpLRAHgApzIs2KXbw4aVQ8gZu3yHfnpM2onEMlo8ONLe-dREShnHYf9XiJRngmFOuXqGb1t0/s72-w640-c-h418/Anak%20Palestina%20di%20Balik%20Jeruji,%20Penguasa%20Muslim%20Bungkam__.jpg
Tren Opini
https://www.trenopini.com/2026/09/anak-anak-palestina-di-balik-jeruji.html
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/2026/09/anak-anak-palestina-di-balik-jeruji.html
true
6964008929711366424
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy