darurat lgbt
Oleh : Yuniasri Lyanafitri
Podcast dari Deddy Corbuzier tengah ramai menjadi perbincangan. Pasalnya, Deddy mengundang Ragil Mahardika dan Frederik Vollert sebagai tamu pasangan gay. Bahkan, dalam perbincangannya, mengandung maksud ajakan untuk bisa menjadi seorang LGBT. Sehingga sebagian besar netizen murka karena menganggap Deddy memberikan panggung bagi kaum pelangi untuk semakin mengkampanyekan perilaku kaum Nabi Luth tersebut.
Belum lama dari peristiwa di atas, unilever Indonesia juga sempat mendapat kecaman publik karena mendukung perilaku LGBT. Bahkan, menurut keterangan dari ketua MPR, Zulkifli Hasan bahwa ada lima fraksi di DPR RI yang dianggap “menyetujui perilaku LGBT”, terangnya dalam kegiatan Tanwir I Aisyiyah di Surabaya (20/1/2018).
Apalagi regulasi yang dianggap mendukung perilaku LGBT juga telah disahkan yaitu Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Hal ini semakin memberikan dukungan kuat bagi eksistensi kaum pelangi. Terlebih, media dan selebritis pun turut andil di barisan pendukung. Ditambah, atas nama pengakuan terhadap kebebasan berekspresi dijadikan landasan bagi kaum pelangi untuk terus memperjuangkan haknya.
Menjamurnya perilaku LGBT bahkan gerakannya semakin masif ini disebabkan oleh sistem yang tengah diterapkan saat ini. Sistem yang memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. Sehingga hanya hawa nafsu dan kepentingannyalah yang dijadikan landasan saat bertindak. Hingga moral dan fitrah manusia diabaikan. Karena seekor binatang pun tidak akan pernah mendatangi sesama jenisnya untuk menyalurkan naluri seksualnya.
Sistem kapitalis liberal yang berlandaskan sekulerisme menjadikan aturan agama hanyalah candu bagi kehidupan. Sehingga agama dipisahkan dan dijauhkan dari kehidupan. Agama tidak diperbolehkan mengatur urusan kehidupan di dunia. Hasilnya, peraturan-peraturan yang diterapkan merupakan buah dari pemikiran manusia. Padahal pemikiran manusia bersifat terbatas yang tidak akan mampu untuk melingkupi seluruh kebutuhan manusia di dunia dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, banyak kebijakan yang diubah sesuai dengan kondisi atau diubah sesuai dengan kepentingan penguasa dan pengusaha yang akan dicapai.
Hal ini menjadikan aturan tersebut rusak dan merusak. Karena hanya akan berdampak baik bagi kalangan tertentu dan berdampak buruk bagi kalangan lainnya. Sebagaimana kampanye LGBT yang semakin masif ini. Regulasi yang semakin menguatkannya pun dirancang memang untuk mengalihkan generasi sehingga rusaklah pemikirannya yang semakin jauh dari aturan agama Islam. Padahal dengannya bisa menjadikannya umat yang gemilang dan cemerlang.
Selain itu, regulasi tersebut memang dimaksudkan bukan untuk melindungi apalagi mensejahterkan umat. Melainkan dengan tujuan memenuhi kepentingan para oligarki. Karena dalam sistem kapitalis, apapun akan dilakukan demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Walaupun dalam perilaku LGBT ini akan mengakibatkan kerusakan besar bagi generasi
Kerusakan yang tersistem ini hanya bisa diselesaikan dengan solusi yang tersistem pula. Tidak lain hanya dengan Islam sebagai mabda yang diemban oleh sebuah instansi dengan sistem pemerintahannya khilafah. Karena hanya dengan khilafah, sebagai negara yang memiliki kewenangan dan kekuasaan akan mampu bersikap tegas dalam membedakan perilaku benar dan salah.
Dasar dalam sistem pemerintahan khilafah merupakan syari’at Islam. Karena seorang khalifah (penguasa) dibaiat atau dipilih oleh umat hanya untuk menerapkan syari’at Islam di segala aspek kehidupan. Sehingga ketika khalifah melakukan kesalahan atau pelanggaran dalam pemerintahannya. Maka, umat akan mengadukannya kepada mahkamah madzalim untuk bersikap tegas kepada khalifah tersebut. Dengan peringatan awal atau langsung diberhentikan.
Begitu pula dengan perilaku LGBT, yang jelas-jelas bertentangan dengan syari’at Islam. Khalifah akan menghukum tegas pelaku dan pendukung perilaku tersebut. Kemudian mengawasi media untuk tidak menayangkan bahkan memberi ruang untuk kampanye kaum pelangi. Media hanya digunakan sebagai bahan pembelajaran dan peringatan bagi umat untuk tidak meniru bahkan mendekati perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan syari’at Islam.
Dalam masyarakat pun akan ada perilaku amar ma’ruf nahi mungkar yang bisa mencegah dari kemaksiatan. Karena setiap individu masyarakatnya memiliki akidah yang kuat. Dari akidah yang kuat akan timbul kesadaran manusia yang memiliki hubungannya dengan Allah swt. Sehingga sebagai konsekuensinya dia akan terus taat kepada seluruh aturan Allah swt. Karena dia meyakini bahwa ada hari pembalasan atas segala perbuatannya di dunia.
Sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. Az-Zalzalah : 6-7 yang artinya, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
Wallahu’alam bishshowwab
COMMENTS