Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tiada Henti Nestapa Umat Islam, Ketika Tiada Perisai

tidak mungkin umat Islam menang dan terbebas dari nestapa dengan meminta pertolongan dan belas kasihan umat atau negara yang memusuhinya. Maka solusi yang harus dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah kembali kepada Islam dalam penerapan syariat Islam yang kaaffah dalam bingkai Khilafah Rasyidah yang tidak akan lama lagi, In syaa Allah. Janji Allah adalah pasti, bagi orang-orang yang beriman pasti meyakininya. Tinggal memilih menjadi bagian yang memperjuangkannya ataukah penentangnya.

Oleh Hanin Syahidah

Nestapa masih menyelimuti umat. Bagaimana setiap hari pemandangan menyedihkan menimpa umat Islam di seluruh dunia. Lihat bagaimana Rohingya yang dihadapkan pada genosida sistemik dan terusir dari negerinya sendiri. Bahkan dengan alasan nasionalisme negeri-negeri muslim di sekitarnya pun tidak mampu untuk membantunya. Ironisnya, oleh Banglades sebagai negara terdekatnya, ribuan pengungsi Rohingya ini direlokasi di pulau terpencil yang rawan banjir, tak layak huni (Liputan6.com, 29/12/2020).

Benar saja tempat pengungsian itu pun terus dilanda banjir dan longsor bahkan menimbulkan korban jiwa (liputan6.com, 31/7/2021). Sementara di Suriah kekerasan yang terus terjadi, sejak Arab spring melanda timur tengah penguasa Suriah membantai rakyatnya sendiri dengan bantuan AS dan Rusia, tercatat dalam 10 tahun konflik di Suriah telah menewaskan sekitar setengah juta orang dan separuh dari populasi Suriah yang sebelum perang mencapai 23 juta orang telah mengungsi. Lebih dari 5 juta di antaranya mengungsi ke luar negeri. (voaindonesia.com, 28/8/2021).

Sedangkan China dituding memenjarakan ribuan umat Muslim Uighur di wilayah Xinjiang tanpa proses peradilan. (BBCNewsIndonesia.com, 26/10/2018). Mereka dimasukkan di kamp-kamp konsentrasi dalam waktu yang lama untuk dibersihkan dari unsur-unsur teroris menurut Pemerintah China, sungguh tuduhan yang tidak berdasar. Bahkan China-lah yang menyiksa mereka dan memperlakukan dengan tak manusiawi di kamp-kamp konsentrasi itu.

Palestina, bumi para nabi juga masih terus menderita di dalam pendudukan Yahudi Israel yang sengaja ditanam Inggris di wilayah jantung umat Islam di Al Quds. Sebagai borok yang terus disundut untuk menjadi pesakitan di wilayah umat Islam. Tak ketinggalan juga Yaman, wilayah umat Islam yang terukir indah dalam sejarah itu telah lama dilanda konflik perang dengan Arab Saudi dan kelaparan yang sangat parah. Tercatat Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa lebih dari 130 pemberontak Houthi di Yaman telah tewas dalam serangan-serangan koalisi di selatan kota Marib. (detikNews, 13/11/021).

Tidak cukup dengan itu, kondisi Kashmir hari ini terus terkoyak. Sering terjadi bentrok antara umat Islam dengan tentara India, terbaru bentrokan kembali pecah di Kashmir dengan 17 orang tewas dalam 2 pekan (detik.com,3/7/2021). Bahkan di India permusuhan terhadap umat Islam meluas di seluruh India.

Di Indonesia, diakui atau tidak wabah Islamofobia pun merebak. Terutama terhadap Islam yang diklaim sebagai Islam radikal. Kriminalisasi ulama misalnya, dengan kasus hukuman HRS yang terus diperpanjang, disertai tuduhan yang tidak jelas dan tidak adil. Sebab banyak pelanggar prokes dengan kondisi yang lebih parah tapi tetap bebas melenggang. Selain itu kriminalisasi syariat Islam terus berlanjut, misalnya stigmatisasi buruk terhadap Khilafah, hijrah, bahasa Arab bahkan dicirikan sebagai teroris, ada juga penyerangan ustaz yang terjadi berulang tanpa solusi tuntas, pelakunya selalu dianggap sebagai orang gila (ODGJ) sehingga tidak bisa dipidana alias dibebaskan.

Kasus Syeikh Ali Jaber (Allahu yarham) yang ditusuk pria tak dikenal, yang menyebabkan ulama terkenal itu harus dilarikan ke rumah sakit. Seorang ustaz di Mustikajaya, Bekasi menjadi korban pembegalan dan pembacokan yang terjadi pada 21 September 2021 pukul 3 dini hari. Ustaz Chaniago pada Senin, 20 September 2021 siang sedang berceramah di sebuah mesjid di Batam, diserang oleh pria tak dikenal. Ustaz Marwan meninggal dunia setelah menjadi korban penembakan di depan rumahnya yang terletak di kecamatan Pinang, kota Tangerang pada 18 September 2021 sekitar pukul setengah 7 malam. (Okezone.com,22/9/2021).

Masih banyak nestapa umat Islam di negara lainnya. Namun, tidak banyak yang bisa dilakukan umat mulia ini karena ketiadaan Junnah (perisai) di tengah umat ini. Perisai itulah Khilafah Islamiyyah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Ketiadaan kepemimpinan umat Islam yang satu menjadikan umat Islam yang terpecah-pecah ini menderita dan mengalami kemunduran yang sangat parah, sekat-sekat negara bangsa semakin menjauhkan umat Islam di satu negara dengan negara lain, padahal selama 1300 tahun lamanya mereka hidup dalam kegemilangan peradaban yang luar biasa karena mereka hidup dengan panduan Alquran dan Assunnah dengan penerapan Islam kaaffah. Hal ini diakui juga oleh ilmuwan Barat, di antaranya Prof. HAR Gibb (guru besar London University): “Sastra Barat berasal dari sastra Muslim. Hal itu tidak perlu dipertentangkan atau diperselisihkan lagi.”

Prof Leo Weiner (sastrawan Barat): “Konflik pengaruh sastra Islam dengan sastra Eropa dimulai pada abad ke-8 Masehi.”

Ibnu Tumlus di Alcira (ilmuwan Barat dalam bidang ilmu ukur, ahli musik, ilmu bintang, dan aritmatika): “Orang Islam telah jauh melampaui kepandaian orang-orang Barat.”

Prof. Kodrad dalam bukunya Uber den Usprung Deermite literchen Minnesang yang diterbitkan di Swiss tahun 1918 menulis, “Eropa yang mendapatkan sastra dan nyala api peradaban modern berasal dari Islam.”

Pernyatan sejumlah orientalis: “Ilmu filsafat yang ditulis dua filsuf Barat kenamaan, Raymond Lull dan Raymond Martin, sebagian besar merupakan buah pikiran ahli filsafat Islam, yaitu Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali.''dan masih banyak lagi yang lain. (Republika.co.id,27/2/2020).

Itulah bukti cahaya Islam di masa lalu, kondisi yang sangat kontras di masa sekarang, seolah semua sirna berganti penderitaan yang tidak berujung. Alih-alih berharap pertolongan dan keadilan kepada hukum internasional dibawah PBB tapi tetap sama saja, selalu kalah dengan negara-negara besar yang mempunyai hak veto di PBB diantaranya adalah AS, Inggris, China dan sebagainya.

Mereka bungkam seribu bahasa jika korbannya adalah umat Islam, salah satu contoh ketika dunia memperkarakan China terkait Uighur. Di PBB China menyangkalnya dengan bahasa bahwa China mengatakan jutaan tenaga kerja di Xinjiang telah dilatih kembali dalam program yang disebut “program re-edukasi”. Suara aktifis HAM hanya terdengar sangat lirih nyaris tidak berbunyi karena memang tidak ada institusi yang mampu berdiri tegak atas nama umat Islam layaknya Khilafah Islamiyyah di masa lalu.

Penderitaan demi penderitaan sungguh dialami umat Islam sejak Khilafah runtuh tahun 1924. Sejak itulah nestapa umat Islam seolah tak berujung, sudah hampir 100 tahun berlalu. Namun berkaca dari semua kondisi ini, ada secercah harapan bahwa umat Islam akan kembali berjaya menjadi Khoyru ummah kembali sebagaimana bisyaroh dari Allah dan hadis Rasulullah, Allah berfirman yang artinya : “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. An-Nur: 55)

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad).

Maka, tidak mungkin umat Islam menang dan terbebas dari nestapa dengan meminta pertolongan dan belas kasihan umat atau negara yang memusuhinya. Maka solusi yang harus dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah kembali kepada Islam dalam penerapan syariat Islam yang kaaffah dalam bingkai Khilafah Rasyidah yang tidak akan lama lagi, In syaa Allah. Janji Allah adalah pasti, bagi orang-orang yang beriman pasti meyakininya. Tinggal memilih menjadi bagian yang memperjuangkannya ataukah penentangnya. Wallahu a’lam bi ash-shawab

Post a Comment for "Tiada Henti Nestapa Umat Islam, Ketika Tiada Perisai"