Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Politik dan Industri Bagai Saudara Kembar Dalam Demokrasi

Jika membaca dan menulis bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, begitupun politik dan industri dalam sistem demokrasi kapitalisme, dimana politik dijadikan sarana kepentingan oligarki dan korporasi yang menguntungkan kedua belah pihak. Sistem yang segala sesuatunya dinilai hanya mengejar keuntungan,kepentingan, dan kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara.

Oleh : Titin Kartini

Jika membaca dan menulis bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, begitupun politik dan industri dalam sistem demokrasi kapitalisme, dimana politik dijadikan sarana kepentingan oligarki dan korporasi yang menguntungkan kedua belah pihak. Sistem yang segala sesuatunya dinilai hanya mengejar keuntungan,kepentingan, dan kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara.

Karna membutuhkan biaya yang sangat besar dalam sistem ini, maka kerjasama pun harus dilakukan demi kekuasaan. Seperti yang dilansir oleh beritasatu.com dimana Wakil Kedua DPD Sultan Najamudin menyoroti fantastisnya biaya pemilu 2024 mendatang, menurutnya ini disebabkan adanya jebakan dari sistem demokrasi liberal. (beritasatu.com19/9/2021)

Miris, disaat pandemi masih menghantui rakyat, dimana kesulitan terus membelenggu di segala lini kehidupan, namun para penguasa sudah menetapkan biaya pemilu yang notabennya masih lama. Dimulai dari perang baliho dimana rakyat sangat membutuhkan perhatian dari para penguasa negeri. Sistem demokrasi kapitalisme yang asasnya tidak sesuai fitrah manusia menghilangkan rasa empati yang kian terasa. Dengan biaya yang mahal namun minim hasil.

Sistem demokrasi hanya menghasilkan para penguasa yang hanya mementingkan kepentingan diri dan golongannya, demokrasi yang syarat dengan money politics dan korupsi sesuai kepentingan para plutocrat atau para pemilik modal yang menyokong dana para penguasa untuk mendapatkan kekuasaan. Maka akan ada timbal balik dari kerjasama tersebut, tak lebih seperti kerjasama industri yang harus saling menguntungkan.

Semkin terasa kebobrokan demokrasi, seharusnya ini membuat kita berfikir untuk mengganti sistem ini. Mencari sistem yang mampu mewujudkan kesejahteraan lahir batin rakyat dan sistem yang menhasilkan para pemimpin yang bertanggungjawab namun tidak membutuhkan anggaran yang fantasti.

Sistem itu tentu saja bukan sistem yang lahir dari hawa nafsu manusia, tapi sistem yang dikeluarkan oleh sang pencipta. Satu-satunya sistem yang mengerti akan hakikat kebutuhan ciptaan-Nya. Islam sebagai agama mayoritas negeri ini, sesungguhnya adalah sebuah aturan yang mengatur kehidupan manusia dari mulai ibadah, hingga cara kepengurusan sebuah negara. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. sebagai utusan-Nya, dan para sahabat bagaimana cara kepengurusan urusan umat.

Sistem Islam mampu mewujudkan dan menghasilkan penguasa yang bertanggung jawab karna memiliki sistem politik yang unggul. Dengan asas untuk menggapai ridho-Nya sehingga halal dan haram menjadi standar dalam melakukan suatu perbuatan. Para pemimpin hanya mengikuti aturan-Nya yang tercantum dalam al Quran dan As Sunnah sebagai hukum yang baku.

Sistem Islam yang bernama Khilafah akan menghasilkan kepemimpinan yang amanah dan tidak membutuhkan anggaran yang fantastis untuk mewujudkannya, mereka memimpin dengan sepenuh hati tanpa mengharap materi, dan tanpa tekanan para pemilik modal. Semua dilakukan karna beratnya pertanggungjawaban yang akan dipikul oleh pemimpin kelak di akhirat.

Tak ada lagi alasan untuk tetap dalam sistem ini, mari kita buang dan campakkan sistem busuk yang hanya memberikan kesengsaraan untuk seluruh umat, saatnya ganti sistem dengan sistem Islam Khilafah, yang telah terbukti mampu menghadirkan pemimpin yang bertanggaungjawab tanpa biaya yang menyengsarakan umat.

Wallahu a'lam

Post a Comment for "Politik dan Industri Bagai Saudara Kembar Dalam Demokrasi"