Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Praktik Pesugihan, Akibat Pemikiran Sekuler

Dengan memilih jalan pesugihan, melakukan ritual di dekat pohon atau batu besar, makam, pantai, gunung dan tempat lainnya yang dianggap keramat. Bahkan, termasuk ritual di luar nalar manusia yaitu mengorbankan anggota keluarga. Sebab, orang yang bersangkutan yakin akan mendapatkan harta dengan jalan tersebut.

Oleh; Ross A.R | Aktivis dakwah Medan Johor

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, serta tempat ternyaman untuk berlindung bagi anak-anaknya. Namun ironisnya, ada seorang ibu yang tega dengan sadis mencongkel mata buah hatinya. Hanya di sebabkan ingin kaya, dengan cara praktik Pesugihan.

Seperti yang dilansir oleh KOMPAS(dot)com (6/9/2021) Kasus pesugihan yang mengorbankan mata seorang bocah perempuan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan masih terus menjadi pembicaraan warga.

Dua pelaku telah menjalani penahanan di Mapolres Gowa sementara kedua orangtua korban masih menjalani observasi di Rumah Sakit Dadi Makassar.

Menurut keluarga korban, praktik pesugihan tersebut telah lama dilakukan oleh kedua orangtua korban, bahkan terungkap praktik kanibalisme.

Informasi dari keluarga, praktik ilmu hitam ini telah lama mereka lakukan bahkan kulit luar mata kanan anak ini (korban) dimakan oleh ibunya dan ini saya tanyakan langsung kepada ibunya saat kami pergoki ritual mereka" kata Bayu, paman korban pada Senin, (6/9/2021) di ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syech Yusuf, Sungguminasa Kabupaten Gowa.

Kepolisian Gowa, Sulawesi Selatan, masih melakukan pengusutan dugaan penganiayaan anak dimana mata seorang bocah 6 tahun dicongkel matanya oleh orangtuanya sendiri.

Aksi pencongkelan mata bocah perempuan berinisial AP itu dilakukan kedua orangtua korban untuk dijadikan sebagai tumbal pesugihan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara penyidik kepolisian diketahui bahwa orang tua korban melakukan secara sadar perbuatan itu.

Saat ini, ibu dan bapak korban yakni, TAU (45) dan HA (43) telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan Perlindungan anak CNNIndonesia(dot)com ( 7/9/2021)

Entah apa yang ada di pikiran sang ibu, hingga begitu tega melakukan tindakan biadab tersebut. Namun, ini adalah fakta yang terjadi di negeri ini. Kepercayaan terhadap kekuatan supranatural atau perdukunan demi memperkaya diri masih marak terjadi. Hingga dengan tega melakukan hal-hal di luar nalar manusia. Bahkan ini terjadi di era yang di klaim sebagai zaman sangat modern, serba mengedepankan akal.

Perilaku seseorang tergantung dari pemahaman dan pemikirannya

Dengan memilih jalan pesugihan, melakukan ritual di dekat pohon atau batu besar, makam, pantai, gunung dan tempat lainnya yang dianggap keramat. Bahkan, termasuk ritual di luar nalar manusia yaitu mengorbankan anggota keluarga. Sebab, orang yang bersangkutan yakin akan mendapatkan harta dengan jalan tersebut.

Meyakini sesuatu dengan pembenaran yang pasti di dalam hati, kemudian diucapkan dengan lisan, dan diaplikasikan dalam perbuatan adalah konsep akidah atau keimanan. Saat akidah seseorang salah atau rusak, maka selama itu pula akan lahir perilaku yang salah atau menyimpang. Akar permasalahan dari praktik pesugihan yang masih ada hingga saat ini adalah akibat rusaknya akidah.

Ada keyakinan kepada kekuatan selain Allah SWT, sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pemberi Rezeki dan Maha Pengatur seluruh kehidupan manusia. Sehingga, saat muncul permasalahan, seperti kesulitan ekonomi misalnya, sudah bekerja keras, namun tidak juga ada hasilnya, solusi yang dipilih adalah dari selain Allah SWT. Bahkan, ada yang melakukan praktik pesugihan sekedar untuk memenuhi hasrat ingin kaya. Mereka meyakini dengan banyak harta hidup menjadi bahagia.

Maka solusinya adalah mengembalikan kemurnian akidah umat. Hal ini dibutuhkan individu yang bertaqwa, individu yang memahami konsep diri, dia berasal dari Allah SWT, diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, dan kelak akan kembali kepada Allah SWT dengan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup.

Orang yang bertaqwa, bekerjanya dalam rangka ibadah, maka jalan yang ditempuh pun adalah yang halal. Sementara hasilnya adalah bagian dari rezeki yang telah Allah SWT tetapkan. Berapa pun jumlah dan bentuknya, tetap disyukuri agar membawa keberkahan. Karena, rezeki tidak hanya dalam bentuk materi.

Individu-individu bertaqwa berkumpul hingga terbentuklah masyarakat yang bertaqwa. Dengan akidah yang sama-sama kuat dan lurus, mereka akan menjalankan peran kontrol sosial dengan maksimal. Mereka tidak akan membiarkan ada individu yang melenceng dari akidahnya. Mereka juga tidak akan mendiamkan ada kemaksiatan muncul diwilayahnya karena mereka memahami adanya kewajiban dakwah amar makruf nahi mungkar. Adanya keyakinan bahwa balasan azab dari Allah SWT bukan hanya menimpa pelaku maksiat, namun juga akan menimpa siapa pun yang mendiamkannya.

Inilah indahnya hidup dalam sistem Islam, saling mengingatkan dalam kebaikan.

Mencegah kemungkaran atau kemaksiatan semata karena dorongan keimanan, juga demi menjaga wilayahnya dari azab Allah SWT.

Namun, individu dan masyarakat yang bertaqwa saja belumlah cukup. Butuh negara yang juga bertaqwa. Karena, akan sia-sia saat individu dan masyarakat bertaqwa, namun kebijakan yang diterapkan negara jauh dari upaya menjaga dan meningkatkan ketaqwa'an. Sia-sia saja saat individu dan masyarakat bertaqwa, namun negara menerapkan riba sebagai sistem ekonominya, membiarkan khamr merajalela. Pekerjaan haram dibiarkan, bahkan menjadi salah satu sumber pemasukan. Aliran kepercayaan yang jelas menyekutukan Allah SWT.

Hanya negara yang memiliki instrumen dan kewenangan mengeluarkan kebijakan dalam rangka menjaga ketaqwa'an individu dan masyarakat.

Sebagaimana hari ini, masyarakat patuh protokol kesehatan hingga vaksin selama pandemi covid-19 karena ada instruksi dari negara dan sanksi bagi yang melanggar. Meskipun fakta di lapangan banyak ditemukan masalah. Bahkan, banyak pihak menilai sebagai kebijakan yang banyak sekali ketimpangan. Hal ini karena aturan apa pun yang berasal dari manusia cenderung lemah dan terbatas.

Lantas, kebijakan apa yang mampu menjaga sekaligus mengingkatkan ketaqwa'an? Tidak lain adalah aturan yang datang dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Yang menciptakan manusia dan bumi dan seisinya. Yang mahatahu bagaimana mengatur apa yang Dia ciptakan. Hasilnya, bukan hanya praktik pesugihan yang akan lenyap, namun segala bentuk kemaksiatan pun akan sirna.

Jaminannya langsung datang dari Allah SWT. Seperti firman Allah SWT ;

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan ( TQS. A'raf ayat 96 )

Saatnya kita harus kembali pada sistem Islam kaffah. Agar keberkahan selalu diberikan oleh Allah SWT untuk ummat nya. Karena seluruh aturan dari Al-Quran dan As-sunah pasti akan sesuai dengan fitrah manusia.

Post a Comment for "Praktik Pesugihan, Akibat Pemikiran Sekuler"