Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membaca Skenario Penjarahan Harta Karun Afghanistan

Afghanistan. Meski dikelilingi oleh daratan (landlock), negeri kaum muslimin yang terlihat tandus nan gersang ini memiliki kekayaan alam berupa tambang dan mineral yang begitu melimpah, bahkan diantaranya adalah logam tanah jarang (rare earth). Maka tak ayal negara-negara besar seperti AS, Rusia, Cina menjadi ngiler lalu berebut mencaplok harta karun yang menggiurkan itu.

Oleh : Nurhayati Hakim (Aktivis Muslimah Mataram)

Baru-baru ini Afghanistan berhasil menyedot perhatian masyarakat dunia. Betapa tidak, kelompok Taliban yang dituduh sebagai organisasi teroris oleh sebagian kalangan berhasil menduduki ibu kota Afghanistan, Kabul (15/8) lalu.

Penaklukkan kelompok itu atas ibu kota menandai kembalinya kekuasaan Taliban atas Afghanistan setelah digulingkan selama 20 tahun akibat diinvasi pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya pada 2001 silam (kompas.com, 21/8/2021).

Dengan demikian, Taliban juga memegang kendali atas Sumber Daya Alam (SDA) Afghanistan yang melimpah dengan nilai sekitar 3 triliun dollar AS atau sekitar Rp 42.000 triliun.

Nilai tersebut ditaksir oleh mantan Menteri Kementerian Pertambangan dan Perminyakan Afghanistan yang lengser setelah Taliban berkuasa. Reuters mewartakan, SDA yang terkandung di bumi Afghanistan sangat beragam.

SDA tersebut meliputi tembaga, emas, minyak, gas alam, uranium, bauksit, batu bara, bijih besi, litium, kromium, timah, seng, batu permata, belerang, travertin, gipsum, marmer, dan lain-lain.

Bahkan AS telah memperkirakan bahwa cadangan litium Afghanistan dapat menyaingi cadangan di Bolivia, yang terbesar di dunia. Logam seperti besi, tembaga, dan emas, serta logam langka seperti litium merupakan elemen kunci dalam baterai isi ulang. Litium dan kobalt juga semakin diminati karena dunia mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi energi bersih lainnya untuk mengurangi emisi karbon (radarsukabumi.com, 21/8/2021).

Sayangnya, Afghanistan memiliki tantangan keamanan, kurangnya infrastruktur, dan kekeringan parah sehingga penambangan mineral paling berharga itu tidak mungkin dilakukan. Kemungkinan, situasi ini tidak bisa segera berubah setelah Taliban menguasai negara itu.

Namun demikian para pengamat mengatakan, meski situasi Afghanistan saat ini dikepung oleh kekacauan, tidak menyurutkan minat dari negara-negara seperti China, Pakistan, dan India, mencoba untuk terlibat dalam penambangan mineral ini.

Proxy War, Dibalik Penjarahan Harta Karun Afghanistan

Allah memang telah memberikan kekayaan alam yang begitu melimpah ke negeri-negeri kaum muslimin. Tak terkecuali Afghanistan. Meski dikelilingi oleh daratan (landlock), negeri kaum muslimin yang terlihat tandus nan gersang ini memiliki kekayaan alam berupa tambang dan mineral yang begitu melimpah, bahkan diantaranya adalah logam tanah jarang (rare earth). Maka tak ayal negara-negara besar seperti AS, Rusia, Cina menjadi ngiler lalu berebut mencaplok harta karun yang menggiurkan itu.

Karena itulah, negara-negara imperialis itu mendesain skenario sedemikian rupa agar Afghanistan secara internal terus bergolak sehingga mereka bisa tampil bak mitra terpercaya yang kemudian memberi solusi melalui lobi-lobi diplomasi maupun dengan berbagai perjanjian kerjasama, yang tak lain untuk menjarah potensi alamnya demi mengekalkan hegemoni dan kepentingan mereka.

Sebagaimana yang pernah dibeberkan oleh Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tiga tahun lalu, saat menghadiri Rapat Pleno ke-28 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia di Gedung MUI. Di acara itu, JK menyinggung keadaan negara-negara Islam di timur tengah yang dilanda konflik (kumparan.com, 6/6/2018).

Menurutnya, semua perang konflik datangnya dari luar. Bahkan dalam beberapa literatur disebutkan, ada suatu pengkondisian jika ingin negara barat maju, maka negara Islam harus berkonflik satu sama lain. Inilah yang terjadi di hampir semua negara yang berkonflik itu. Seperti di Suriah, Irak Yaman, Nigeria, termasuk Afghanistan dan Pakistan. Dari kondisi itu timbullah islamophobia.

Senada dengan JK, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin kala itu juga meyakini ada semacam skenario yang dibuat negara-negara barat untuk memecah Islam. Bahkan, ada ketakutan negara barat terhadap Islam apabila bangkit dan berjaya. Pasalnya, negara-negara Islam memiliki sumber daya manusia yang potensial mencapai 1,7 miliar orang, sumber daya alam melimpah, nilai-nilai, hingga pengalaman kesejarahan. Skenario semacam itu diyakini luas tak hanya kalangan Islam, tapi juga disebut dalam literatur barat sendiri seperti proxy war di timur tengah.

Maka tak heran negera imperialis seperti AS memanfaatkan posisi geopolitiknya yang mengklaim diri sebagai polisi dunia juga sebagai negara pengusaha (corporate state) yang salah satu sumber pemasukan terbesarnya adalah produksi alutsista, terus memelihara berbagai konflik dan peperangan yang terjadi didunia islam sambil meneriakkan Global War on Terrorism (GWOT) agar industri persenjataan mereka terus berjalan. Disamping tentu untuk menyuntikkan penyakit islamphobia kepada masyarakat dunia, melalui media massa kapitalistik sekuler besutan mereka.

Selain itu konflik yang dibuat oleh negara-negara imperialis tak lain bertujuan untuk menjarah kekayaan alam di negeri yang mereka rusak. Tak lupa pula menjarah proyek infrastruktur yang sudah hancur di negeri tersebut melalui investor-investor mereka dengan pemaksaan melalui berbagai macam perundingan dan lobi-lobi politik.

Hal ini menjawab mengapa rakyat Afghanistan, termasuk negeri-negeri kaum muslimin yang berkonflik lainnya harus hidup dalam kubangan kemiskinan. Menyedihkannya lagi, Afghanistan bahkan menjadi salah satu negara yang termiskin di dunia.

Mengakhiri Penjarahan Harta Karun Umat

Sesungguhnya kondisi yang terjadi di Afghanistan maupun di negeri-negeri kaum muslimin lainnya saat ini benar-benar menyayat hati. Kondisi ini diingatkan oleh Rasulullah Saw dalam hadits yang berbunyi,

“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan diatas piring,” Seorang sahabat berkata, “Apakah sedikitnya kami waktu itu ?,” Beliau Saw bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian seperti buih dilautan,” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Kondisi ini tak lain karena umat islam telah mengidap penyakit wahn yang mencintai dunia dan takut mati, akibat wabah sekulerisme yang diciptakan barat. Disamping tentu juga karena terpecah belahnya umat islam menjadi lebih dari lima puluh negara pasca keruntuhan Khilafah Islam di Turki pada 3 Maret 1924 silam.

Umat menjadi kehilangan kekuatan dan wibawanya, hingga menjadi hina dalam tawanan negara-negara imperialis dibawah perang kepentingan AS, Rusia, Cina dan PBB. Serta terkurung oleh sekat nasionalisme yang menyebabkan mereka tanpa sadar, masuk dalam perangkap konflik-konflik internal yang diciptakan hingga abai terhadap skenario penjarahan sumber daya alam negeri mereka.

Bahkan kini kepemimpinan Taliban berada dibawah tekanan internasional yang besar untuk menerima penyelesaian yang dipaksakan AS di Afghanistan, yang berarti semacam pembagian kekuasaan dengan rezim sebelumnya dan banyak elemen kunci di dalamnya. Maka campur tangan kekuatan asing ini tidak akan pernah mengarahkan pada stabilitas dan kemajuan. Melainkan akan terus membuat umat miskin dan bergantung.

Oleh karena itu, sudah seharusnya umat sadar dan mencampakkan berbagai sistem rusak tawaran barat seperti kapitalisme, demokrasi, sekulerisme, liberisme dan ide-ide turunannya yang telah nyata menciptakan konflik berkepanjangan. Tidak hanya di Afghanistan, bahkan dinegeri-negeri muslim yang lain. Kemudian berjuang mewujudkan Khilafah Islam yang akan menjadi perisai kaum muslimin dan mengelola harta kekayaan alam milik umat berasas syariat bukan berasas kepentingan timur dan barat. Wallahu’alam.

1 comment for "Membaca Skenario Penjarahan Harta Karun Afghanistan"

  1. Hanya dalam sistem khilafah kekayaan kaum Muslim diolah dengan sebaik-baiknya

    ReplyDelete